Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Komunitas Noda Tak Sembarangan Rekrut Anggota

23 Juni 2019, 12: 25: 59 WIB | editor : Perdana

Komunitas Noda Tak Sembarangan Rekrut Anggota

Dulu orang yang suka menggambar grafiti disebut nge-bomb. Mereka sempat dipanggil bomber. Namun, istilah itu sudah tidak dipakai lagi sekarang. Sebutan barunya adalah writer. Perjalanan seorang writer dihiasi dengan berbagai pengalaman. Terlebih untuk menggambar dengan media tembok memerlukan cuaca yang cerah. Kalau cuaca tidak mendukung, mau tidak mau proses menggambar harus berhenti.

”Pernah pas gambar tiba-tiba hujan. Kalau udah hujan ya berteduh dulu, nunggu sampai terang. Kalau enggak terang ya lanjut gambar besoknya. Kami butuh waktu paling lama sekitar dua hari. Tapi tergantung besarnya gambar. Paling cepat dua jam sudah selesai,” kata salah seorang crew Noda Kota, Ricky Aji Pradana kepada Jawa Pos Radar Solo.

Meski sama-sama dilakukan di tembok, grafiti dan mural adalah dua karya seni yang berbeda. Bedanya, lanjut Ricky, dilihat dari alatnya. Grafiti harus menggunakan cat semprot. Sedangkan mural, menggunakan kuas dan cat.

”Sekarang sudah banyak yang menerima grafiti. Tapi ada juga beberapa yang belum menerima grafiti. Mau diterima atau tidak, menurut saya, enggak masalah. Karena kalau kita pengen gambar ya gambar aja. Enggak usah ngurus yang lain,” kelakarnya.

Ricky memaklumi hal tersebut, sebab grafiti awalnya juga berasal dari vandalisme. Namun sekarang ini ada juga pelaku grafiti yang tidak melakukan vandalisme dengan cara mengajukan izin kepada pemilik tembok sebelum menggambar.

“Sebenarnya banyak banget space-nya. Ada yang izin, ada yang enggak juga. Soalnya kalau izin ya susah-susah gampang. Ada masyarakat yang suka, ada yang enggak,” imbuhnya.

Ricky melihat tren grafiti saat ini semakin meningkat. Terlebih sekarang sudah ada grafiti store di Kota Bengawan. Jadi para writer tidak lagi kesulitan membeli peralatan grafiti.

”Ngga kayak dulu harus beli di luar kota,” sambungnya.

Crew Noda Kota saat ini sebanyak 20 anggota. Tapi hanya 10 anggota saja yang sampai sekarang masih aktif menggambar. Ricky mengungkapkan Noda Kota bisa saja menambah anggota baru. Tapi tidak sembarangan merekrut anggota.

”Kami lihat dari konsisten menggambarnya dan attitude-nya juga kami pertimbangkan. Kebetulan aku juga bukan anggota lama. Baru 2017 lalu aku gabung Noda Kota,” katanya.

Kalau ditanya soal kegiatan yang dilakukan crew Noda Kota, jangan dibayangkan kesibukannya hanya menggambar setiap hari. Ricky menyebut crew Noda Kota justru sering berkumpul di wedangan untuk membahas berbagai macam hal.

”Ya kadang bahas soal gambar, tapi kami juga sering kok bahas hal-hal random,” kelakarnya. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia