Kamis, 12 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Sekolah Dekat, Tren Pelajar Nge-Kos Redup

Sistem Zonasi Pengaruhi Bisnis Pemondokan

14 Juli 2019, 10: 05: 59 WIB | editor : Perdana

KHUSUS PUTRI: Kini pemilik kos tidak bisa hanya mengandalkan penghuni dari kalangan pelajar seiring diterapkannya sistem zonasi.

KHUSUS PUTRI: Kini pemilik kos tidak bisa hanya mengandalkan penghuni dari kalangan pelajar seiring diterapkannya sistem zonasi. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

Sistem zonasi yang diterapkan dalam penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ini tidak hanya berdampak kepada calon murid dan orang tua, tapi juga jumlah pelajar yang nge-kos di sekitar sekolah.

KEDATANGAN Jawa Pos Radar Solo di rumah kos Kampung Begalon RT 05 RW 03 Kelurahan Panularan, Kecamatan Laweyan, Sabtu sore (13/7) disambut ramah pemiliknya. Yuliana Srihardini, 84, mengaku sudah lebih dari 20 tahun menekuni bisnis kos.

"Suami saya sudah pensiun. Anak juga sudah punya rumah sendiri. Jadi biar nggak sepi dan buat tambah-tambah (penghasilan, Red) saya pikir bagaimana kalau buat kos-kosan," jelasnya.

Sepetak lahan di samping rumahnya dimanfaatkan untuk membangun sejumlah kamar kos.  Yuliana optimistis usahanya bakal laris manis mengingat lokasi rumahnya Jalan Sri Nalendra III dekat dengan sekolah, kampus, dan lembaga pendidikan swasta.

Benar saja, dinding kos belum berdiri utuh, sudah ada pelajar maupun mahasiswa berminat nge¬-kos. “Saya arahkan ke tetangga yang juga punya rumah kos. Nanti kalau sudah jadi dan mau nge-kos ditempat saya, ya silakan,” jelas dia.

Rampung membangun lima kamar kos, Yuliana kebanjiran peminat. Mayoritas dari murid SMAN 7 Surakarta. Karena memang posisi kos tersebut hanya selemparan batu dengan bangunan sekolah. "Anak SMA Negeri 7 kala itu paling jauh berasal dari Lombok. Dari kelas satu sampai lulus kos di sini,” kenangnya.

Di era 1990-an tersebut, imbuh Yuliana, belum banyak rumah kos di kampungnya. Sehingga, tidak sulit mendapatkan penyewa kamar. Khususnya dari kalangan pelajar. Tapi saat ini, hanya ada dua  penghuni kamar berstatus pelajar SMAN 7. Tiga penghuni lainnya merupakan karyawan dan mahasiswa.

Memasuki tahun ajaran baru kali ini, belum ada siswa yang mampir ke kos Yuliana untuk menanyakan sewa kamar. "Kalau makin jarang anak sekolah dari luar daerah (cari kos, Red) itu terjadi beberapa tahun terakhir. Tahun lalu hanya dua pelajar yang kos di sini. Tahun ajaran ini belum ada," katanya.

Apakah berpengaruh terhadap omzet rumah kosnya? Yuliana menyatakan tidak berdampak. Sebab, meskipun sudah mulai jarang pelajar nge-kos, kamar bisa diisi penyewa dari latar belakang lainnya. “Entah dari mahasiwa atau pekerja, pasti ada yang berminat mengisi kamar kosong," tutur dia.

Berkurangnya jumlah pelajar yang nge-kos diamini, Rustam Sunaryo, pemilik rumah kos khusus pelajar di belakang SMAN 4 Surakarta. ”Dari beberapa tahun lalu memang terlihat penurunannya," ucapnya.

Terkait jumlah pelajar yang nge-kos di tempatnya, Rustam hanya menggelengkan kepala. Dia hanya mengatakan zonasi memang berpengaruh terhadap jumlah pelajar nge-kos. Tapi, kondisi tersebut bukan masalah. Karena kos hanya bisnis sampingan. 

“Kos yang urus istri saya. Saya nggak tahu ada berapa kamar yang terisi sekarang. Kalau ditanya berdampak atau tidak (sistem zonasi, Red) ya memang berdampak (jumlah pelajar nge-kos), karena buat apa kos kalau rumahnya di sekitar sekolah. Tapi sisi positifnya kan pemerataan pendidikan," beber dia.

Sebelumnya, pelajar yang nge-kos di tempat Rustam merupakan turun temurun. Artinya, sang kakak pernah nge-kos di tempat tersebut kemudian diteruskan adiknya. “Saudaranya juga pernah di sini. Atau malah ayah-ibu mereka sempat kos di sini. Jadi sudah banyak yang tahu," tuturnya. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia