Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Ketika Daging Anjing Rambah Tempat Hiburan Malam

01 Juli 2019, 15: 29: 42 WIB | editor : Perdana

Ketika Daging Anjing Rambah Tempat Hiburan Malam

Praktik jual beli kuliner daging anjing bukan hanya di kelas kaki lima, namun sudah merambah ke tempat-tempat hiburan malam di Kota Solo. Bedanya, transaksinya dilakukan tanpa sepengetahuan pihak manajemen alias di bawah tangan. Berikut penelusuran Jawa Pos Radar Solo.

BEBERAPA malam lalu, Jawa Pos Radar Solo sengaja datang ke salah satu tongkrongan paling hits di kawasan barat Kota Bengawan. Tempat ini sangat ramai didatangi pengunjung. Tua muda bercampur jadi satu di kafe yang mengusung konsep taman terbuka ini. Suguhan life music yang terus berganti setiap harinya terbilang ampuh mengusir suntuk di hati para pengunjungnya. 

Minuman jenis bir menjadi suguhan utama di kafe tersebut. Makanan yang disuguhkan pun sangat bervariatif dengan harga relatif terjangkau dibanding dengan sejumlah kafe lain di kota ini. Jadi cukup ramah untuk kantong mahasiswa. 

Sesaat Jawa Pos Radar Solo duduk, seorang pramusaji datang sambil menenteng daftar menu. Makanan dan minuman yang ada di daftar menu pun tampak beragam. Mulai dari sajian lokal asli Indonesia, hingga menu-menu dengan berbagai nama berlabel asing. “Kene ya ana iwak asu (Di sini juga ada daging anjing,” ujar Donald, 28, salah seorang kawan yang menemani Jawa Pos Radar Solo menghabiskan malam di kafe itu. 

Koran ini lantas berulang kali membolak-balik buku menu yang dibawakan seorang pramusaji itu. Namun tak satu pun ada masakan olahan daging anjing di daftar menu tersebut. “Ya ora ana nang buku to (ya tidak ada di buku menu, Red),” sahut Donald. 

Dia lantas meminta Jawa Pos Radar Solo bersabar sejenak sambil menunggu salah satu pramusaji yang biasa membawa bungkusan daging anjing dari luar untuk ditawarkan pada pengunjung kafe. “Tunggu sebentar, nanti orangnya pasti ke sini,” ujarnya. 

Beberapa saat kemudian, sejumlah menu yang kami pilih dibawakan sang pramusaji. Namun lagi-lagi daging anjing yang dibicarakan belum menunjukkan kepastian sedikitpun. Koran ini pun penasaran. Mengingat isu daging kambing memang lagi santer beberapa pekan terakhir. “Kalau barangnya masih biasanya nanti orangnya ke sini,” katanya. 

Setelah 20 menit menanti orang yang dibicarakan itu, tidak tampak batang hidungnya. Saking lamanya menunggu, koran ini pun tak berharap banyak akan kebenaran informasi itu. Sampai akhirnya seorang pria berbadan gempal datang. “Rica ora bos? (rica-rica guguk tidak bos? Red),” tanya dia.

Si pramusaji yang satu ini memang sudah biasa membawa sejumlah bungkusan daging anjing untuk dijual sendiri. Kala itu dia membenarkan bahwa masih ada beberapa bungkus yang belum terjual. “Masih berapa, saya ambil dua,” kata Donald pada sang pramusaji tersebut. 

Sang pramusaji itu pun langsung bergegas mengambil bungkusan yang dimaksud. Dari kejauhan dia terlihat menenteng dua bungkusan berisi daging ajing. Seakan dia sudah terbiasa menjual makanan itu pada pelanggan. “Pas tinggal dua bos. Rp 20 (ribu) saja,” kata pramusaji tadi.

Donald pun langsung mengeluarkan dua lembar pecahan sepuluh ribuan. Sambil mengucap terima kasih, si pramusaji mengatakan siap dipanggil jika butuh sesuatu lagi. “Thanks bro,” ujarnya.

Dua bungkusan yang dibalut kertas koran sederhana dan kertas minyak itu pun dibuka. Ternyata, bungkusan itu berisi rica daging anjing goreng. “Rasanya lumayan (rasanya juga lumayan, Red). Hanya porsinya memang sedikit,” kelakar dia.

Tak berselang lama, pramusaji tadi datang menghampiri. Sambil basa-basi dia menyarankan datang lebih awal biar bisa kebagian. Kesempatan itu membuat koran ini penasaran dan mulai bertanya lebih dalam. 

Kata pramusaji itu, dia selalu lewat penjaja kuliner anjing sebelum berangkat kerja. Momen itu dia manfaatkan untuk beli sejumlah bungkusan kecil kuliner daging anjing. “Gaji di sini nggak seberapa. Harus pintar-pintar cari tambahan. Sementara ya ini dulu walau nggak banyak,” ujarnya.

Paling dalam sehari dia bawa 10 bungkusan kuliner daging anjing. Dia tak menjual banyak dengan alasan takut tidak habis. “Saya seperti ini juga baru-baru saja kok,” katanya.

Lalu bagaimana dengan pihak manajemen kafe, bila sampai ketahuan menjual makanan dari luar? Sebab, saat dikonsumsi bungkusan itu hanya dibuka biasa di atas meja dan tampak secara terang-terangan. “Biasanya bungkusnya saya ambil dan langsung saya buang,” kata Andi.

Apakah semua pengunjung ditawari menu tersebut? Pramusaji itu menjelaskan tidak semua orang dia tawari. Hanya yang wajahnya sudah familier saja dan sering mampir ke kafe. Atau meja yang banyak memesan bir dengan banyak anggota. “Ya pilih-pilih untuk menawarkan. Tapi mayoritas sudah tahu dan cari saya,” tuturnya.

Transaksi jual beli kuliner anjing di bawah tangan tak hanya ditemukan di kafe tersebut. Namun juga dijajakan di beberapa tempat hiburan malam lain, seperti di kawasan Solo Utara. Masih bersama Donald, suatu malam, koran ini sengaja datang ke salah satu tempat hiburan itu. Seperti biasa hiburan karaoke menjadi sajian utama selain keindahan suara dan kemolekan tubuh sang pemandu lagu.

Berbagai minuman beralkohol yang disajikan pun menjadi daya tarik para pecinta hiburan malam di tempat itu. Bila mereka ingin menambah kuliner daging anjing, ada pramusaji  siap menyediakan. Tapi tentunya ini tanpa sepengetahuan pihak pengelola. “Di sini juga ada, tapi harganya lebih tinggi Rp 15 ribu,” kata Donald kepada koran ini.

Tak berselang lama, Donald menghampiri salah seorang pramusaji di lokasi itu. Koran ini ingat betul, kala itu Donald mengeluarkan uang Rp 30 ribu untuk membeli bungkusan kuliner daging anjing itu. Tak perlu waktu lama, sang pegawai datang membawakan bungkusan yang dipesan. “Langsung bayar di sini. Jadi tidak masuk bill-nya,” ujarnya.

Sama seperti di kafe, transaksi itu memang dilakukan terang terangan. Namun dapat dipastikan hal itu dilakukan di luar wewenang manajemen. Sebab, saat dikonfirmasi, si pegawai dan pegawai lainnya enggan berkomentar mengingat isu daging anjing sedang santer belakangan ini di eks Karesidenan Surakarta. Pengalaman koran ini juga pernah menemui hal sama di kawasan Solo selatan. Modusnya pun sama, ditawarkan kepada pengunjung yang sudah benar-benar di kenal secara diam-diam. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia