Rabu, 11 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features
Cerita Para Korban Investasi Bodong Klaten

Tukang Pijat Keluarga Ikut Tertipu Rp 100 Juta

16 Juli 2019, 12: 30: 39 WIB | editor : Perdana

SEDIH: Karmini, tukang pijat keluarga Al Farizi di Mapolres Klaten.

SEDIH: Karmini, tukang pijat keluarga Al Farizi di Mapolres Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Korban penipuan berkedok investasi bodong jamu herbal yang dilakoni Direktur PT Krishna Alam Sejahtera Al Farizi cukup banyak. Tak terkecuali Karmini, 47, tukang pijat kepercayaan Al Farizi. Tak tanggung-tanggung investasi lebih dari Rp 100 juta ikut digondol “Pak Bos”.

ANGGA PURENDA, Klaten

TERIK panas matahari tak menyurutkan niat ratusan korban investasi bodong PT Krishna Alam Sejahtera datang ke Mapolres Klaten, kemarin (15/7). Mereka meminta jajaran Polres Klaten mengusut tuntas kasus tersebut. Syukur-syukur bisa menangkap dalang utamanya, yakni Al Farizi.

Para mitra ini juga berharap modal yang sudah diinvestasikan balik. Seorang di antaranya Karmini. Perempuan paro baya berhijab asal Desa Wonosari, Kecamatan Trucuk ini tak lain tukang pijat kepercayaan keluarga Al Farizi.

Menariknya, Karmini merupakan satu-satunya orang yang diperbolehkan naik ke lantai 2 kantor PT Krishna Alam Sejahtera sekaligus kediaman Al Farizi di Dusun Kiringan, Desa Kajen, Kecamatan Ceper. Bahkan para pengurus perusahaan investasi jamu herbal ini pun tak satu pun boleh menginjakkan kakinya di lantai 2. Apalagi bersua istri Al Farizi, Fitri.

”Lantai 2 cuma ada TV dan kasur, serta sejumlah barang keperluan Pak Bos (sebutan Al Farizi) sehari-hari. Istrinya lebih sering di lantai 2 dan jarang keluar. Dari sini sebenarnya saya sudah menaruh curiga,” ujar Karmini kepada Jawa Pos Radar Solo.

Awalnya, Karmini mengetahui investasi jamu herbal ini dari para tetangganya. Mereka mengimingi hasil keuntungan yang didapat. Dia lalu tergerak menemui Pak Bos. Ternyata Pak Bos sudah tahu jika dia berprofesi sebagai dukun atau tukang pijat bayi.

Karmini pertama kali memijat anak Pak Bos, Februari lalu. Memijat rutin dua kali sepekan tiap Jumat dan Minggu. Bahkan sempat memijat Pak Bos karena badannya panas, beberapa hari sebelum menghilang dan buron.

Bayaran yang diterima Karimini dari jasa pijat berupa sembako. Terkadang Pak Bos menyelipkan amplop berisi uang ke dalam beras. Sayangnya, sejak Lebaran hingga menghilangnya Pak Bos, Karmini belum mendapatkan bayaran atas jasa pijatnya.

”Sambil memijat anaknya itu, saya ikutan investasi dengan modal awal Rp 8 juta. Saya ambil paket A. Tapi saya tertarik untuk nambah-nambah modal terus. Hingga akhirnya total ada 13 paket yang saya ambil. Juga ada titipan orang lain,” bebernya.

Dari investasi jamu herbal itu, Karmini merugi lebih dari Rp 100 juta. Berharap masih ada niatan baik dari Pak Bos. Atas balas budi jasa pijat yang diberikan kepada anaknya. 

” Uang itu saya kumpulkan dari jasa pijat. Semoga balik semua. Misalnya Pak Bos ingat sama saya, balas budi lah jasaku yang sudah mengabdi selama ini. Karena tengah malam pun saat dibutuhkan saya selalu datang. Bahkan sering diminta menemani Mbak Fitri (istri Al Farizi) di rumah,” tuturnya. (*/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia