Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

50 Persen Klien Bapas Sulit Insaf

05 Juli 2019, 12: 10: 59 WIB | editor : Perdana

VALID: Tes urine klien Bapas Surakarta kemarin (4/7). 

VALID: Tes urine klien Bapas Surakarta kemarin (4/7). 

Share this      

SOLO – Upaya menyadarkan pelaku penyalahgunaan narkoba butuh kerja keras. Sebab, mereka sangat rentan kembali ke lembah hitam. Seperti klien yang didampingi Balai Pemasyarkatan (Bapas) Klas IA Surakarta.

50 persen dari mereka kembali mengonsumsi narkoba karena bertemu jaringan lama. “Ada yang masih berstatus PB (pembebasan bersyarat, Red). Ada juga yang sudah tidak menjadi bimbingan kita lagi. Kesulitan kita banyak klien menolak direhabilitasi. Mereka rata-rata takut,” terang Koordinator Pelaksana Rehab Klien Bapas Klas IA Surakarta Djoko Hastanto, Kamis (4/7).

Banyak celah yang menyebabkan klien Bapas kembali terbelenggu narkoba. Yang paling mendominasi adalah bujuk rayu kelompok lama. Padahal sanksi berat menanti di di depan mata. Status PB bisa dicabut.

“Kalau mengulangi sekali masih bisa mengajukan PB. Lebih dari itu, mereka tidak bisa kembali mengajukan PB,” tandasnya.

Sebagai upaya pencegahan, lanjut pria yang juga menjabat pembimbing kemasyarakatan Muda Bapas Surakarta ini yakni dengan membentuk kelompok kecil klien diberinama komunitas mantan pecandu narkoba.

“Dalam kelompok kecil lebih enak pendampingannya. Sharing bisa lebih mendalam. Kita adakan dialog dengan keluarga. MoU dengan BNK Solo dan salah satu panti rehabilitasi sudah dilakukan Februari lalu. Saat ini tinggal menyusun programnya saja,” urai Djoko.

Sebagai tahap awal, Bapas Surakarta menggelar sosialisasi kepada para klien menggandeng BNK dan panti rehabilitasi. Urine klien juga dites untuk memastikan apakah mereka masih ketergantungan dengan barnag haram tersebut atau tidak.

Tahun ini, Bapas Surakarta mendampingi sekitar 100 klien dari Solo, Karanganyar, Sregen, dan Boyolali. Empat di antaranya masih di bawah umur. Sedangkan pendampingan klien dari Wonogiri, Klaten dan Sukoharjo dilakukan Bapas Klaten per 1 Juni.

 “Bimbingan tergantung PK (pebimbing kemasyarkatan,Red) mereka masing-masing. Apabila masih ada indikasi kembali ke kelompoknya, bimbingan bisa dua kali seminggu. Kalau sudah agak sembuh nanti sebulan sekali. Seperti itu sampai 1/3 masa tahanan rampung,” beber Djoko.

Bimbingan tidak selalu dilakukan di kantor Bapas. PK bisa datang ke rumah klien sekaligus memantau keseharian mereka. (atn/wa)

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia