Kamis, 22 Aug 2019
radarsolo
icon featured
Features

Novi Ekawati Bertekad Mandiri dengan Akar Bambu

14 Juli 2019, 07: 35: 59 WIB | editor : Perdana

NATURAL: Kerajinan akar bambu yang menjadi barang dagangan Novi ke luar negeri.  

NATURAL: Kerajinan akar bambu yang menjadi barang dagangan Novi ke luar negeri.   (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

Akar bambu biasanya dibuang begitu saja. Dianggap tak berguna. Padahal, jika telaten mengolahnya, limbah tersebut bisa mendatangkan pundi-pundi rupiah. Itu dibuktikan Novi Ekawati.

A.CHRISTIAN, Solo    

ITIK, kelinci dan objek kerajinan lainnya nyaris memenuhi ruang tamu rumah Novi di RT 04 RW 07 Kelurahan Danukusman, Kecamatan Serengan. Uniknya, itik dan kelinci tersebut memiliki “rambut” alami berupa akar bambu yang sengaja dibiarkan tak dipangkas. 

Bisnis kerajinan yang digeluti Novi sejak 2013 itu berawal dari media sosial milik rekannya yang menampilkan foto mainan bebek dari akar bambu. Dia pun tertarik untuk kulakan dan menjualnya. “Setelah saya coba pasarkan, ternyata cukup banyak peminatnya,” katanya. 

Di awal merintis usaha, tantangan menghadang. Rekan bisnisnya tidak selalu memproduksi itik mainan dari bambu. Tak menyerah, Novi mencari informasi tempat kulakan kerajjinan akar bambu. Akhirnya diketahui bahwa sentra perajinnya ada di Klaten. “Ya sudah saya langsung ambil (kulakan, Red),” katanya.

Seiring waktu, jumlah pesanan kerajinan bambu membeludak. Novi sampai kesulitan melayani order. Sebab, dia juga bekerja di salah satu pabrik di Kota Solo. Hingga akhirnya pada 2017, Novi resign dan memilih fokus berwirausaha.

“Kalau dulu mulai proses bahan baku sampai finishing dilakukan perajin, saya cuma jual. Setelah saya keluar kerja, bisa ikut andil proses finishing,” jelasnya.

Ada tiga jenis proses finishing kerjinan tersebut. Pertama natural, yakni hanya dipernis. Kedua dicanting, dan terakhir dicat. Meski proses pembuatan kerajinan dari bahan mentah hingga setengah jadi bukan dihasilkan tangannya sendiri, bukan berarti Novi lepas tangan. Dia tetap melakukan pengecekan guna memastikan kualitas bebek hiasan.

Menghindari kesan monoton, bebek mainan tersebut dikonsep sesuai tema. Seperti Natal, Valentine, dan sebagainya. Produk tersebut lebih banyak meyasar pasar luar negeri. Sebab, pasar lokal kurang menggairahkan. Hal tersebut dirasakan saat berdagang di Night Market Ngarsopuro. “Hiasan bagi pasar local masih menjadi kebutuhan yang kesekian. Jadi sepi peminat,” tuturnya.

Berbeda dengan di luar negeri. Kerajinan akar bambu memiliki pasar cukup cerah. Negara yang kerap memesan langsung ke Novi yakni Inggris, Denmark, dan Jerman. Ada pula pesanan datang dari perusahan trading di Jogjakarta, Cirebon, dan Jakarta.

Selain mengandalkan pemasaran secara online, Novi membuka toko offline di Jakarta. Ke depan, pasar yang menjadi incarannya yakni Bali. “Ya semoga bisa bisa tembus,” harapnya.

Soal omzet per bulan, Novi tidak bisa merincinya. Sebab, tergantung ramai tidaknya pasar. Dia hanya mengatakan, setiap kerajinan bebek dibanderol dengan harga Rp 50 ribu sampai Rp 200 ribu tergantung ukuran dan jenis finishing. Dalam sebulan, bisa laku terjual sekitar 1.000 buah kerajinan. (*/wa) 

(rs/atn/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia