Rabu, 20 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Features

Usaha Ahmad Dipoyono Melestarikan Seni Ketoprak di Kota Bengawan

10 Juli 2019, 07: 15: 59 WIB | editor : Perdana

IKUTI ZAMAN: Dipoyono tak rela ketoprak mati suri tergilas zaman.

IKUTI ZAMAN: Dipoyono tak rela ketoprak mati suri tergilas zaman. (IRAWAN WIBISONO/RADAR SOLO)

Share this      

Nyaris tak terdengar lagi di telinga panggung ketoprak di eks Karesidenan Surakarta. Ahmad Dipoyono mencoba memberi “nyawa baru” pada dunia kesenian tradisional itu. Bagaimana kisahnya?

IRAWAN WIBISONO, Solo

SUKSESNYA Festival Ketoprak Solo akhir pekan lalu kembali menumbuhkan harapan baru bagi dunia ketoprak. Sebagai ketua Paguyuban Ketoprak Surakarta (Paksura), Ahmad Dipoyono menjadi salah satu orang penting di belakangnya. Pria kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat ini menggagas sekaligus berpartisipasi aktif untuk menumbuhkan bibit-bibit baru seni peran tradisional di Kota Solo.  

Dalam pentas yang dilombakan tersebut, peserta berasal dari lima kecamatan di Kota Bengawan dengan usia maksimal 40 tahun. Bahkan sebagian besar dari mereka belum pernah bermain ketoprak. 

“Pada 1990-an dunia ketoprak mulai menunjukkan tanda-tanda kebangkrutan. Kemudian 1996 sudah tidak lagi dipentaskan di kampung-kampung,” kata pria yang akrab disapa Dipo.

Untuk kembali memberi “nyawa” pada ketoprak, kata Dipo, harus berani adopsi hingga akulturasi dengan jenis kesenian lain. Seni teater modern salah satunya. Selain itu pementasan ketoprak juga harus digarap lebih kekinian. “Mulai dari konsep panggung, cahaya, tat arias, musikalitas, setting dan manajemen hiburan modern,” imbuhnya.

Jika ketoprak masih disajikan dengan cara kuno, dosen jurusan Penciptaan Seni Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta ini yakin bakal sepi peminat. Tanpa bermaksud membandingkan, Dipo belajar banyak dengan garapan ketoprak di Jogjakarta. Meski berbeda jenisnya, industri ketoprak di Kota Gudeg itu bisa hidup bahkan bisa untuk menghidupi pemainnya. Hal itu disebabkan adanya unsur kekinian dalam manajemen industri ketoprak. Jika itu dilakukan di Solo, bukan tak mungkin masa kejayaan ketoprak akan terulang.

“Saya dulu setiap hari ikut pentas bapak saya di Sragen. Kelas empat SD sudah main. Keliling sampai mana-mana,” kisahnya. 

Saking sudah ngetren, setiap ada orang hajatan dipastikan nanggap ketoprak. “Kalau nggak nanggap itu seperti ‘dosa’. Jadi mereka mending jual sapi agar bisa nanggap ketroprak,” imbuhnya.

Dipo ingat sekali di usia empat tahun dia memainkan peran sebagai pangeran kecil. Meski tak diberi dialog yang panjang, dia bermain cukup serius. Bahkan dia sempat tampil sebagai pembuka sebelum kisah dalam ketoprak dimulai.  Dari mana ilmu ketoprak didapat? Pria yang pernah mengenyam pendidikan di sekolah menengah seni Indonesia (SMKI) Solo (kini SMK 8) ini mengatakan, ilmunya datang dari lapangan. Sebagai anak pemain ketoprak, dia dilepas di atas panggung sesuai instruksi sutradara.

“Dengan melihat, mendengar dan melakukannya langsung itu saya jadi bisa. Tidak ada teorinya,” katanya.

Hingga saat duduk di bangku SMA Dipo kerap menonton ketoprak di Balekambang maupun RRI. Dua panggung tersebut juga dijadikan menunjukkan kemampuannya dalam kesenian ini. Kini dia tak hanya ingin bermian ketoprak untuk dirinya sendiri. Lebih dari itu Dipo ingin ketoprak lahir dan besar kembali di Kota Solo. “Solo dulu itu barometernya ketoprak di Indonesia. Tempat bertemunya pemain ketoprak terbaik yang di Solo,” ujarnya. (*/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia