Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Cara Unik Desa Ponggok Ajak Warga Lestarikan Mata Air lewat Literasi

12 Juli 2019, 07: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Cara Unik Desa Ponggok Ajak Warga Lestarikan Mata Air lewat Literasi

Cara Unik Desa Ponggok Ajak Warga Lestarikan Mata Air lewat Literasi (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Menjelma menjadi desa wisata populer berkat keberhasilan mengelola sumber mata air tidak membuat Desa Ponggok ini berpuas diri. Kini konsep desa literasi telah digulirkan agar seluruh lapisan masyarakat memiliki pemahaman bagaimana melestarikan lingkungannya. Seperti apa geliatnya?

ANGGA PURENDA, Klaten

BELASAN anak-anak tampak antusias mendengarkan cerita dongeng dari Yessy Sinubulan di sebuah gazebo di Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Klaten. Ekspresi sang mendongeng yang unik dan lucu membuat anak-anak ini tertawa lepas. Kegiatan ini merupakan salah satu rangkaian green literacy camp. Yessy merupakan salah satu pengisi acara yang digelar beberapa hari atas inisiatif Kepala Desa Ponggok Junaedi Mulyono ini. 

Pendongeng asal Bandung itu mengajak anak-anak membuat karya kreatif dengan menggunakan kardus hingga bahan rempah-rempah. Seperti kayu manis, serai, daun jeruk hingga temulawak ditempelkan di kerdus dengan ditambah sejumlah gambar.

“Aku ingin mengajak anak-anak untuk menjadi kesatria bumi. Memang sebelum masuk ke kelas dongeng harus aku lantik mereka menjadi kesatria bumi sesuai keinginan masing-masing. Ada yang hanya mau fokus menjaga air maupun udara agar bersih. Atau menjadi kesatria untuk fokus menjaga laut juga bisa,” jelas Yessy saat ditemui Jawa Pos Radar Solo usai memberikan kelas kepada anak-anak Desa Ponggok.

Kegiatan yang dilakukan Yessy bersama anak-anak Desa Ponggok yang masih polos itu dikenal dengan sebutan scrapbooking. Secara tidak langsung Yessy ingin menanamkan diri pada anak-anak agar bisa menjaga kelestarian alam yang dimiliki desanya. Meskipun masih berusia muda tetapi pemahaman itu harus diberikan agar kesadarannya tergugah.

“Mereka nanti yang akan menjaga bumi meskipun mereka masih kecil sekali. Tapi aku ingin menanamkan kalau yang pegang bumi sekarang itu ya mereka. Nanti 10 tahun sampai 20 tahun lagi jika tidak mengubah kebiasaan, mereka tidak akan mendapatkan sungai bersih, udara yang bersih. Ya harus ditanamkan, yang menjaga bumi itu aku bukan orang lain,” ungkap Yessy, pendongeng perempuan berusia 30 tahun ini.

Dia melihat potensi sumber mata air di Desa Ponggok yang luar biasa sehingga sudah seharusnya para generasi muda untuk ikut terlibat menjaga kelestariannya. Yessy membandingkan dirinya harus membayar Rp 100 ribu per jam di daerah asalnya untuk bisa berenang. Sedangkan anak-anak Ponggok justru gratis untuk berenang dengan airnya yang begitu jernih.

Yessy yang baru kali pertama menginjakkan kaki di Desa Ponggok cukup senang respon dari anak-anak untuk ajakan menjaga lingkungan. Meskipun dalam kesehariannya anak-anak jarang melihat sungai di Desa Ponggok kotor tetapi malah jernih. Tetapi sudah memahami apa yang menjadi penyebabnya mengapa sungai kotor yakni sampah.

“Kemudian saya lanjutkan dengan mendongengkan anak-anak kisah putri bunga es. Saya ajak untuk lebih banyak bergerak sehingga tidak terpaku dengan gadget. Apalagi lewat cerita yang saya bangun itu saya tanamkan nilai-nilai kebersamaan,” ungkapnya.

Keceriaan anak-anak semakin terlihat ketika Yessy mengenakan semacam bedak sebagai salah satu properti dalam mendongeng. Sesekali mereka saling menimpali bedak yang ada di genggaman tangan. Keseruan itu juga dirasakan para volunteer yang datang dari berbagai daerah dalam gelaran acara green literacy camp.

Melalui dongeng ini, Yessy ingin berpesan kepada anak-anak Ponggok agar melestarikan lingkungannya secara bersama-sama. Apalagi jika seluruhnya dikerjakan secara bergotong-royong maka akan lebih mudah dalam menjaga potensi alam yang menghidupi Ponggok selama ini. (*)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia