Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

SLB Solo Siap Hadapi Tantangan Dunia Kerja

30 Juni 2019, 15: 35: 59 WIB | editor : Perdana

PUNYA POTENSI: Rombongan anggota Komisi E DPRD Jateng melihat hasil karya siswa SLB Negeri Surakarta belum lama ini.

PUNYA POTENSI: Rombongan anggota Komisi E DPRD Jateng melihat hasil karya siswa SLB Negeri Surakarta belum lama ini. (KOMISI E DPRD JATENG FOR RADAR SOLO)

Share this      

SOLO –Sekolah Luar Biasa (SLB) berperan penting memenuhi hak siswa berkebutuhan khusus untuk mendapatkan pendidikan layak. Bukan hanya mengajarkan pendidikan formal, tapi juga melatih keterampilan guna menghadapi persaingan dunia kerja.

Demikian disampaikan Kepala SLB Negeri Surakarta Sukamto saat menerima kunjungan rombongan anggota Komisi E DPRD Jateng belum lama ini. 

Menurut Sukamto, banyak kelas yang diajarkan di SLB. Di antaranya kelas salon kecantikan, musik, melukis, menari, tata boga, dan kelas otomotif. “Moto sekolah adalah ceria, mandiri, dan berprestasi,” katanya.

Mengingat banyaknya kelas yang diajarkan untuk siswa berkebutuhan khusus, SLB Negeri Surakarta mendapat apresiasi julukan Sekolah Keren di tingkat nasional pada 2015. 

“Pada tahun ini, dari 13 yang lulus, ada delapan siswa yang masuk dunia kerja. Di antaranya menjadi atlet Popda Jateng dengan keadaan tunarungu,” ungkap dia.

Kabid Dinas Pendidikan Khusus Dinas Pendidikan Jateng Fatma Ningrum mengatakan, pengembangan SLB tidak lepas dari keterlibatan Komisi E DPRD Jateng, terutama sektor pembangunan sumber daya manusia (SDM). Sinergitas tersebut bertujuan memudahkan anak disabilitas mengakses sekolah yang nyaman dan aman.

Komisi E DPRD Jateng mengapresiasi upaya SLB Negeri Surakarta memberikan yang terbaik untuk anak-anak berkebutuhan khusus. Harapannya, mereka bisa ikut bersaing di dunia kerja dan mempunyai keterampilan khusus, terutama untuk bekal mengembangkan potensi diri.

Anggota Komisi E DPRD Jateng Muh. Zen Adv menuturkan, banyak hal yang harus diperhatikan di SLB Negeri Surakarta. Khususnya, dari sisi sarana dan prasarana, serta kesejahteraan gurunya.

“Karena mereka (anak berkebutuhan khusus, Red) butuh pelayanan untuk masa depan. Perlu perencanaan untuk perkembangan ke depannya. Ini kebutuhannya memang riil,” ungkapnya. 

Sementara itu, setiap tahun, pihak sekolah membuka dialog dengan forum wali murid. Di antaranya membahas seluk beluk kebutuhan operasional. Dengan transparansi tersebut, diharapkan timbul kesadaran para orang tua dalam membantu penyelenggaraan pendidikan. Sistem transparansi anggaran ini juga memberi peluang terjadinya subsidi silang antara yang mampu dan kurang mampu secara ekonomi.

“Jadi kita tekankan kepada orang tua atau wali murid agar benar-benar jujur. Kalau memang mampu ya katakan mampu. Kalau memang tidak mampu, nanti kita bantu masalah pendanaan, yang penting anak bisa sekolah,” terang kepala SLB Negeri Surakarta. (adv/wa)

(rs/it/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia