Senin, 18 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Siswa Hengkang karena Jurusan Tak Cocok

3 SMPN Masih Cari Murid

16 Juli 2019, 15: 57: 31 WIB | editor : Perdana

SEKOLAH LAGI: Guru SMAN 1 Wonogiri mengenakan baju adat Jawa untuk sambut peserta didik baru kemarin (15/7).

SEKOLAH LAGI: Guru SMAN 1 Wonogiri mengenakan baju adat Jawa untuk sambut peserta didik baru kemarin (15/7). (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Gara-gara masuk jurusan yang tak srek dengan hatinya. Sejumlah murid di SMAN 1 dan 2 Wonogiri memilih mengundurkan diri. Kursi mereka tidak bisa langsung diisi.

Di SMAN 1 Wonogiri ada tiga murid mundur. “Mereka menginginkan jurusan IPA, tapi oleh sistem masuk ke IPS. Akhirnya pindah ke sekolah lain,” terang Kepala SMAN 1 Wonogiri Yuli Bangun kemarin (15/7). 

Saat penerimaan peserta didik baru (PPDB), kuota sebanyak 432 sekolah setempat telah terpenuhi. Tapi, dengan adanya tiga murid mengundurkan diri, berarti ada tiga kursi kosong. Kekosongan tersebut tidak bisa langsung diisi. Harus menunggu satu semester ke depan. 

Fenomena serupa terjadi di SMA Negeri 2 Wonogiri. Ada tiga murid hengkang. Rinciannya, masing-masing satu siswa dari jurusan IPS, IPA, dan Bahasa. Wakil kepala sekolah bidang kesiswaan Tarmo menjelaskan, hingga hari pertama masuk sekolah kemarin, satu murid  jurusan IPA tak merespons konformasi guru setempat.

Sedangkan satu peserta didik jurusan IPS ternyata sudah masuk di SMKN 8 Surakarta. Sedangkan murid jurusan Bahasa mundur karena tak tidak suka dengan jurusannya.

"Sebenarnya sekolah punya kebijakan. Sepekan dua pekan ini masih memungkinkan peserta didik pindah jurusan yang sesuai. Misalnya di IPA ada lima yang mau pindah IPS, begitu pula sebaliknya. Maka bisa pindah kalau jumlahnya sesuai. Kalau tidak ada (yang ingin pindah), ya tidak bisa. Harus sesuai rombel (rombongan belajar terdiri dari 36 anak),” beber dia.  

Sementara itu di Sukoharjo, masih ada tiga SMPN yang kekurangan murid. Yakni SMPN 3 Bulu, SMPN 2 dan SMPN 3 Bendosari. Namun, kegiatan belajar mengajar tetap berlangsung.

"Semua sekolah melaksanakan kegiatan secara normal meski masih ada yang belum mampu memenuhi kuota. Sebelumnya saat penutupan PPDB online 13-15 Juni kemarin masih ada 16 SMPN belum mampu memenuhi kuota siswa baru. Mereka diperpanjang melaksanakan PPDB offline," papar Kabid Pembinaan SMP Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Sukoharjo Dwi Atmojo Heri.

Menurutnya, lokasi sekolah di kawasan terpencil menyebabkan calon murid sulit mengaksesnya, sehingga enggan mendaftar. Kondisi tersebut menjadi catatan serius Disdikbud Sukoharjo.

"Ada beberapa penyebab sekolah mengalami kekurangan siswa. Tidak hanya kendala akses, namun juga karena input (jumlah lulusan SD) atau anak yang akan mendaftar SMPN," jelas Dwi.

Staf Tata Usaha (TU) SMPN 3 Bendosari Sugimin mengatakan, kuota sekolahnya sebanyak 64 siswa. Namun, hingga kemarin baru mendapatkan 22 siswa. Sebab itu, sekolah masih buka pendaftaran secara offline. (kwl/rgl/wa)

(rs/kwl/rgl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia