Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Melihat Kondisi Taman Cerdas di Kota Bengawan

24 Juni 2019, 15: 51: 53 WIB | editor : Perdana

Melihat Kondisi Taman Cerdas di Kota Bengawan

KOTA Solo memiliki sejumlah fasilitas untuk memaksimalkan pelayanan dan membangun ruang terbuka untuk interaksi anak. Salah satunya dengan berbagai taman cerdas di berbagai kelurahan. Dari 13 taman cerdas, belum seluruhnya masuk standar ruang bermain ramah anak. Seperti apa kondisinya. Berikut penelusuran Jawa Pos Radar Solo. 

KEBERADAAN taman cerdas awal muncul sejak era kepemimpinan Joko Widodo yang saat itu menjabat wali kota Solo pada 2000. Prioritas program ini di tengah-tengah perkampungan padat penduduk yang banyak dinaungi penduduk usia anak.  

Akhirnya pada 2007-2008, enam taman cerdas siap dibuka. Mulai dari Taman Cerdas Pajang, Sumber, Kadipiro, Mojosongo, Joyontakan, dan Gandekan. Pada tahun-tahun selanjutnya muncul ikon-ikon baru, seperti Taman Cerdas Soekarno-Hatta Jebres dan Taman Cerdas Nusukan. 

Taman Cerdas Soekarno-Hatta dulu belum semegah seperti kondisinya sekarang. Berbagai wahana dan fasilitas penunjang pendidikan yang kerap dimanfaatkan berbagai masyarakat terbilang lengkap. 

Masuk dari pintu utama, pengunjung dihadapkan dengan bangunan bertingkat. Digunakan sebagai kantor pengelola sekaligus ruang perpustakaan dan gamelan. Pengunjung dapat mengakses segala informasi dari sejumlah komputer yang disediakan. 

Jika bosan, pengunjung dapat memanfaatkan wahana permainan di depan kantor pengelola. Sejumlah mini gasebo di selatan wahana permainan dapat jadi alternatif terbaik untuk melepas lelah di taman cerdas tersebut. 

“Kebetulan beberapa kali sama anak sering main ke sini. Fasilitasnya memang beda dengan taman cerdas di kampung saya. Di sini lebih bagus,” ujar Syarif, 38, warga Kebonan, Kelurahan Gandekan, Jebres ditemui di lokasi.

Banyaknya wahana permainan dan fasilitas penunjang lain seperti panggung terbuka dan lainnya menjadi daya tarik lebih bagi sebagian masyarakat untuk datang ke Taman Cerdas Soekarno-Hatta. 

“Kalau kegiatannya sih sebenarnya hampir sama dengan Taman Cerdas Gandekan, cuman fasilitasnya yang beda. Kalau bisa semua taman cerdas bisa sebaik ini,” kata Syarif.

Pada malam hari, lokasi ini menjadi lokasi favorit warga sekitar untuk menghabiskan waktu luang bersama keluarga. “Kunjungan per hari itu bisa sampai 800 orang. Kalau hari libur bahkan sampai 1.000 orang masuk taman cerdas. Apalagi kalau ada kegiatan di sini, bisa lebih banyak. Waktu operasional pukul delapan pagi hingga sebelas malam,” ujar pengelola Taman Cerdas Soekarno-Hatta, Hari Sapto.

Berbeda dengan Taman Cerdas Gandekan yang termasuk proyek awal dibangun 2008.

Di kompleks taman cerdas yang tak jauh dari Kelurahan Gandekan itu, koran ini mendapati pagar taman cerdas telah tertutup rapat tanpa ada aktivitas sedikitpun. Padahal, waktu itu baru menunjukkan pukul 17.00. 

“Kalau di sini memang sengaja ditutup pukul 17.00 WIB. Jadi memang tidak sampai malam,” kata Sartoto, 57, petugas kebersihan Taman Cerdas Gandekan.

Sartoto mengatakan, kondisi taman cerdas saat ini terbilang baik lantaran baru ada pembenahan sejumlah sarana dan prasarana. Apalagi, sepanjang tahun ini, kompleks taman cerdas itu tak pernah sekalipun kebanjiran. 

“Dua hingga tiga tahun lalu kalau banjir masuk taman cerdas, ketinggian air bisa sampai 150 centimeter. Tapi tahun ini sama sekali tidak banjir,” ujar dia.

Namun ada beberapa fasilitas perlu perhatian. Seperti wahana permainan kondisinya kini memprihatinkan. Sejumlah besi penyambung di ayunan setempat mulai berkarat hingga membentuk rongga keropos. Kondisi tersebut hampir terlihat di seluruh wahana permainan di lokasi tersebut. Bahkan kondisi beberapa wahana cukup parah. “Kami sudah lapor ke kelurahan kalau soal wahana ini,” kata dia.

Meski demikian, Taman cerdas seluas 600 meter persegi itu tetap jadi daya tarik tersendiri bagi anak-anak Gandekan. Meski jam operasional hanya sampai sore hari, anak-anak kampung setempat tetap rutin mengikuti berbagai pembelajaran di sana. 

“Anggaran taman cerdas memang terbatas. Untuk perbaikan fasilitas pada 2020 akan diajukan anggaran perbaikan. Termasuk membangun pendapa,” ujar Lurah Gandekan Arik Rahmadani.

Dia menyadari bahwa Taman Cerdas Gandekan merupakan di antara taman cerdas paling awal dibuat oleh pemkot. Karena itu dia memaklumi jika fasilitas minim dibanding beberapa taman cerdas yang dibangun beberapa tahun terakhir. 

“Saya pikir pembangunan taman cerdas itu kan disesuaikan dengan kapasitas lahan masing-masing. Jadi tidak masalah mau seperti apa. Yang paling penting fungi dari taman cerdas tetap bisa di jalankan,” ujar Arik.

Salah satu yang membuat dia cukup lega, lantaran berbagai kegiatan di taman cerdas tetap dapat digelar secara rutin. Mahasiswa dari berbagai kampus di Kota Benagawan kerap menggelar pembelajaran di Taman Cerdas Gandekan. Bahkan sesekali bekerja sama dengan kelurahan dalam menyusun berbagai perlombaan tingkat anak di bidang edukasi. 

“Mereka ini rutin seminggu dua hingga tiga kali mengajar di taman cerdas. Dan tidak jarang membantu kami dalam menyusun berbagai lomba seperti cerdas cermat beberapa waktu lalu,” kata Arik.

Koordinator Solo Mengajar Kelurahan Gandekan, Aldes mengaku senang bisa berinteraksi dengan anak-anak Kampung Gandekan. “Kalau kami biasanya tiap Selasa dan Kamis antara pukul 19.00-20.00. Kegiatan soal pelajaran di sekolah dan sesi kreativitas. Nanti tiap bulan sekali saat weekend biasanya ada kegiatan bersama,” ujar dia.

Kegiatan di Taman Cerdas Pajang juga tak jauh berbeda dengan Taman Cerdas Gandekan. Lahan yang tak begitu luas dimanfaatkan untuk ruang perpustakaan dan IT. Sementara di halaman luar, anak-anak kampung setempat bebas mengakses semua wahana permainan yang disediakan.

Sore itu, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam Komunitas Solo Mengajar tampak berinteraksi dengan anak-anak kampung setempat. “Kalau di taman cerdas ini kegiatannya tiap Rabu dan Jumat sore. Biasanya kami tawarkan dulu untuk mengerjakan PR bersama. Kalau sudah baru kita permainan,” terang Koordinator Solo Mengajar Taman Cerdas Pajang, Thalita.

Sebagai orang luar yang masuk ke kampung setempat dia merasa senang dapat diterima dengan baik oleh warga. “Di sini kadang kami juga jadi pihak yang menjembatani kalau ada anak murung karena ada masalah dengan orang tua. Untungnya sejauh ini orang tua bisa menerima masukan kami,” ujar Thalita.

Meski anggaran dan fasilitas penunjang masih terbatas, pengelola berharap ada perbaikan dan pengoptimalan ke depan. “Komputernya hanya satu dan sudah sering rusak. Kalau koleksi buku di perpustakaan masih baik,” ujar Pengelola Taman Cerdas Pajang Bidang Kebersihan, Imam Subekti Widodo.

Dia menjelaskan, sejak dibangun 2008. taman cerdas yang memakai lahan bekas rumah sakit lepra itu menjadi ruang bermain untuk anak-anak kampung setempat. “Operasionalnya sejak pagi sampai Magrib. Sengaja kami batasi karena dulu sempat ada masalah anak-anak main di sini untuk internetan. Makanya diambil kebijakan untuk dibatasi agar anak bisa belajar di rumah,” kata dia.

Disinggung soal sejumlah sarana dan prasarana yang perlu perbaikan, Widodo berharap pemerintah bisa mengoptimalkan fungsi taman cerdas dengan peremajaan wahana permainan, koleksi buku baru, atau teknologi IT yang lebih canggih. Dengan demikian, taman cerdas tersebut tak akan tertinggal dari taman cerdas yang dibangun baru-baru ini. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia