Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Telusur Kalen Ripan Temukan Jejak Sejarah Waduk Gajah Mungkur

30 Juni 2019, 17: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Telusur Kalen Ripan Temukan Jejak Sejarah Waduk Gajah Mungkur

Waduk Gajah Mungkur yang merupakan urat nadi petani di Wonogiri dan sekitarnya terus diekplorasi potensinya oleh masyarakat. Pegiat wisata Wuryantoro menggabungkan wisata alam, tradisi dan sejarah di wilayah setempat.

OBJEK wisata yang sedang mereka kembangkan adalah Kalen Ripan. Pemilihan nama ini bukan sembarangan. Sebab Kalen Ripan adalah salah satu dusun yang turut tenggelam oleh mega proyek Bendungan Waduk Gajah Mungkur.

Dusun itu terletak di sekitar Tempat Pendaratan Ikan (TPI) Wuryantoro, tepatnya di belakang Museum Wayang. Kalen Ripan juga merupakan dusun yang menyimpan cerita masa kecil Presiden Kedua Republik Indonesia Soeharto. Presiden yang berkuasa selama 32 tahun ini menghabiskan masa kecilnya di sekitar Kalen Ripan. Tepatnya di rumah Pak Bei Tani.

Ditinjau dari makna katanya, Kalen Ripan berasal dari dua kata. Kalen berarti kali kecil atau sungai kecil. Ripan kependekan dari panguripan atau kehidupan dalam bahasa Jawa. Sehingga Kalen Ripan dapat dimaknai sebagai sungai yang menjadi sumber kehidupan.

Wisata Kalen Ripan mulai dikembangkan sejak pertengahan 2018 lalu. Pegiat wisata setempat menyadari bahwa di sekitar TPI banyak didatangi warga. Ada yang sekadar memancing maupun jual beli ikan.

Melihat potensi itu, mereka mengembangkan wisata edukasi. Para penikmat traveling bisa langsung mendatangi lingkungan Wuryantoro Lor RT 01 RW 03, Kelurahan Wuryantoro, Kecamatan Wuryantoro. Lokasinya bisa dicapai dengan moda transportasi bus umum, atau kendaraan pribadi. Baik dari Solo atau Jogjakarta.

Traveler kemudian bisa menyewa perahu yang harganya cukup terjangkau untuk menikmati paket-paket wisatanya. Kemudian akan diajak berkeliling wilayah sekitar tempat pelelangan ikan menggunakan perahu. Di mana satu perahunya bisa untuk memuat lima orang bersama satu pengemudi sekaligus pemandu wisatanya.

Traveler akan disuguhi pemandangan indahnya Waduk Gajah Mungkur. Jika air waduk surut, perkampungan yang tenggelam akan terlihat. Beberapa bangunan masih terlihat jelas seperti jembatan desa dan pemakaman.

Uniknya, suguhan pemandangan akan berbeda dari waktu ke waktu. Jika berwisata sekitar April-Mei, traveler akan disuguhi indahnya bunga-bunga teratai yang mulai bermekaran. Ditambah birunya langit dan air yang kehijauan, bisa menjadi spot menarik untuk berfoto. Jika berwisata pada Juni hingga Agustus, spot menariknya adalah menyaksikan indahnya matahari tenggelam.

Ada paket khusus bagi traveler yang ingin menikmati coffee break dan makan siang. Traveler akan diajak ke sebuah pulau tak berpenghuni di tengah-tengah waduk sambil menyantap menu tersebut.

Sementara saat bulan Muharram (Sura), traveler akan disuguhi acara tahunan seperti pentas seni gejluk lesung, wayang kulit dan pentas musik akustik.

Bukan hanya menikmati keindahan wisata air, wisatawan juga bisa menjajal tantangan memanah di lokasi yang sudah disediakan. Lengkap dengan mengenakan baju adat Jawa, wisatawan bisa mengasah kemampuan jemparingan. Atau, sekedar berfoto ria dengan busana kejawen sembari akting memanah. (kwl/adi)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia