Minggu, 17 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Penerapan Zonasi PPDB Banjir Kritikan

26 Juni 2019, 15: 20: 59 WIB | editor : Perdana

TERTIB: Pelaksanaan verifikasi berkas dan pengambilan token PPDB di SMAN 1 Prambanan, kemarin. 

TERTIB: Pelaksanaan verifikasi berkas dan pengambilan token PPDB di SMAN 1 Prambanan, kemarin.  (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA menerapkan tiga jalur pendaftaran. Persentasenya 90 persen zonasi, 5 persen jalur prestasi di luar zonasi, dan sisanya jalur pindah tugas orang tua. Penerapan persentase ini banyak dikeluhkan calon siswa baru. Karena peluang mereka diterima di sekolah di luar zonasi kecil.

Aan Bagus Saputro, 15, warga Desa Leses, Kecamatan Manisrenggo seorang di antaranya. Impian lulusan SMPN 3 Manisrenggo itu sekolah di Surabaya, Jawa Timur pupus. Dia khawatir jika nekat mendaftar di Surabaya, peluang diterima kandas.

”Rencananya tinggal sama nenek sekalian lanjutkan SMA di Surabaya. Tapi karena ada zonasi seperti ini, tidak jadi ke sana. Kalau nekat mendaftar di sana, takutnya tidak diterima,” beber Aan kepada Jawa Pos Radar Solo di sela verifikasi data PPDB di SMAN 1 Prambanan, kemarin (25/6).

Aan juga mengeluhkan sistem zonasi pada PPDB kali ini yang terbilang ribet. Banyak tahapan yang harus dilalui calon siswa. Mulai dari verifikasi berkas hingga pengambilan token untuk pendaftaran PPDB, 1 Juli mendatang. Dia berharap tahapannya dapat disederhanakan lagi.

Kritikan juga datang dari para orang tua calon siswa. Sulis Haryaka, 54, mengaku peluang buah hatinya diterima di SMAN 1 Klaten cukup besar. Namun dia menyebut persentase 70 persen jalur zonasi murni dan 20 persen jalur zonasi siswa berprestasi terlalu mencolok.

Sulis menilai, alangkah baiknya PPDB berpatokan pada nilai dan prestasi dari calon siswa baru. Hal ini akan memacu anak untuk lebih semangat dalam belajar. 

”Saya melihatnya kurang adil. Apalagi buat anak-anak yang sebelumnya sudah capek belajar mengejar prestasi. Peluangnya untuk diterima di sekolah favorit jadi kecil karena tidak masuk zonasi. Sehingga membuat anak menjadi down,” bebernya.

Sementara itu, Ketua Panitia PPDB SMAN 1 Klaten Aris Sutaka menjelaskan, pihaknya masih berpedoman pada aturan persentase jalur pendaftaran yang diterapkan. Aturan persentase ini juga diterapkan Ketua Panitia PPDB SMAN 1 Prambanan Wawan Bintoro. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia