Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sukoharjo

Hari Terakhir PPDB Online,Puluhan Kursi di Jalur Prestasi Masih Kosong

05 Juli 2019, 21: 15: 51 WIB | editor : Perdana

Kuota di jalur prestasi SMAN 1  Tawangsari masih kosong 16 kursi

Kuota di jalur prestasi SMAN 1 Tawangsari masih kosong 16 kursi

Share this      

SUKOHARJO - Di saat banyak calon peserta didik terlempar lantaran ketentuan zonasi, kuota untuk jalur prestasi di sejumlah sekolah masih banyak yang kosong. Itu terjadi hingga hari terakhir pendaftaran penerimaan peserta didik baru (PPDB) online tingkat SMA, Jumat (5/7).

Belum terpenuhinya kuota di jalur prestasi luar zonasi itu di antaranya terjadi di SMAN 1 Tawangsari, SMAN 1 Nguter, SMAN 1 Weru, dan SMAN 1 Bulu. Kuota jalur prestasi di SMAN 1 Tawangsari masih tersedia 16 kursi.

Di SMAN 1 Nguter, untuk jalur perpindahan dan jalur prestasi masih tersedia 21 kursi. Sementara di SMAN 1 Polokarto ada 22 kursi yang masih kosong. Selain itu, dari kuota total sebanyak 288 murid di SMAN 1 Weru, baru terisi 188 murid dari jalur zonasi dan 11 murid jalur prestasi dalam zonasi.

Ketua PPDB online SMAN 1 Tawangsari Hartadi menuturkan, dari ada empat jalur PPDB online, jalur prestasi luar zonasi dan jalur perpindahan belum penuhi target. ”Di jalur prestasi nilai terendah 30,20 dan kita membuka kuota maksimal 54 orang. Hingga hari terakhir ini pendaftar baru 38 orang,” terang Hartadi Jumat.

Selain itu, di SMAN 1 Nguter juga mengalami hal sama. Kuota prestasi luar zonasi belum terpenuhi. Kekurangan kuota tersebut akan dipenuhi dari calon peserta didik yang mendaftar lewat jalur zonasi. Sehingga tidak ada kekurangan murid.

"Kami menerima 288 murid. Sampai saat ini pendaftaran di jalur prestasi dalam zonasi dan jalur zonasi sudah terpenuhi. Namun, jalur prestasi dan jalur perpindahan baru terisi 36 murid. Padahal kuotanya 57 murid," jelas Sudibyo, Kepala SMAN 1 Nguter.

Sementara itu, hingga hari terakhir PPDB online, masih ada calon peserta didik yang kebingungan mencari sekolah. Seperti yang dialami anak dari Sugiyono, warga Desa Gunting, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten. Ketika ditemui di SMAN 1 Tawangsari, Sugiyono mengatakan jika anaknya belum dapat sekolah .

”Pilihan pertama mendaftar di SMAN 3 Sukoharjo dan tidak diterima. Otomatis masuk ke SMAN 1 Wonosari menggunakan jalur zonasi. Dan, tergeser lagi ke SMAN 1 Polanharjo. Sampai sekarang belum mendapat sekolah," terangnya.

Sugiyono mengaku kebingungan karena penerapan jalur zonasi justru membuat anaknya kesulitan mencari sekolah. Apalagi dengan nilai anaknya yang pas-pasan. Sugiyono dan anaknya masih terus berusaha mendatangi sejumlah sekolah negeri di sekitar Sukoharjo dan Klaten untuk mencari peluang.

”Ini yang diuntungkan siswa yang tinggal di kota, yang dekat sekolah. Yang jadi korban yang dari desa dan jauh dari sekolah, seperti anak saya,” papar Sugiyono. (rgl/ria)

(rs/rgl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia