Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features
Suka Duka Penari Hiburan Malam

Digeruduk Emak-Emak, Dipaksa Turun Panggung

07 Juli 2019, 09: 30: 59 WIB | editor : Perdana

Digeruduk Emak-Emak, Dipaksa Turun Panggung

Memilih menekuni dunia hiburan malam harus siap dengan beragam risikonya. Pergaulan bebas, minuman keras, narkoba, hingga berhadapan dengan warga. Tak ketinggalan stigma dari lingkungan.

BEBERAPA perempuan muda dengan rambut tergerai lincah menari pada acara launching kafe dan resto di wilayah Kabupaten Karanganyar, Jumat malam (5/7).

Berhubung tempat nongkrong tersebut menyediakan kolam renang, para sexy dancer yang tergabung dalam manajemen Mendoza itu ikut nyebur. Penampilan mereka cukup memanaskan suasana malam yang dingin. 

PUSAT PERHATIAN: Personel sexy dancer saat menghibur tamu pada launching kafe dan resto di kawasan Kabupaten Karanganyar.

PUSAT PERHATIAN: Personel sexy dancer saat menghibur tamu pada launching kafe dan resto di kawasan Kabupaten Karanganyar.

Usai pentas, salah seorang personel sexy dancer, Aloysia, 22, mengaku sudah sudah dua tahun terakhir bergabung dalam manajemen Mendoza. “Sejak SMA memang sudah suka menari. Lulus sekolah baru serius menari sambil kuliah,” jelasnya.

Aloysia sudah siap dengan segala risikonya. Maka tak heran cibiran bisa diresponsnya dengan enteng. “Asal komitmen saja. Tapi ya ada saja yang masih menganggap rendah penari seperti saya ini,” katanya.

Berbeda dengan Aloysia, personel lainnya, Adel, 20, mengaku sempat sembunyi-sembunyi menjadi sexy dancer agar tidak diketahui keluarga. “Lulus sekolah saya gabung di sini (Mendoza, Red). Paling baru satu setengah tahun ini,” ungkap dia.

Seiring berjalannya waktu, salah seorang kerabat mendapat foto saat Adel pentas kemudian ditujukkan ke orang tua Adel. Bisa ditebak, perempuan murah senyum ini ditegur keras.

Butuh beberapa kali komunikasi dengan orang tua untuk mengizinkan Adel menjadi sexy dancer. “Kata orang tua ya sudah kalau memang serius. Asal niatnya serius kerja nggak masalah, jangan macam-macam,” ujarnya.

Kali pertama gabung Mendoza, Adel tidak memiliki kemampuan menari. Namun, karena kemauannya kuat, manajemen mempertimbangkan ulang dan meminta Adel berlatih keras. 

Penghasilan yang lumayan sebagai sexy dancer menarik perhatian Esti, 22, ikut menekuninya. Dia bercita-cita dari sexy dancer bisa mendirikan usaha sendiri. “Saya kerja di salon kecantikan di Wonogiri. Sebulan ini saya gabung dan show di Solo. Kenapa? Karena saya pengin segera mengumpulkan tabungan biar bisa membangun usaha mandiri,” terangnya.

Masing-masing sexy dancer punya cara meminimalkan risiko bekerja di hiburan malam. Tapi ada beberapa kejadian yang tak bisa dihindari saat pentas. “Pernah di tengah-tenagh kami manggung didatangi polisi. Ternyata panitia acaranya tidak menyertakan sexy dancer di acara itu. Dalam izin acara cuma ditulis dance,” beber sang manajer Ayu Mendoza.

Sebagai manajer, Ayu bakal menjadi ujung tombak ketika terjadi hal tak diinginkan kepada personelnya. Kejadian tak menyenangkan lainnya terjadi saat tampil di wilayah Kabupaten Sragen. Namun kali ini bukan lagi soal perizinan, melainkan dipaksa turun oleh emak-emak kampung setempat. 

“Acaranya apa saya lupa. Seingat saya kegiatannya di lapangan. Pas tengah-tengah tampil itu, ibu-ibunya meneriaki kami dan memaksa acara dihentikan,” kenangnya.

Awalnya, Ayu tetap menyemangati personelnya tetap melanjutkan show. Namun, desakan untuk menghentikan tarian semakin besar. Menghindari hal tak diinginkan, Ayu terpaksa meminta penarinya turun panggung..

“Dari semua sudut itu sudah teriak turun...turun. Karena takut kenapa-kenapa, saya suruh berhenti (menari, Red) saja,” tandasnya. Dari pengalaman tersebut, Ayu lebih selektif menerima job.

“Harus detail. Misal mainnya di mana? Kapan? Acara apa? Biar kami bisa menyesuaikan bagaimana kostumnya. Saya harap pandangan masyarakat tak selalu buruk untuk para penari seperti kami,” tutup Ayu. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia