Rabu, 24 Jul 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Sulap Limbah Kayu Palet Jadi Meja dan Kursi Cafe

12 Juli 2019, 19: 07: 07 WIB | editor : Perdana

KREATIF: Kursi ala kafe produk dari BUMDes Kemudo Makmur.

KREATIF: Kursi ala kafe produk dari BUMDes Kemudo Makmur. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Di Desa Kemudo, Kecamatan Prambanan, cukup banyak limbah kayu palet yang tidak terpakai. Menumpuk di kawasan industri. Peluang ini ditangkap Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Kemuto Makmur. Limbah kayu palet disulap jadi kursi restoran dan cafe.

ANGGA PURENDA, Klaten

KECAMATAN Prambanan, khususnya Desa Kemudo banyak berdiri aneka industri besar. Tak heran jika di sana banyak terdapat limbah kayu palet bekas industri yang dibiarkan menumpuk. Oleh BUMDes Kemudo Makmur, lumbah kayu ini diolah jadi kerajinan kreatif.

Saat ini, BUMDes setempat sedang giat-giatnya memproduksi kerajinan berupa meja dan kursi dari bahan kayu palet. Siapa sangka, produk mebel ini diminati restoran dan cafe. Omzetnya di luar dugaan: Rp 1 miliar per tahun.

Produksi mebel dari limbah kayu palet ini sudah digalakkan sejak 2017. Setiap bulan membutuhkan sekitar 1.000 potong kayu. ”Bahan utamanya kami ambil dari limbah kering perusahan-perusahaan di sekitar desa. Kami olah dan dibentuk menjadi mebel berbagai model. Tetapi permintaan yang paling laris kursi dan meja cafe,” terang Kepala Desa Kemudo Hermawan Kristanto kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (11/7).

Permintaan pasar mebel limbah kayu palet datang dari berbagai kota besar. Sebut saja Jakarta dan Bandung. Satu set meja dan kursi dibandrol Rp 1,5 juta. Selain itu, BUMDes setempat juga membuat kerajinan tangan berupa wadah bumbu masakan, jam dinding, dan gantungan kunci.

Produksi kerajinan ini melibatkan 15 orang. Meski terbilang sukses, namun bukan berarti tidak menemui kendala. Saat ini, BUMDes setempat mengaku kesulitan mendapatkan bahan baku limbah kayu palet.

”Beberapa bulan ini agak sulit mencari bahan baku. Karena industri sekarang sudah jarang yang pakai kayu palet. Mereka menggantinya dengan bahan plastik. Alasannya lebih efisien dan murah,” keluh Hermawan.

Sebagai antisipai, dalam waktu dekat Hermawan bakal melakukan pengecekan terhadap ketersediaan limbah kayu palet. Bakal mendatangi perusahaan-perusahaan yang masih menyediakan. Sedangkan jika dipaksakan membeli bahan baku, justru harganya membumbung tinggi. Dikhawatirkan menambah cost produksi.

Tak dipungkiri, unit usaha pengolahan limbah kayu palet berkontribusi besar terhadap pendapatan asli desa (PAD). Termasuk memberi pemasukan untuk lembaga tingkat RT, RW, dan PKK. ”Sebelumnya, PAD kami hanya mengandalkan sewa tanah kas desa sekitar 10 hektare. Pemasukan kami hanya Rp 95 juta per tahun. Ke depannya, akan mengembangkan unit-unit usaha lain. Termasuk rencana membanguan showroom di jalan utama Solo-Jogja,” bebernya. (*/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia