Rabu, 11 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Harga Meroket, Petani Cabai Semringah

16 Juli 2019, 16: 15: 37 WIB | editor : Perdana

MELIMPAH: Panen cabai di lahan Desa Salakan, Kecamatan Teras, kemarin (15/7).

MELIMPAH: Panen cabai di lahan Desa Salakan, Kecamatan Teras, kemarin (15/7). (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI – Beberapa pekan ini, harga komoditas cabai terus membumbung tinggi. Penyebabnya, banyak petani cabai yang gagal panen akibat kekurangan air.

Suyatun, 62, petani Desa Salakan, Kecamatan Teras mengaku hasil penen cabai tak maksimal. Tak adanya pasokan air menjadikan perkembangan tanaman cabai terhambat. Bahkan ada sebagian tanaman mati.

”Kalau bisa panen, itu pun jumlahnya sedikit. Kemarau ini susah cari air. Daun cabai bnanyak yang keriting lalu mengering,” ujarnya, kemarin (15/7).

Kendati demikian, petani diuntungkan dengan kenaikan harga cabai. Di tingkat petani, hanya perlahan mengalami kenaikan. Mulai dari Rp 30.000, lalu naik Rp 35.000, dan kini sudah tembus Rp 40.000 per kilogram.

Sri Rejeki, 51, petani Desa Salakan mengaku untung banyak pada musim panen ini. Kendati produksinya terbatas, namun harganya terbilang tinggi. ”Panen cabai setiap 2-3 hari sekali. Tiap panen antara 10-15 kilogram cabai,” bebernya.

Sementara itu, harga cabai di sejumah pasar tradisional meroket. Bahkan kenaikannya mencapai dua kali lipat dibandingkan sebelumnya. Di Pasar Gagan, Kecamatan Ngemplak misalnya. Cabai keriting melonjak menjadi Rp 60.000 per kg dari sebelumnya Rp 25.000 per kg. Cabai rawit naik dari Rp 30.000 jadi Rp 65.000 per kg. Harga cabai merah juga naik dari Rp 25.000 jadi Rp 55.000 per kg.

“Harga mahal karena pasokan dari petani berkurang. Omzet saya malah turun. Biasanya bisa menjual 5-7 kg per hari. Sekarang paling hanya 2 kg saja. Otomatis saya tak berani stok banyak. Kalau tidak laku, cabai busuk. Saya yang rugi,” keluh Wawan, 52, pedagang cabai Pasar Gagan. (wid/fer)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia