Rabu, 13 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Pembelajaran Kebencanaan Menyasar Guru SD

13 Juli 2019, 20: 00: 25 WIB | editor : Perdana

PElATIHAN: Sosialisasi kebencanaan oleh BPBD Klaten.

PElATIHAN: Sosialisasi kebencanaan oleh BPBD Klaten. (DOK.BPBD KLATEN)

Share this      

KLATEN – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten terus berupaya meningkatkan pembelajaran kebencanaan kepada masyarakat. Paling gres, menyasar puluhan guru SD negeri. Pelatihan berlangsung di sebuah hotel di Klaten.

Sebanyak 50 guru SD negeri di Klaten mengikuti pelatihan dari BPBD Klaten. Diharapkan, upaya ini dapat meningkatkan kompetensi terkait pengurangan risiko kebencanaan di sekolah masing-masing peserta.

”Jadi sekolah siaga bencana ini pertama kami implementasikan. Karena kami sebenarnya sudah memiliki Perbup Nomor 6 tahun 2014 terkait Panduan Pembelajaran Bencana. Jadi di tingkat kabupaten, kami sebenarnya sudah memiliki kurikulum mulai dari PAUD hingga SMA,” jelas Kabid Pencegahan dan Kesiapan BPBD Klaten Nur Tjahjono Suharto, kemarin (12/7).

Pelatihan melibatkan guru dinilai lebih efektif dan efesien daripada harus kunjungan ke sekolah. Mengingat jumlah SD negeri di Klaten mencapai 400 sekolah. Jumlah itu belum termasuk SD swasta.

Metode pembelajaran ini sejatinya sudah bergulir sejak 2015. Melahirkan sejumlah sekolah siaga bencana. Kini sudah ada 40 sekolah siaga bencana jenjang SMA/SMK. Sedangkan pada 2016-2017, terdapat 30 SMP yang menjadi sekolah siaga bencana.

”Tingkat SD terdapat 15 sekolah yang dibentuk pada 2018. Jadi hingga saat ini, total sekolah siaga bencana di Klaten mencapai 85 sekolah. Kalau kami melakukan kunjungan ke sekolah, programnya agak lambat. Butuh waktu untuk melatih,” urainya.

Terkait pembelajaran kebencanaan, Klaten menjadi pioner di Jawa Tengah. Karena sudah memiliki kurikulum. Selama ini, kurikulum kebencanaan diintegrasikan dengan berbagai kegiatan ekstrakurikuler. Mulai dari pramuka, PMR, hingga ekstrakurikuler mitigasi kebencanaan. ”Saat ini kami sudah punya sejumlah sekolah yang dijadikan model pembelajaran kebencanaan. Baik itu jenjang SMP maupun SMA,” bebernya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia