Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Baru Dibuka 30 Menit, 58 Ribu Daftar PPDB Online

Ribuan Pendaftar Terancam Terlempar

02 Juli 2019, 14: 36: 24 WIB | editor : Perdana

Baru Dibuka 30 Menit, 58 Ribu Daftar PPDB Online

SOLO - Pendaftaran online penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA/SMK hari pertama di Kota Solo menuai banyak keluhan dan kekhawatiran calon siswa. Meski banyak yang memilih daftar mandiri secara online pada tengah malam kemarin, ternyata tidak menjamin posisi mereka aman. Bahkan di sekolah terdekat dengan rumahnya sekalipun. Diprediksi ribuan siswa akan terdepak dari zonanya dan harus terlempar ke sekolah di luar daerah hingga swasta.  

Oktavia Wahyu Andriana mengaku mendaftar ke SMAN 7 Surakarta. Jarak rumah dengan sekolah tidak lebih dari dua kilometer. Dia tinggal di Kecamatan Serengan. Namun belum ada tengah hari kemarin, namanya sudah tidak ada dalam daftar jalur zonasi.

“Habis itu aku langsung pindah jalur prestasi dalam zona. Nilaiku 35,65. Tapi ternyata mepet juga. Dari kuota 68, aku sudah di urutan 50. Kalau tergeser lagi, aku mau dapat sekolah mana ini?" keluhnya kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin.

Oktavia menambahkan, sekolah-sekolah yang masuk dalam zonanya adalah SMAN 1, SMAN 4, dan SMAN 7. Ketiganya, bablas semua. Untuk itu, dia hanya mengandalkan jalur prestasi dalam zona. Namun dia mengaku masih terus memantau jurnal sampai di hari kedua dan ketiga.

“Kan sistemnya cari sekolah yang terdekat. Kalau tidak dapat sekolah yang terdekat ya masuk ke sekolah yang kekurangan murid,” kata siswa asal SMPN 1 Surakarta ini.

Pendaftar lainnya juga mengalami hal serupa. Raja Mahendra mendaftar di SMAN 7 secara mandiri pada tepat tengah malam kemarin. Namun paginya dia sudah tidak menemukan namanya dalam jurnal. Malah namanya terlempar ke SMAN 1 Mojolaban.

“Padahal di Mojolaban itu jaraknya jauh dari rumah. Hampir 8 kilometer. Sementara kalau ke SMAN 7 hanya 4 kilometer dari rumah. Terus kalau seperti ini sistem zonasi tidak sesuai tujuan awal dong. Katanya mendekatkan jarak sekolah dengan rumah,” keluh warga Grogol, Sukoharjo ini.

Raja pun mengeluhkan jika namanya terlempar lagi dari SMAN 1 Mojolaban. Sebab, di dekat rumahnya tidak ada sekolah negeri lain. Padahal baru hari pertama pendaftaran, masih ada hari-hari selanjutnya sampai 5 Juli mendatang. “Kalau kelempar lagi nama saya, bingung mau sekolah mana,” sambungnya.

Senasib dengan Raja, pendaftar lain yang juga berasal dari Grogol, Sukoharjo, Alexander mengaku juga telah terlempar dari SMAN 7. Namanya juga masuk ke SMAN 1 Mojolaban.

“Tidak tahu nanti kegeser lagi atau gak,” katanya.

Salah seorang pendaftar SMAN 1, Satya mengeluhkan aturan jalur prestasi yang berubah. Awalnya, ia mendapat info bahwa jalur zonasi prestasi akan diproses lebih dahulu. Jika tidak lolos, maka akan dialihkan ke jalur zonasi murni.

“Ternyata aturannya ganti. Aku harus ikut jalur zonasi murni dulu di SMAN 3 yang jaraknya lebih dekat dari rumah. Kalau tidak diterima baru bisa ikut jalur zonasi prestasi di SMAN 1. Padahal aku optimistis bisa lolos di SMAN 1 karena nilaiku 38,” ungkap warga Jebres ini.

Ketua Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) SMAN 4 Nanang Ihwanto menyebut jumlah pendaftar di sekolahnya masih fluktuatif. Sampai tengah hari kemarin, Nanang memantau pendaftar dengan jarak terjauh hanya 1,3 kilometer. Lebih dari itu, tidak bisa lolos diterima di SMAN 4.

“Padahal jarak 1,3 kilometer itu daerah Kerten. Jarak itu dekat dengan SMAN 4. Banyak yang khawatir kenapa jarak rumahnya dekat tapi terlempar dari SMAN 4. Memang kalau punya sekolah tujuan harus memakai strategi agar tidak masuk ke sekolah lain. Karena ini yang mengatur semuanya sistem,” jelasnya.

Sebagai salah satu sekolah yang sempat kewalahan menerima verifikasi berkas, Nanang mengaku saat pendaftaran ini pihaknya tidak banyak menerima pendaftar yang datang ke sekolah. Beberapa pendaftar memilih langsung ke sekolah karena masih ingin berkonsultasi terkait pilihan sekolah. Sebagian menganggap koneksi internet di sekolah jauh lebih baik ketimbang akses mandiri.

Nanang hanya menerima sekitar 100 pendaftar yang datang ke sekolah. Jumlah ini sangat berbanding terbalik dibandingkan saat verifikasi berkas lalu yang mencapai seribu pendaftar.

“Mungkin orang tua dan anak-anak sudah paham kalau daftar mandiri lebih nyaman,” ujarnya.

Situasi lengang juga dialami SMAN 7. Hanya sekitar 35 pendaftar yang datang silih berganti ke sekolah. Ketua PPDB SMAN 7 Surakarta Reni Ernawati mengatakan memang calon siswa diarahkan untuk mendaftar mandiri. Mayoritas mereka yang datang ke sekolah hanya untuk komplain atau konsultasi.

“Yang ke sini itu hanya tanya-tanya, kok tidak masuk jurnal, lupa password. Ada juga yang mau ganti pilihan, itu bisa kami layani,” ujarnya.

Menurutnya, pendaftar memilih memdaftar mandiri saat tengah malam kemarin untuk beradu cepat dengan pendaftar lainnya. “Memang yang utama jaraknya. Tapi apabila jaraknya sama dengan peserta lain, maka diutamakan yang mendaftar dahulu,” ujarnya. 

Kepala Cabang Dinas Pendidikan VI Jawa Tengah (Sukoharjo, Karanganyar dan Solo) Suyanta mengatakan, usai situs resmi PPDB SMA/SMK dibuka Senin (1/7) pukul 00.01, setengah jam kemudian sudah ada 58 ribu calon siswa SMA/SMK se Jateng daftar secara mandiri online.

Suyanta memprediksi banyak siswa akan terlempar dari sekolah negeri. Dia mencontohkan calon siswa di Karanganyar yang sudah verifikasi di website resmi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Jawa Tengah tercatat 3.832 telah verifikasi di sejumlah SMA negeri di Karanganyar. Sedangkan 3.283 calon siswa verifikasi di SMK negeri. 

“Padahal kuota SMA negeri di Karanganyar hanya 2.626 kursi, sedangkan SMK negeri 3.116 kursi. Artinya masih ada 1.300 lebih siswa yang nanti tidak bisa duduk di bangku SMA dan SMK negeri. Dan mereka harus daftar ke swasta,” terang Suyanta.

Kondisi sama terjadi di Kota Solo. Pada proses verifikasi lalu, ada 4.256 berkas calon siswa masuk di delapan SMA di Kota Bengawan. Padahal, daya tampung sekolah ini hanya 3.041. Artinya ada 1.215 siswa nasibnya mengambang. Mereka bisa terlempar ke sekolah di luar Solo atau malah ke swasta.

Disinggung soal kendala hari pertama pendaftaran online PPDB SMA/SMK di Jateng, Suyanta mengatakan, sejumlah persoalan muncul seperti adanya trouble pada jaringan sering error, kemudian ada sekolah yang tidak muncul, sering logout dan beberapa lainnya.

“Calon peserta didik untuk SMA/SMK hari ini sudah bisa melihat hasilnya, apakah mereka diterima atau tidak. Kalau tidak diterima ya ke swasta. Dan waktu pendaftaran tidak harus jam itu sebenarnya. Kalaupun rumahnya dekat dengan sekolah kenapa harus cepat-cepatan,” ujarnya. (aya/rud/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia