Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Features

Mengenal Lebih Dekat Komunitas Noda Kota Solo

Tepis Anggapan Miring Grafiti

23 Juni 2019, 06: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Mengenal Lebih Dekat Komunitas Noda Kota Solo

Di beberapa sudut Kota Bengawan kini makin cantik dengan goresan gambar dan tulisan berwarna-warni. Tak hanya sekadar gambar dan tulisan. Lebih dari itu, karya seni tersebut memiliki makna dan arti. Beberapa di antaranya merupakan karya tangan kreatif Komunitas Noda Kota,

ORANG mengenalnya dengan istilah grafiti. Namun sayang, masih banyak persepsi miring melihat cat semprot diaplikasikan ke tembok. Tak sedikit anggapan yang menilai negatif lantaran mengidentikan grafiti dengan vandalisme.

”Tapi semua itu masih bisa diperbaiki kok dengan cara membuat event. Exhibition atau event atraktif (art perfomance) bisa sebagai media kepada masyarakat Kota Solo kalau grafiti itu tak sekadar coretan biasa. Keterbatasan tempat legal atau ruang publik untuk pameran membuat sulit bagi kami untuk mengenalkan kepada masyarakat kalau menggambar dengan cat semprot atau di dinding tak seburuk itu. Masih ada grafiti yang sifatnya mengedukasi dan menjadi peranan pendukung tata kota,” kata salah seorang crew Noda Kota, Muhammad Alfian ‘Chiko’ Nur kepada Jawa Pos Radar Solo.

Grafiti, lanjutnya, lebih condong ke tulisan dekoratif dengan aksen berbagai warna yang berada di sudut setiap kota. Grafiti dibuat untuk menunjukan eksistensi diri, team, dan lain sebagainya. Zaman sekarang grafiti masuk ke kategori seni modern dengan teknisnya memakai cat semprot.

”Kontennya pun tidak melulu tulisan saja, bisa juga character, mural, realis, karikatur, dan banyak lagi. Dan untuk membuatnya, pelaku grafiti harus mempertimbangkan komposisi gambar dan space-nya (tembok) supaya lebih dapat hasil yang maksimal,” imbuhnya.

Chiko mengaku Kota Bengawan termasuk kota yang belum open-minded terhadap eksistensi writer, sebutan bagi pembuat grafiti. Mungkin ini disebabkan keterbatasan tempat yang legal atau event-event anak muda yang jarang ada.

”Ini membuat satu sama lain writer kurang mengenal. Masih banyak street artist yang banyak dikenal di luar kota tapi tidak dikenal di kotanya sendiri,” sambungnya.

Namun semakin ke sini, lanjut Chiko, perkembangan writer di Kota Bengawan relatif stabil. Pertumbuhan regenerasi juga semakin banyak. Gambar yang dibuat pun semakin berkualitas. Meski ada pula beberapa yang sudah memilih untuk vacum menggambar.

“Kalau ditanya writer ini sebuah profesi atau hobi, saya menjawab awalnya kami menekuninya sebagai hobi. Namun tidak menutup kemungkinan bisa menjadi salah satu peluang bisnis. Mengingat banyaknya pelaku grafiti yang membutuhkan alat-alat yang mungkin belum banyak tersedia di Kota Solo,” jelasnya.

Chiko sendiri terjun di dunia grafiti sejak 2006 dan mulai menekuninya mulai 2007. Lucunya, Chiko tidak ada ketertarikan di bidang menggambar. Bahkan tidak memiliki basic menggambar sebelumnya.

“Alasan saya bisa bertahan di dunia street art karena saya dapat menemukan hal-hal baru, wawasan, dan pengalaman yang luar biasa. Bahkan Alhamdulillah dari sini saya banyak mendapat teman berbagai daerah hingga teman dari luar negeri,” tandasnya. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia