Kamis, 23 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Sepak Bola

Manajemen Berharap Pemain Profesional, Ketahuan Suap, Pecat!!

04 Juli 2019, 15: 15: 59 WIB | editor : Perdana

Manajemen Berharap Pemain Profesional, Ketahuan Suap, Pecat!!

SOLO – Kekalahan Persis Solo 0-3 atas Persiba Balikpapan di Stadion Batakan Balikpapan, pekan lalu ternyata jadi perbincangan publik. Gol blunder kiper Persis, Sukasto Effendi di laga ini, bahkan jadi perbincangan akun-akun di media sosial (medsos). Mulai dari suporter dalam negeri, hingga akun-akun medsos luar negeri.

”Saya tanya langsung ke Sukasto kenapa dia seperti itu. Kami ingin benar-benar mengetahui apa yang benar-benar terjadi. Ternyata itu murni kesalahan Sukasto. Kalau ada hal berbau suap menyuap, saya tidak melihat itu ada di laga kemarin. Itu murni kesalahan kiper,” terang Sekjen Persis Solo, Dedi M Lawe kepada Jawa Pos Radar Solo.

Dia juga sudah mendengarkan alasan pelatih Persis, Agus Yuwono bahwa kendala utamanya ada pada penggunaan bola. Di mana saat latihan menggunakan bola bermerek Mitre, sedangkan saat pertandingan menggunakan merek Specs.

“Kita sudah mengirimkan surat protes (ke operator kompetisi, PT. LIB). Kenapa bola latihan dan pertandingan beda, dalam regulasi harus sama. Kami jelas protes. Ini tentu sangat merugikan,” terangnya. 

Dia mengakui setelah PT. SPN mendapatkan saham terbesar PT. Persis Solo Saestu untuk membangun Persis di Liga 2, banyak kebijakan dilakukan. Salah satu hal yang paling dilarang terjadi adalah praktik suap menyuap pertandingan. Persis enggan main-main pada praktik match fixing, atau suap menyuap.

”Sejak dua tahun lalu, kita mulai melakukan langkah tertib. Kita pernah memecat 9 pemain, hingga jajaran skuad pelatih karena ketahuan suap. Di klub ini, ga ada toleransi. Pecat, semua tanpa pecuali. Kalau ketahuan suap, pasti kita akan langsung pecat,” tegasnya.

”Ada isu yang dimunculkan seseorang, kalau kami dianggap menjual pertandingan Persiba. Jelas enggak lah. Saya sudah mengancam pemain, jangan ada yang kena dan melakukan suap-menyuap pemain,” tegasnya. 

 Di lain sisi, Dedi M Lawe mengakui musim ini memang ada banyak perubahan dalam komposisi pemain. Ada kenaikan 30 persen jumlah kenaikan angka pembayaran untuk gaji pemain ketimbang tahun lalu

“Tahun lalu sebulan kita keluarkan Rp 460 juta untuk menggaji 23 pemain. Kalau tahun ini, 23 pemain yang kita rekrut kita gaji Rp 510 juta sebulan. Itu gaji tok, belum dana lainnya yang kita harus keluarkan tiap bulannya. Jadi kalau tahun ini turun (angka gaji pemain) tentu enggak. Kalau soal kualitas tentu relatif (persepsinya, Red),” tuturnya

Terkait jumlah sponsor yang lebih sedikit tahun ini juga manajemen mengakui hal tersebut bukan sebuah hal yang perlu diperdebatkan. Musim ini Persis memang hanya memiliki  PT. SPN dan Medco Energi yang namanya menempel di jersey pemain. Padahal dua musim terakhir sponsor yang menempel di jersey Persis bisa mencapai tujuh label sponsor.

“Pasti tak ada yang tahun SPN, dana sponsori berapa. Medco nominalnya juga berapa. Kalau kita rasa  cukup, kenapa dipersoalan. Toh anggaran musim ini, ada kenaikan 25 sampai 30 persen. Jika dulu kita menghabiskan Rp 8 M, sekarang ada kenaikan 25 persenan. Kebutuhan kita sekitar Rp 9 miliar-an,” terang.

Angka terbesar dalam pengeluaran Persis, tentu lantaran harus menjalani laga tour tandang ke Kalimantan, Sulawesi hingga Papua. Di mana Persis yang masuk grup timur, harus bertandang ke markas Martapura FC, Persiba Balikpapan, Mitra Kukar, Sulut United, dan PSBS Biak. (rud/nik)

(rs/rud/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia