Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Kepala Bapermas PA: Belum Penuhi Standar, Perlu Upgrade

Terkait Taman Cerdas

24 Juni 2019, 16: 03: 49 WIB | editor : Perdana

Kepala Bapermas PA: Belum Penuhi Standar, Perlu Upgrade

KEPALA Bidang Perlindungan Anak Bapermas Kota Surakarta Suharti membenarkan bahwa tidak semua taman cerdas di Kota Solo memenuhi standar ruang bermain ramah anak seperti yang telah ditetapkan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Republik Indonesia. 

“Ada dua cara memandang soal keberadaan ruang publik ramah anak di Solo. Kalau untuk taman cerdas memang belum ada standarnya. Yang ada itu adalah ruang bermain ramah anak,” ujar dia, Minggu (23/6).

Pada 2017 lalu, Pemkot Solo sempat mendapat evaluasi dari kementerian terkait soal ruang bermain ramah anak. Kala itu, ada sejumlah lokasi yang diajukan seperti Taman Cerdas Jebres, Taman Monumen Banjarsari (Monjari, Red), dan Taman Jawa Wijaya. Hasilnya, Taman Cerdas Jebres yang lengkap dengan berbagai fasilitas masih belum memenuhi standar. Sementara Monjari dan Taman Jaya Wijaya perlu dioptimalkan.

“Kenapa Teman Cerdas Jebres tak masuk kualifikasi, karena ruang bermain ramah anak itu harus murni untuk ruang bermain dan fasilitas penunjang lainnya, tanpa ada fasilitas internet yang ditawarkan pengelola. Nah, yang masuk kriteria itu Monjari dan Taman Jaya Wijaya,” beber Suharti.

Ditambah fasilitas pengamanan seperti standar pagar, alas, maupun CCTV di wilayah setempat. Hasilnya, pada 2018, Taman Monjari lolos kriteria dan mendapatkan sertifikasi untuk ruang bermain ramah anak dari kementerian. Hingga saat ini, pemkot masih mengupayakan agar Taman Jawa Wijaya bisa menyusul stastus Monjari.

Lantas bagaimana dengan taman cerdas? Menurut dia, filosofi dan konsep yang disematkan di taman cerdas dan ruang bermain ramah anak itu berbeda. Seperti tujuan awal, taman cerdas dibuat untuk memberikan ruang-ruang pembelajaran di permukiman kumuh dan padat penduduk agar dapat merasakan pemerataan seperti anak-anak lainnya. 

Misalnya jika sekolah dasar di sana masih belum ada internet, maka anak-anak dapat memanfaatkan layanan internet gratis di taman cerdas itu. Nah, dengan demikian memang ada perbedaan mendasar soal ruang bermain ramah anak dengan taman cerdas. 

“Konsep taman cerdas itu dibangun di atas tanah milik pemerintah di lingkungan kumuh dengan fasilitas ruang perpustakaan, ruang informasi teknologi (IT), panggung seni kreatif, dan taman bermain yang dipergunakan gratis. Konsep ini berbeda dengan Monjari dan Taman Jaya Wijaya yang sifatnya lebih terbuka,” terang Suharti. 

Mengingat 13 taman cerdas yang telah berdiri ini belum berstandar ruang bermain Ramah anak, pihaknya telah mencari solusi terbaik dengan cara mulai memikirkan persamaan-persamaan yang ramah anak untuk pembangunan taman cerdas selanjutnya. 

Mulai dari DED (desain engineering design) hingga pemanfaatan dan konsep ke depan. Seperti yang juga diterapkan pada pembangunan Taman Cerdas Kerten saat ini dan penyusunan DED Taman Cerdas Jayengan dan Karangasem. 

“Tahun ini sudah ada 13 taman cerdas di Solo. Rencananya ke depan akan ada 22 taman cerdas. Jadi masih akan ada sembilan taman cerdas yang akan dibangun. Nanti diarahkan ke ramah anak dan difabel. Kalau soal bagaimana 13 taman cerdas yang sudah ada, mungkin memang perlu untuk di-upgrade fasilitasnya,” kata Suharti.

Ketua Komisi I DPRD Kota Surakarta Budi Prasetyo membenarkan bahwa taman cerdas awal yang dibangun pada 2008 memang perlu mendapat perhatian. Salah satunya adalah bagaimana fungsi atau peran taman cerdas sejak dibangun hingga hari ini dapat berlangsung baik dan memenuhi konsep dan cita-cita pendiriannya. 

“Harusnya ada evaluasi secara berkala. Jadi kebutuhan atau kendala di lapangan itu dapat dipetakan dengan baik dan bisa segera dicari solusinya,” ujar dia.

Yang cukup baik dilakukan adalah menengok kondisi terkini enam taman cerdas pertama seperti Taman Cerdas Joyontakan, Gandekan, Sumber, Pajang, Kadipiro, dan Mojosongo. Taman cerdas awal ini tentu persiapannya tidak sematang taman cerdas yang baru. Karena itu harus ada evaluasi dari segi pengelolaan, pengembangan dan inovasi, yang akhirnya bisa berdampak pada pelayanan yang makin optimal. “Mau tidak mau faktanya memang taman cerdas yang lama tidak sebagus taman cerdas yang baru,” tutur Budi. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia