Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo
Polemik Daging Anjing

Dikaji dari Berbagai Aspek, Wali Kota Cari Solusi Terbaik

01 Juli 2019, 15: 50: 08 WIB | editor : Perdana

Dikaji dari Berbagai Aspek, Wali Kota Cari Solusi Terbaik

WALI Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo meminta persoalan daging anjing tidak dikaitkan dengan isu agama atau pun  hal berbau sara. Dia berharap semua pihak bisa duduk bersama mencari solusi terbaik. 

“Kalau ada daerah lain mau menutup (warung daging anjing, Red) itu persoalan lain. Tapi jangan dikaitkan dengan agama,” tegas pria yang akrab disapa Rudy kepada Jawa Pos Radar Solo.

Menurut dia, kebijakan pemerintah menutup warung daging anjing itu hak pemerintahan masing-masing. Namun di Kota Solo, dia lebih memilih penanganan yang lebih bijak dengan melakukan beberapa kajian mendasar. 

“Menutup itu hak, tapi kalau saya pribadi harus dikaji terlebih dahulu. Yang utama koordinasi dulu dengan dinas kesehatan, apakah bisa setiap penyembelihan (anjing) dicek kesehatannya,” kata Rudy.

Mendukung aturan itu, pemkot bakal menyusun langkah awal pembuatan regulasi baru dalam bentuk peraturan wali kota (perwali) yang mengatur soal kewajiban pemeriksaan anjing yang akan diolah dan disajikan. Dengan demikian, jika suatu saat ditemukan bermasalah dengan kesehatan, pemkot bisa melarang agar anjing bermasalah itu tidak lagi diolah untuk kuliner. 

“Jika ditemukan sesuatu yang bermasalah pada kesehatan maka tidak disarankan disembelih. Jika nekat, akan diberi sanksi. Nanti kalau ada pelanggaran baru diberi sanksi dan solusi terbaru. Misalnya opsi dagang lainnya. Karena kalau langsung tutup maka kurang pas,” kata dia. 

Dia sadar banyak orang yang menggantungkan hidup pada usaha jenis ini. Sebab itu pemkot bakal berhati-hati dalam mengambil kebijakan. “Makanya nanti kita lengkapi dengan perwali. Jadi setelah dicek kalau anjing ini tak boleh disembelih karena apa harus jelas. Toh belun ada larangan yang menyebutkan anjing dilarang dikonsumsi. Jadi kalau langsung ditutup kurang pas. Harapannya setelah ada perwali semua bisa ikuti aturan ini,” harap Rudy. 

Salah seorang pemilik usaha kuliner daging anjing di Solo, Beny Supardi mengaku sedikit resah dengan situasi saat ini. Dia menilai kebijakan penutupan warung kukiner daging anjing kurang tepat dan mampu menggoyang kestabilan ekonomi pedagang kuliner ini. 

“Dikasih uang terus disuruh tutup. Yang benar saja,” kelakar Beny saat ditemui di rumahnya di Gilingan, Banjasari, kemarin. 

Dia mempertanyakan apa dasar pemerintah dalam mengambil kebijakan tersebut. Menurut dia, alangkah lebih bijaksana jika dibentuk kegiatan lain tanpa menutup serta merta. “Kalau saya pribadi disuruh tutup tidak masalah. Tapi paling tidak ada ganti penghasilan sebesar pendapatan kami per bulan,” jelas dia. 

Jika permasalahan soal kesehatan daging anjing yang akan diolah, dia lebih memilih menunggu kebijakan dari pemkot yang akan mengeluarkan aturan soal pengecekan kesehatan daging anjing. Menurut dia, ini lebih berpihak pada rakyat. 

“Saya merintis usaha ini sejak 1995 sampai sekarang belum ada yang sakit karena makan daging anjing. Sebab, secara berkala juga ada petugas kesehatan ambil sampel limbah, mulai dari otak, daging, tulang, jeroan sampai gigi anjing. Sampel diambil per kepala anjing yang diolah,” kata Beny. 

Hal senada diungkapkan Kristianto. Pedagang kuliner daging anjing yang satu ini berharap pemerintah bisa lebih bijak. Pasalnya ada banyak jiwa yang menggantungkan hidup pada usaha jenis ini. Bukan hanya si pengusaha dan keluarga saja, melainkan juga para pegawai yang bekerja di warung-warung kuliner anjing. 

“Pegawai itu bisa delapan sampai sepuluh orang. Sehari bisa empat sampai lima ekor anjing. Jadi sudah berapa porsi yang terjual dan menyokong kehidupan kami,” terangnya.

Jika ke depan ada aturan untuk pengecekan kesehatan, sambung dia, kawan-kawan pedagang anjing pasti bisa menerima, asal tidak main langsung paksa tutup tempat usaha. Dia berani menjamin kesehatan anjing yang akan diolah kondisinya sehat. Sebab, pedagang anjing pun tak mau ambil dari pemasok jika anjingnya tidak sehat. 

“Kalau anjingnya tidak sehat ya saya kembalikan. Makanya pasokan anjing dari Bali tidak laku di sini. Karena anjing-anjingnya kena penyakit kulit. Kalau ini sudah pasti bebas penyakit,” katanya.

Dia berharap pemerintah lebih bijak dalam mengambil putusan soal masalah daging anjing itu. “Pemerintah itu wajib mengawasi, bukan melarang. Ini poinnya,” tutur Kristianto. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia