Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Pengelolaan Desa Wisata Belum Maksimal

24 Juni 2019, 16: 08: 26 WIB | editor : Perdana

PAMERKAN POTENSI: Aneka peralatan permainan tradisional dipajang di depan booth Desa Sidowayah, Polanharjo, dalam pameran di TWC Prambanan, kemarin (23/6).

PAMERKAN POTENSI: Aneka peralatan permainan tradisional dipajang di depan booth Desa Sidowayah, Polanharjo, dalam pameran di TWC Prambanan, kemarin (23/6). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Pengembangan desa wisata di Kabupaten Klaten dinilai belum dikelola secara optimal. Karena dalam pengelolaanya masih minim infrastruktur pendukung. Apalagi hingga saat ini, desa wisata belum menjual paket destinasi kepada wisatawan. Hanya sekadar menawarkan objek wisata saja.

Hal ini dikemukakan Kasi Pengelolaan Pengembangan Daya Tarik Sarana Wisata Bidang Pariwisata, Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten Ahmad Susanto. Di sela pameran wisata di Taman Wisata Candi (TWC) Prambanan, kemarin (23/6).

”Kalau kita bicara Klaten yang mengusung konsep kawasan, rasanya belum ada. Pengembangan desa wisata masih sendiri-sendiri. Padahal antardesa wisata, seharusnya bisa saling melengkapi. Bisa dibuat jadi sebuah paket wisata menarik,” jelas Ahmad kepada Jawa Pos Radar Solo.

Pengembangan desa wisata di Klaten hanya mengandalkan beberapa objek saja. Padahal konsep desa wisata itu lebih kepada, bagaimana membuat wisatawan betah dan berniat balik lagi. Tentunya dengan paket destinasi yang ditawarkan. Pada akhirnya, uang yang dikeluarkan wisatawan dapat mendongkrak perekonomian desa wisata tersebut.

”Misalnya masuk ke objek wisata yang dimiliki desa itu hanya Rp 2.000. Maka pendapatan yang diperoleh ya segitu saja. Beda lagi kalau ada paket wisata, wisatawan tinggal lebih lama. Sehingga pendapatan yang diterima lebih dari itu,” beber Ahmad.

Seharusnya, antardesa wisata bisa saling bekerja sama dalam membangunan kawasan. Harapannya potensi yang ada di masing-masing desa bisa saling melengkapi. Ambil contoh Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo dengan Desa Gunung Gajah, Kecamatan Bayat. Bisa dibuat dalam satu paket.

”Jadi ketika wisatawan datang ke Ponggok, tidak hanya berwisata air saja. Tetapi ada paket wisata ke Bukit Cinta di Desa Gunung Gajah. Potensi bukit ini tidak dimiliki Ponggok, sehingga bisa saling melengkapi,” jelasnya.

Sementara itu, Kabid Ekonomi, Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Klaten Sri Purwanto menambahkan, potensi yang ada kurang digali. Serta belum ditunjang infrastruktur memadai sebagai desa wisata.

”Saya kira masih perlu pendampingan dari Disparbudpora Klaten. Apalagi branding sebagai desa wisata juga masih kurang maksimal. Saya lebih melihat destinasi wisata yang ditawarkan terkesan sama semua,” papar Purwanto. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia