Rabu, 21 Aug 2019
radarsolo
icon featured
Features

Lika-Liku Bertahan di Jalur Band Indie 

15 Juli 2019, 11: 22: 24 WIB | editor : Perdana

BERTAHAN: Teori tampil menjadi band pembuka di Lokananta Solo pekan lalu.

BERTAHAN: Teori tampil menjadi band pembuka di Lokananta Solo pekan lalu. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

Memilih jalur band indie memang tidak mudah. Butuh kesabaran dan ketalatenan karena semua serba diurus sendiri. Mulai dari akomodasi hingga biaya di dapur rekaman. Sembilan tahun, band indie Teori mampu bertahan meski harus beberapa kali ganti personel. Seperti apa lika-liku di jalur indie?

SILVESTER KURNIAWAN, Solo

BAK sebuah nostalgia, penampilan band indie Teori malam itu seakan mengurai rindu para penikmat musik. Meski hanya tampil sebagai band pembuka duo musisi asal Belanda di awal bulan lalu, Teori mampu membuktikan bahwa karyanya memang diminati banyak pendengar. Terbukti dari riuahnya suasana kala pentas tiga puluh menitan itu. “Maju dong, sini maju aja makin mepet makin asyik,” sapa sang vokalis Teori, Ichsandy “Sandy” Nugraha ini. 

Meski hanya membawakan lima lagu, Teori mampu memberikan jawaban pada para penonton malam itu atas lamanya absen dari dunia hiburan musik indie belakangan ini. Malam itu tiga lagu anyar yang baru selesai proses rekaman dia bawakan sebagai jawaban pertanyaan yang tak sempat diurai. Single baru berjudul Surut dan Luruh Siar  menjadi lagu pembuka. Disusul dua lagu dari album pertama berjudul Lovely Bones dan Sesari Selagu. Dan ditutup dengan apik lewat tembang  Jantung Ibu yang sarat makna karya sang penggebuk drum Donatian Argil Saga Patria “Gege”. 

“Jadi lagu ini yang tulis Gege dan sedikit saya sempurnakan. Isinya soal kerinduan seorang anak akan rumah dan kehangatan sosok ibu. Sepertinya dalam album baru ini proses-proses pendewasaan akan mewarnai banyak lagu baru ini,” jelas Sandy dalam epilognya.

Usai pentas, koran ini sempat berbincang dengan beberapa personil Teori. Sang Drumer, Gege, 28 yang sejak awal berdirinya band hingga hari ini masih jadi personel tetap mengaku proses pendewasaan musik Teori diwarnai berbagai hal dan bongkar pasang personel. Hingga akhirnya jadi lebih dewasa pada titik ini. “Terbentuk 2010 lalu dan tidak sengaja. Akhirnya sampai sejauh ini, ya tak bisa kami bayangkanlah,” ucap Gege.

Awal dibentuk sembilan tahun lalu itu, band yang satu ini belum memakai nama Teori, mereka lebih dikenal sebagai Jollyroger. Gege mengaku dibentuknya band ini bukan karena banyak pertimbangan melainkan untuk memeriahkan lahirnya Komunitas Solo Blues Rock yang dia bentuk bersama kawan-kawan musisi muda Kota Bengawan. Dari sana, Gege dan tiga kawannya rutin bermain dalam giat kopi darat komunitas di Balai Soedjatmoko. 

Lama kelamaan, hasrat bermusik makin tinggi seiring dengan ego masing-masing personel. Dari sanalah nama-nama baru datang silih berganti melengkapi pendewasaan Teori. “Yang dari awal paling saya dan Martin (gitaris). Tapi sampai di titik ini formasi paling baik dalam band ini,” jelas Gege.

Suka duka pun mewarnai perjalanan Teori. Bahkan yang paling tak bisa disangkal adalah soal uang. “Suka duka itu banyak. Tapi yang paling berat kalau band indie itu ya soal uang. Mau manggung di kota lain saja harus patungan, begitu juga kalau mau rekaman lagu. Saking kerenya kami, rekaman saja pinjam studio teman. Pokoknya cari yang paling irit karena kalau sewa studio bagus kami nggak ada duit. Tapi malah dari sini kami bisa belajar bagai mana cara mixing dan buat komposisi di dapur rekaman,” kelakar Gege.

Dari mana ide-ide Teori berasal? Sang gitaris, Martin mengatakan, musik Teori bukan murni lahir dari satu orang, namun dihasilkan dalam balutan kebersamaan dan saling menyempurnakan. Salah satu contoh yang paling gampang adalah ketika suatu waktu dia tiba-tiba dapat ide soal bentuk musik dari gitar yang dia mainkan. Ide mentah itu akhirnya disodorkan pada tiga rekannya untuk kemudian dibongkar dan dikemas dalam bentuk baru yang lebih “Teori”. 

“Basiknya saling melengkapi lah. Karena di sini bukan hanya rekan bermusik, tapi sudah seperti keluarga. Dan apapun risikonya bermain di jalur indie kami sudah paham. Tinggal bagaimana kami membuktikan ketahanan kami bertahan di jalur indie,” kata pria yang memiliki nama lengkap Martinus Sentana itu. (*)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia