Sabtu, 19 Oct 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Tanah Gerak di Area Bengawan Masih Aman

12 Juli 2019, 10: 10: 59 WIB | editor : Perdana

TAK PERLU KHAWATIR: Pergerakan tanah di sekitar aliran Bengawan Solo tidak memicu potensi bencana. 

TAK PERLU KHAWATIR: Pergerakan tanah di sekitar aliran Bengawan Solo tidak memicu potensi bencana. 

Share this      

SOLO - Munculnya informasi terkait pergerakan tanah di Kota Solo membuat warga resah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) Kota Surakarta memastikan bahwa pergerakan tanah itu tidak berpengaruh pada potensi kebencanaan di wilayah Kota Bengawan. 

Kepala BPBD Kota Surakarta Eko Prajudhy  Noor Aly memastikan bahwa informasi yang menyatakan pergerakan tanah berpotensi menyebabkan banjir bandang di empat kecamatan tidak benar. Dan dipastikan hoax karena kesalahan membaca data tanpa konfirmasi. “Data potensi banjir dan pergerakan tanah itu dua hal berbeda. Hati-hati jangan salah baca,” tegas  Eko Prajudhy Noor Aly, Kamis (11/7).

Menurut dia, informasi itu benar-benar membuat resah hingga pihaknya harus menjelaskan berbagai hal soal informasi itu. Meski demikian, pihaknya membenarkan adanya pergerakan tanah, khususnya di sekitar aliran sungai besar (Bengawan Solo) yang melalui dua kecamatan, seperti Pasar Kliwon dan Jebres. “Hanya pergeseran tanah saja tapi tidak menimbulkan potensi bencana. Jadi warga tak perlu khawatir,” kata Eko.

Humas Info Mitigasi Hari Prabowo memastikan pergerakan tanah yang di Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral itu hanya sebagai pedoman yang datanya diolah berdasarkan pantauan satelit soal pergerakan tanah. “Data ini di-update per 10 hari sekali. Jadi pasti akan ada perubahan walau hanya sedikit. Saya sudah cek kalau untuk Solo tak ada potensi bencana,” jelas Hari.

Adanya pergerakan tanah itu hanya terlihat di daerah aliran sungai saja. Salah satu dampaknya berupa tanah amblas seperti longsor tebing atau talut. Namun tidak berdampak pada wilayah lainnya. “Potensi terbesar di saat musim hujan. Musim kemarau yang bisa dilakukan adalah penguatan tebing, pembuatan talut, dan penghijauan,” tutur Hari. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia