Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Ketua Dewan Riset Jateng Usul Aturan Zonasi Hotel

09 Juli 2019, 09: 10: 59 WIB | editor : Perdana

BELUM MERATA: Bangunan hotel di Kota Solo.

BELUM MERATA: Bangunan hotel di Kota Solo. (RADAR SOLO PHOTO)

Share this      

SOLO – Mengatur bisnis perhotelan di Kota Solo dan sekitarnya, perlu adanya pemerataan area. Sebab bisnis hotel saat ini berkembang pesat. Sehingga sering terjadi pembagian “kue” yang tidak seimbang.

Praktisi akademis sekaligus Ketua Dewan Riset Daerah Jawa Tengah Daniel D. Kameo mengatakan, perlu ada zonasi perhotelan di Solo. Supaya hotel kecil dan besar bisa berjalan beriringan. Selain itu, butuh pengawasan untuk hotel besar setaraf bintang 4 dan 5 agar tidak mematikan hotel kecil.

Bagi Daniel, Kota Solo merupakan tujuan pariwisata berbasis budaya. Sehingga keberadaan hotel kecil atau homestay sangat diperlukan. Sebagai daya dukung agar wisatawan menyatu dengan masyarakat sekitar.

Ditambahkan Daniel, keberadaan hotel berbintang tetap dibutuhkan sebagai sarana pendukung agenda meeting, incentive, convention, and exhibition (MICE). Sehingga keseimbangan ikut terjalin. 

”Keberadaan homestay yang ramah dengan wisatawan, masyarakatnya juga bisa membaur. Berpotensi menumbuhkan kesan seperti tinggal di rumah sendiri. Menyaksikan pentas wayang atau ketoprak, berlatih membuat batik, atau membuat sekaligus menikmati kuliner khas Solo. Kalau wisatawan itu tinggal di hotel besar, suasananya jadi beda,” beber Daniel, kemarin (8/7).

Asisten Pengembangan Ekonomi Setda Kota Surakata Agus Sutrisno menambahkan, sebagai kota MICE, pertumbuhan hotel di Solo justru didominasi bintang 2. Hotel bintang 2 memberikan kontribusi pendapatan asli daerah (PAD) cukup tinggi. Padahal agenda MICE di Solo biutuh ballroom dengan kapasitas luas setara hotel bintang 4 dan 5. 

Berdasar data Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Solo, hanya ada 4 unit hotel bintang 5 dengan 667 kamar. Plus 7 hotel bintang 4 dengan 1.118 kamar. Sedangkan bintang 2 ada 15 unit dengan 1.318 kamar. Sedangkan hotel bintang 3 ada 16 unit dengan 1.322 kamar, serta 7 unit hotel bintang 1 dengan 226 kamar.

”Munculnya hotel-hotel bintang 2 ini untuk memenuhi kebutuhan pasar. Banyak wisatawan backpacker yang datang ke Solo dan mampir ke hotel hanya untuk istirahat sejenak, mandi, serta sarapan pagi. Kemudian pergi lagi meneruskan perjalanan. Jadi tidak butuh fasilitas berlebih. Masing-masing hotel punya segmen sendiri,” tandasnya. (gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia