Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Pendidikan

Cepat Deteksi Banjir dengan Fiber Optic

12 Juli 2019, 20: 13: 24 WIB | editor : Perdana

SIMPEL: Dari kiri Andi, Yulia, dan Wahyu tunjukkan alat EWS kreasi mereka. 

SIMPEL: Dari kiri Andi, Yulia, dan Wahyu tunjukkan alat EWS kreasi mereka.  (SEPTINA FADIA PUTRI/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Salah satu bencana yang kerap melanda tanah air adalah banjir. Terutama di daerah padat penduduk yang lahan permukimannya minim resapan air. Dampaknya tidak hanya kerugian material, tapi juga menimbulkan korban jiwa.

Untuk itu, diperlukan alat pendeteksi banjir  sederhana yang dapat dipakai oleh masyarakat secara mandiri dan dapat berfungsi secara efektif. “Kami membuat early warning system (EWS) dengan metode pemantulan fiber. Alat ini sebagai solusi menghadapi masalah banjir,” beber mahasiswa program studi (prodi) Fisika Universitas Sebelas Maret (UNS) Andi Galih Prayogi kepada Jawa Pos Radar Solo.

Bersama dua rekannya, Wahyu Setiawan dan Yulia Indriani, Andi membuat alat pendeteksi banjir yang mengirim informasi level ketinggian air secara cepat ke masyarakat melalu SMS dan web. 

Alat ini menggunakan sel surya sebagai sumber tegangan. Sehingga pada siang hari panel surya sebagai sumber tegangan langsung pada alat dan menyimpan energi pada aki untuk digunakan saat malam hari, saat tidak ada sinar matahari.

"Ini akan menghemat dalam penggunaan sumber daya listrik. Selain itu, alat ini menggunakan LED merah sebagai sumber sinyal pada fiber optic. LED merah digunakan karena memiliki panjang gelombang dengan rentang yang panjang sehingga cocok digunakan sebagai sensor. Semakin besar panjang gelombangnya, maka intensitasnya semakin besar," jelas Andi.

Alat ini diklaim sebagai EWS untuk banjir pertama yang memanfaatkan pemantulan cahaya dengan menggunakam fiber optic. Andi mengatakan, dibandingkan pendeteksi banjir lainnya, alat ini menggunakan sel surya sebagai sumber tegangan pada siang hari berasal dari sinar matahari langsung, dan pada malam hari menggunakan baterai yang telah diisi pada siang hari dengan sinar matahari. 

“Alat ini sangat sensitif terhadap perubahan ketinggian air akibat dari penggunaan fiber optic dan pengiriman sinyal  ke deteksi," terang Yulia Indriani.

Dia menyebut alat ini sangat bergantung dengan intensitas cahaya. Ketika ketinggian air meningkat, maka piston akan naik ke atas dan memberikan pantulan cahaya, sehingga intensitas cahaya akan berubah-ubah seiring dengan bergeraknya piston. Semakin naik ketinggian piston, maka semakin besar intensitasnya. Oleh karena itu alat ini dibuat menjadi tiga level ketinggian, yaitu level siaga, waspada, dan awas. 

"Level siaga yaitu level dengan ketinggian tiga meter dari permukaan tanah. Level waspada ketinggian air dua meter dari tanah, dan level awas dengan ketinggian air satu meter dari permukaan tanah,” paparnya. 

“Selain menggunakan LED merah, juga menggunakan fiber optic sebagai transisi sinyal menuju sensor di mana dari sensor akan menuju photodiode untuk didapatkan data intensitasnya," sambung anggota lainnya, Wahyu Setyawan.

Saat piston naik, lanjut Wahyu, pemantulan akan semakin besar, hambatan dan tegangannya pun menjadi besar. Ketika tegangan membesar, maka intensitas cahaya akan semakin besar. Sehingga semakin kecil jarak piston dengan sumber cahaya, LED merah, maka intensitas cahaya akan semakin besar.

Kemudian data akan diolah untuk memberikan informasi melalui web dan SMS ketika intensitas yang didapatkan melebihi intensitas yang telah ditentukan.

Inovasi tersebut mengantarkan tiga mahasiswa ini lolos pendanaan Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) oleh Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) 2019.

"Dengan alat ini kami berharap dampak banjir dapat dikurangi karena masyarakat lebih siap menghadapi datangnya banjir. Salah satunya dengan menyebarkan informasi level ketinggian air sungai secara cepat ke masyarakat," tandas dosen pembimbing tim, Mochtar Yunianto. (sct/aya/wa)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia