Kamis, 14 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Jurusan Tidak Cocok, Jangan Gegabah Tak Daftar Ulang

11 Juli 2019, 08: 10: 59 WIB | editor : Perdana

MULAI LEGA: Calon siswa baru hasil PPDB 2019 mulai daftar ulang di SMA Negeri 7 Surakarta, Rabu kemarin (10/7).

MULAI LEGA: Calon siswa baru hasil PPDB 2019 mulai daftar ulang di SMA Negeri 7 Surakarta, Rabu kemarin (10/7). (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Seleksi penerimaan peserta didik baru (PPDB) SMA telah diumumkan Senin lalu (9/7). Proses selanjutnya adalah daftar ulang di sekolah tujuan. Masyarakat diminta tetap daftar ulang meski jurusan yang diperoleh tidak sesuai keinginan.

“Pengumuman baru kemarin (Senin) malam. Praktis masyarakat baru tahu kedudukan siswanya di peminatan IPA, IPS, atau bahasa hari ini (kemarin). Kami juga melihat perkembangan di agenda daftar ulang selama dua hari ini. Apakah tetap penuh kuotanya atau seperti apa kami masih menunggu,” beber Sekretaris Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMA Surakarta Agung Wijayanto ditemui di ruang kerjanya, kemarin.

Agung mengatakan, pilihan jurusan peminatan dalam PPDB tahun ini berbeda dengan sebelumnya. Jika sebelumnya, calon siswa sudah mengetahui tujuannya mendaftar ke sekolah lengkap dengan jurusan peminatan tertentu. Kali ini, calon peserta didik hanya mendaftar ke sekolah tertentu saja tanpa pilihan jurusan peminatan.

Jurusan peminatan ini akan ditentukan berdasarkan nilai ujian nasional pendaftar. Sudah ada bobotnya masing-masing nilai. Mekanisme ini sudah diatur sistem. “Kami harap masyarakat mengikuti alurnya dulu, sambil kemudian dilihat perkembangannya. Jangan ditolak dulu dan tidak daftar ulang karena jurusan peminatannya tidak sesuai,” jelasnya.

Agung menyadari aturan ini akan menimbulkan ketidakpuasan. Bisa saja secara nilai, pendaftar tersebut dijuruskan ke peminatan MIPA. Padahal, dia secara minat ingin memilih IPS. Secara aturan di kurikulum, peminatan siswa bisa berubah. Selama tiga bulan akan dilakukan evaluasi. Ada kemungkinan salah peminatan, capaiannya tidak baik atau berdasarkan hasil psikotes memang tidak sesuai. “Kalau ada tempat yang kosong, bisa pindah jurusan. Kalau semuanya penuh, ya tidak bisa. Itu ada aturannya di Kurikulum 2013,” terangnya.

Agung mengimbau kepada para orang tua yang merasa jurusan peminatan anaknya tidak sesuai dengan yang diharapkan agar tetap daftar ulang. Sebab, dalam perkembangan kegiatan belajar mengajar baru akan diketahui potensi minat anak yang sesungguhnya berada di jurusan apa.

“Tiap sekolah juga akan mengadakan psikotes. Untuk melihat kemampuan dan potensi siswa. Hasil psikotes ini bisa digunakan sebagai rekomendasi dan dasar bagi sekolah. Di samping hasil belajarnya selama tiga bulan awal. Tapi tidak otomatis menjadi acuan untuk mengubah atau pindah jurusan,” tandasnya.

Pantauan Jawa Pos Radar Solo, seluruh sekolah negeri di Kota Bengawan dan sekitarnya ramai dipadati peserta didik baru untuk melakukan daftar ulang. Jadwal daftar ulang diberikan dua hari, kemarin dan hari ini. 

Untuk SMP daftar ulang sudah selesai Selasa lalu (9/7). Agenda selanjutnya adalah masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) pekan depan. Namun Kepala Bidang SMP Dinas Pendidikan (Dispendik) Kota Surakarta Bambang Wahyono mengaku belum mendapat rekap data siswa masing-masing sekolah yang melakukan daftar ulang.

“Untuk kuota jalur perpindahan tugas yang tidak terisi, dibiarkan kosong. Masing-masing sekolah berbeda jumlahnya. Ada yang kosong, ada yang terisi dua atau tiga anak. Cuma jatah persentasenya sama, lima persen sesuai Permendikbud,” bebernya ditemui di kantor setempat, kemarin.

Berbeda dengan kuota jalur prestasi, lanjut Bambang, jika jalur ini tidak terisi penuh maka otomatis akan diisi oleh peserta jalur regular. Sebab, peraih prestasi juara ujian sekolah berstandar nasional (USBN) tidak seluruhnya berasal dari Kota Surakarta. Sehingga tidak semuanya memanfaatkan jalur ini.

“Kemudian, para juara ini juga memiliki prestasi lain. Entah juara OSN atau FLSN. Sehingga memilih menggunakan prestasi kejuaraan berjenjang tersebut. Dan juga bisa jadi mereka lebih memilih sekolah swasta ketimbang di sekolah negeri,” jelasnya.

Bambang menyebut prediksi kuota jalur prestasi sebesar 10 persen ternyata ada beberapa sekolah yang tidak terpenuhi kuotanya. Sehingga kuota jalur prestasi yang masih tersisa ini ditambahkan oleh peserta regular jalur zonasi.

“Semua anak-anak dalam kota sudah terakomodasi. Ada beberapa anak dari luar kota yang masuk daftar tunggu, ternyata tidak terakomodasi. Bagi anak-anak dalam kota yang tergeser ke sekolah lain, ini sistem, mereka diberi wewenang untuk bisa menerima sesuai aturan sistem. Di luar keempat pilihan sekolah. Kalau tidak mau karena lokasinya jauh, orang tua berhak mencabut kembali berkas di sekolah hasil pergeseran tersebut,” terangnya.

Langkah selanjutnya, imbuh Bambang, siswa tersebut tidak bisa masuk kembali mendaftar melalui sistem online. Sehingga kesempatannya hanya bisa melanjutkan sekolah di sekolah swasta.

“Kalau ada sekolah yang kekurangan siswa karena jalur perpindahan tugas tidak diisi, ya dibiarkan kosong. Karena sesuai permendikbud mengatur demikian,” sambungnya.

Salah satu sekolah yang kuota jalur perpindahan tugas tidak terisi penuh adalah SMPN 7 Surakarta. Kepala SMPN 7 Siti Latifah mengaku pihaknya tetap akan membiarkan kursi tersebut kosong sesuai aturan yang berlaku. “Kosong 11 kursi. Karena aturannya diminta dikosongkan, kami akan kosongkan,” tandasnya. (aya/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia