Minggu, 21 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

ACT Beri Penghargaan Legenda Voli Indonesia, Pascal Wilmar

26 Juni 2019, 12: 40: 59 WIB | editor : Perdana

PEDULI: Tim Program ACT Dayani (kiri) beri penghargaan kepada Pascal Wilmar.

PEDULI: Tim Program ACT Dayani (kiri) beri penghargaan kepada Pascal Wilmar.

Share this      

JAKARTA – Tim Global Zakat-ACT memberikan tanda penghargaan kepada atlet veteran Indonesia di daerah Serpong, Tangerang Selatan. Yakni legenda voli Indonesia Pascal Wilmar. Berupa bantuan dana yang merupakan program lanjutan tahap kedua.

Bantuan ini hasil kerja sama Aksi Cepat Tanggap (ACT) bersama Kitabisa.com dan Grab Indonesia yang pertama kali diberikan pada April lalu. Program ”Penghargaan Atlet Veteran Tahun 2019” bertujuan untuk menghargai perjuangan para atlet veteran yang telah mengharumkan nama bangsa. 

Pascal Wilmar memulai karir sebagai atlet voli di usia 17 tahun. Awalnya berlatih di Akademi Maluku, hingga akhirnya menembus Universiade. Olimpiade untuk mahasiswa dari seluruh dunia pada 1991 di Inggris dan 1993 di Amerika Serikat.

Pengalaman paling berkesannya adalah menyumbang emas untuk tanah air pada SEA Games 1993 di Singapura. Setelah pensiun, dia membina Klub Maluku tanpa dibayar. ”Saya bisa jadi pemain karena latihan yang mereka berikan, atas motivasi yang mereka berikan. Akhirnya saya punya niat, tidak mau dibayar. Tapi saya bantu anak-anak (Klub Maluku, Red) ini. Walaupun mereka tidak menjadi pemain nasional, kalau mereka bisa bermain bagus, setidaknya bisa masuk SMA dan kuliah dengan jalur prestasi,” terang Pascal kepada tim Global Zakat-ACT. 

Banyaknya fenomena veteran hidup sulit pascapensiun. Pascal melihat masalah ini dari perspektif lain. Ia menilai perlu adanya pembinaan dan pendidikan, di samping menjadi atlet. Oleh karenanya, sembari melatih, dia terus membina dan memotivasi para pemainnya untuk melanjutkan pendidikan.

”Kita boleh saja olahraga, tapi lebih baik kalau dua-duanya berjalan. Karena ada sekolah yang bisa beri kita dispensasi. Ada beasiswa, ambil. Karena masa depan tergantung dari diri kita juga,” ujar Pascal. 

Setelah pensiun, Pascal sempat menduduki posisi Project Manager di sebuah perusahaan teknologi. Tapi dia memilih kembali ke dunia voli. ”Saya coba jadi pelatih selama dua minggu, kemudian kok lebih dapat feel-nya, dapat passion-nya. Ya sudah, resign. Padahal dalam hati bertanya sendiri, kok saya bisa nekat sekali? Tapi ya sudah, dari voli saja saya bisa hidup. Hal ini karena saya menjalaninya dengan kenikmatan, dengan keikhlasan,” kata Pascal.

Di sisi lain, Pascal ikut prihatin atas kehidupan atlet veteran lainnya. ”Mungkin kalau di sini (kota besar, Red), cukup. Tetapi kita tahu sendiri, di luar daerah juga banyak mantan atlet nasional yang prasejahtera. Di sini mereka bisa hidup cukup, tapi begitu mereka pulang kampung, agak susah mencari pekerjaan baru. Saya berterima kasih atas bantuan dari Global Zakat, Grab, dan Kitabisa.com ini,” bebernya.

Tim Program ACT Dayani mengamini harapan Pascal. ”Semoga penghargaan ini dapat menambah kebahagiaan para atlet veteran. Terlebih khususnya Pascal Wilmar. Semoga dalam melatih atlet muda dapat meningkatkan bibit unggul untuk Indonesia ke depannya. Selain itu, semoga ada lebih banyak lagi perusahaan yang bekerja sama dengan ACT. Dapat terus memberikan penghargaan kepada para mantan atlet,” ucapnya. (adv/fer)

(rs/fer/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia