Sabtu, 07 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Ribuan Korban Investasi Obat Herbal Geruduk PT Krishna Alam Sejahtera

12 Juli 2019, 20: 30: 09 WIB | editor : Perdana

Para warga yang jadi korban investasi bodong obat herbal menggeruduk kantor PT Krishna Alam Sejahtera

Para warga yang jadi korban investasi bodong obat herbal menggeruduk kantor PT Krishna Alam Sejahtera

Share this      

KLATEN - Kantor PT Krishna Alam Sejahtera yang berada di Dusun Kringinan RT 01/RW 04 Desa Kajen, Kecamatan Ceper, Klaten digeruduk ribuan orang sejak Kamis (11/7) siang. Mereka adalah bagian dari 1.800-an mitra yang meminta kejelasan terkait modal yang diinvestasikan ke perusahan distributor obat herbal itu.

Para mitra tersebut merasa resah setelah muncul pengumuman libur tiga hari, namun pihak perusahaan tidak memberi kejelasan apapun. Mereka yang kadung menanamkan investasi di perusahaan itu akhirnya melapor ke Mapolsek Ceper atas dugaan penipuan.

Salah seorang mitra Agus, 22, mengatakan, baru dua pekan ini dia menanamkan investasi di PT Krishna Alam Sejahtera. Ada beberapa paket investasi yang ditawarkan, nilainya mulai Rp 8 juta hingga Rp 24 juta.

”Saya memilih paket A Rp 8 juta. Artinya, setiap pekannya kita bakal mendapat gaji sebesar Rp 1 juta setelah menyetorkan hasil oven rempah-rempah,” ujar warga Desa Tirtomarto, Kecamatan Cawas itu.

Agus tertarik untuk berinvestasi ke PT Krishna Alam Sejahtera karena diajak temannya. Apalagi dia juga sudah melihat bukti jika ada mitra lain yang mendapat keuntungan sesuai janji perusahaan. Namun, malang bagi Agus. Belum juga mendapat untung, justru perusahaan itu keburu tutup.

”Kecurigaan kami muncul ketika ada pengumuman libur yang diumumkan lewat grup-grup itu. Kesannya mendadak, katanya mau ada sidak dari BPOM. Tetapi setelah coba dihubungi (direktur PT Krishna Alam Sejahtera) oleh beberapa mitra ternyata sudah tidak bisa lagi,” papar Agus.

Sementara itu, pantauan Jawa Pos Radar Solo di kantor PT Krishna Alam Sejahtera pada Kamis (11/7) malam, ternyata kantor itu berupa rumah kontrakan. Kondisinya sepi dan terkunci, tak satu pun pengurus perusahaan terlihat. Meski demikian, silih berganti mitra berdatangan mendatangi kantor tersebut untuk mencari tahu nasib modalnya yang sudah terlanjut dinvestasikan. (ren/ria)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia