Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

BPBD Gelar Pelatihan Bangun Rumah Tahan Gempa

21 Juni 2019, 13: 10: 59 WIB | editor : Perdana

PEMBEKALAN KEAHLIAN: Sejumlah pekerja bangunan mengikuti pelatihan mendirikan rumah tahan gempa di Desa Kragilan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, kemarin (20/6).

PEMBEKALAN KEAHLIAN: Sejumlah pekerja bangunan mengikuti pelatihan mendirikan rumah tahan gempa di Desa Kragilan, Kecamatan Gantiwarno, Kabupaten Klaten, kemarin (20/6). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Masih segar di ingatan, bencana dahsyat gempa bumi dengan kekuatan 5,9 sekala richter (SR) yang melanda sejumlah kecamatan di Klaten, 2006 silam. Ribuan warga dan bangunan terdampak bencana gempa tersebut. Nah, meminimalkan rumah roboh akibat gempa, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten menggelar pelatihan. Melibatkan 60 tukang bangunan dari Kecamatan Wedi, Gantiwarno, dan Bayat. Dilatih membangun rumah tahan gempa di Desa Kragilan, Gantiwarno.

Kepala Bidang (Kabid) Rehabilitasi dan Rekonstruksi, BPBD Klaten Ahmad Wahyudi menjelaskan, pelatihan ini merupakan bagian dari persiapan pascabencana. Pulukan pekerja ini dilatih membangun rumah dengan standar tahan gempa. Mengingat kawasan Kecamatan Gantiwarno dan Wedi memiliki potensi kerusakan cukup besar saat gempa 2006 silam.

Pelatihan digelar di Aula Balai Desa Kragilan sejak 19 Juni. Menghadirkan narasumber Prof. Sarwidi dari Universitas Islam Indonesia (UII) Jogja. Sedangkan pelatihan hari kedua, kemarin (20/6) dititik beratkan pada praktik membangun rumah tahan gempa dengan membuat kamar mandi.

Kunci utama rumah tahan gempa, terletak pada penguatan besi tulang bangunan yang saling mengait. Termasuk struktur bangunan secara keseluruhan. Seperti bagian dinding hingga atap. Selama ini, robohnya dinding rumah merupakan risiko terbesar, dampak bencana gempa bumi.

”Termasuk material atap yang digunakan. Harus dipilih yang ringan. Semakin ringan, semakin bagus. Contohnya baja ringan dan galvalum. Tetapi perlu dipikirkan untuk bencana lainnya, seperti puting beliung. Apakah kuat menahan angin yang kencang?” terang Wahyudi kepada Jawa Pos Radar Solo.

Kunci lainnya, yakni pada ukuran besi yang digunakan. Harus berdiameter 12 mm untuk pembuatan tulangan bangunan. Knstruksi antartulang kolom bangunan harus saling mengait. Diakui BPBD, belum seluruh hunian memperhatikan risiko gempa bumi. Untuk itu, Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perwaskim) Klaten wajib ikut menyosialisasikan kepada masyarakat luas. Mengingat Klaten termasuk daerah rawan gempa.

Peserta pelatihan asal Desa Kragilan, Gantiwarno Sri Mulyono, 58, sudah puluhan tahun jadi tukang bangunan. Dia sudah memahami bagaimana membuat hunian sederhana tahan gempa. Karena sebelumnya pernah mengikuti program rehabilitasi dan rekonstruksi perumahan.

”Membangun rumah sederhanan tahan gempa bumi, fondasi lantai 1 perlu minimal sedalam 60 cm. Tetapi juga perlu dilihat lagi, bagaimana struktur tanahnya. Apakah labil atau tidak,” bebernya.

Selan itu, lanjut Sri Mulyono, perlu adanya pengait tambahan yang ditarik 20-40 cm ke masing-masing sisi. Harapannya ketika terjadi goncangan akibat gempa, bisa saling memperkuat satu sama lainnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia