Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan
Pendaftaran Siswa Baru

Salah Ketik di KK, Nyaris Tak Dapat Sekolah

02 Juli 2019, 14: 54: 04 WIB | editor : Perdana

Salah Ketik di KK, Nyaris Tak Dapat Sekolah

HARI pertama PPDB SMP, Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surakarta diserbu orang tua pendaftar. Berbagai keluhan saat mendaftar di sekolah, mereka bawa ke kantor tersebut. Dengan harapan mendapat solusi yang membahagiakan. Meski pada kenyataannya tidak semua masalah dapat diselesaikan sesuai keinginan. Sebab, dinas hanya patuh pada petunjuk teknis (juknis) dan peraturan yang berlaku.

Salah satu kendala yang berakhir manis adalah Asti Nur Tri Hapsari. Warga Kadipiro, Banjarsari tersebut nyaris menunda sekolahnya selama setahun. Wajahnya pucat pasi, panik, bahkan beberapa kali dia menundukkan kepalanya. Jawa Pos Radar Solo menemui dia di Kantor Dispendik Kota Surakarta, pukul 13.00 saat jadwal pendaftaran di sekolah berakhir. 

Dia duduk ngesot di depan ruangan bidang SMP. Sambil terus menimang-nimang map biru berisi berkas pendaftaran. Di halaman depan map tertempel tulisan: status di kartu keluarga (KK) famili lain.

“Bingung. Katanya kalau statusnya bukan anak atau cucu tidak bisa daftar. Padahal aku ikut sembah (nenek). Kan ibu sudah meninggal,” katanya kepada Jawa Pos Radar Solo di sela-sela waktu menunggu kejelasan statusnya.

Asti berkisah, kemarin dia datang mendaftar ke SMPN 18. Dia bertempat tinggal di Kadipiro, Banjarsari. Sekolah tersebut sesuai dengan zonanya. Masalahnya berawal sejak tempat tinggalnya mengalami pemekaran kelurahan. KK yang dia miliki baru saja selesai Januari lalu. KK ikut neneknya. Namun statusnya di dalam KK tersebut adalah famili lain. Bukan cucu. Sempat dia dan neneknya mengurus status tersebut ke Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Dispendukcapil) Kota Surakarta untuk mengubah status itu. Namun hasilnya nihil.

“Katanya orang capil (Dispendukcapil) bisa kok pakai status famili lain buat daftar sekolah. Pokoknya tiap datang ke dispendukcapil selalu dikatakan bisa. Terus saya dapat info kalau daftar sekolah statusnya harus anak dan cucu. Mau mengurus lagi katanya harus menunggu enam bulan. Tidak bisa sekolah dong aku,” kata siswa asal SDN Mojosongo 3 ini.

Itulah alasannya Asti memilih untuk percaya bahwa mendaftar sekolah dengan status famili lain tetap akan diterima. Sampai tiba akhirnya ia ditolak oleh sistem lantaran status tersebut. “Iya tadi di sekolah disuruh ke dinas untuk minta solusi. Semoga bisa sekolah di sekolah negeri. Kata simbah kalau tidak bisa harus sekolah di negeri ya ke swasta,” lanjutnya.

Pendaftar lain yang juga bernasib sama ditolak sistem adalah Adjie Adriano. Siswa asal SDN Purwoprajan 1 ini mendaftar ke SMPN 16. Namun dia tidak bisa melanjutkan proses pendaftaran karena nomor induk kependudukan (NIK)-nya tidak muncul dalam sistem.

“Engga tahu kenapa. Padahal kata ibu tidak ada masalah KK-nya. Terus disuruh panitia sekolah datang ke dinas. Minta solusi juga sama seperti Mbak Asti,” ujarnya.

Menunggu hampir sejam di depan ruang bidang SMP, akhirnya angin segar pun berhembus saat Kepala Bidang (Kabid) SMP Dispendik Kota Surakarta Bambang Wahyono meminta para orang tua dan pendaftar berkumpul di aula kantor setempat. Pihaknya segera menyampaikan solusi dari berbagai permasalahan yang dihadapi para pendaftar.

“Kalau ada pendaftar yang dari Kadipiro hasil pemekaran, yang dipakai mendaftar pakai RT dan RW yang baru. Itu bisa, meski KK-nya masih yang lama,” jelasnya membuka audiensi.

Bambang lantas menjelaskan bahwa sesuai juknis yang ada dan disepakati bersama, KK dengan keterangan anak atau cucu yang dapat diterima oleh sistem. Pertimbangannya, ada hubungan langsung darah dengan orang tuanya. Permasalahannya, ada orang tua yang bercerai dan menikah lagi.

“Di dalam keterangan KK itu kalau anak sendiri, statusnya tetap anak. Kalau anak istri sambung, statusnya baru famili lain. Nah, selain itu, sesuai kebijakan pemerintah, yang statusnya famili lain tidak bisa diterima. Kecuali kalau ikut simbahnya bisa karena statusnya cucu,” paparnya.

Bambang menegaskan pihaknya memang tidak menggunakan buku nikah dan akta kelahiran. Sebab, jika itu diberlakukan akan banyak pihak yang memanfaatkan. “Maka jika memang bukan cucu atau anak bisa daftar di sekolah swasta. Kalau misalnya diperberat oleh pihak swasta, kami bisa membantu memediasi ke sekolah swasta tersebut,” imbaunya.

Bagi pendaftar seperti Asti, penjelasan ini menjadi solusi bagi permasalahannya. Dia hanya tinggal membawa akta kematian ibunya untuk membuktikan bahwa statusnya adalah cucu. Namun bagi pendaftar lain, penjelasan tersebut bisa jadi mengecewakan karena tidak bisa mendaftar ke sekolah yang diinginkan meski di dalam zonanya. (aya/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia