Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Misteri Kematian Bocah Penuh Luka Lebam, Benarkah Dibunuh Ibu Kandung?

16 Juli 2019, 20: 32: 53 WIB | editor : Perdana

SEPI: Rumah tempat tinggal Siti Wakidah bersama almarhum anaknya di Dusun/Desa Tanduk RT 05 RW 02, Kecamatan Ampel, Boyolali.

SEPI: Rumah tempat tinggal Siti Wakidah bersama almarhum anaknya di Dusun/Desa Tanduk RT 05 RW 02, Kecamatan Ampel, Boyolali. (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

BOYOLALI - Kematian F, asal Dusun/Desa Tanduk RT 05 RW 02, Kecamatan Ampel, Boyolali, masih diselimuti misteri. Bocah 6 tahun itu diduga meninggal karena mengalami kekerasan oleh ibu kandungnya. Untuk mengungkap ini, kemarin (16/7), polisi membongkar makam di Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang untuk mengetahui penyebab pasti kematiannya. 

Kapolres Boyolali AKBP Kusumo Wahyu Bintoro melalui Kasat Reskrim Iptu Mulyanto mengatakan, pembongkaran makam ini untuk memastikan penyebab kematian F yang diduga janggal. Sebab, banyak luka lebam pada tubuh dia yang meninggal pada Kamis pekan lalu (11/7). 

Berdasarkan keterangan warga yang mengurus jenazah F, mereka melihat ada tanda-tanda kekerasan hampir di sekujur tubuh F. Antara lain, di mata sebelah kiri, telinga kanan dan pipi kanan mengalami bengkak lebam kebiruan. 

Tak hanya itu, di sudut bibir kanan juga terdapat bekas darah kering dan banyak luka lebam seperti bekas cubitan. Pada bagian perut sebelah kiri juga terdapat bekas luka dan darah yang sudah mengering. “Pada hari yang sama, F langsung dimakamkan di kampung halaman ibunya di Desa Cukilan, Kecamatan Suruh, Kabupaten Semarang,” kata Mulyanto. 

Polisi kemudian melakukan otopsi dengan membongkar makam F bersama Tim Dokkes Polda Jateng. Hasil otopsi ini untuk mengetahui penyebab pasti kematian F. Hal ini untuk menjawab desas-desus yang berkembang di masyarakat bahwa kematian F karena diduga dianiaya ibu kandungnya, SW, 30. Saat ini, SW sudah diamankan di Mapolres Boyolali untuk dimintai keterangan. Namun, hingga kemarin dia belum ditetapkan sebagai tersangka.

Bagaimana SW di mata tetangga? Purwanti, 50, tetangga F mengaku bahwa SW selama ini jarang keluar rumah. Padahal, dia sudah tinggal di rumah itu hampir dua tahun ini. “Orangnya tertutup. tidak pernah bergaul dengan tetangganya di sini. Sehari-hari hanya berada di dalam rumah dan sesekali keluar di halaman saja atau warung sekitar,” ujarnya.

Saking tertutupnya, lanjutnya, untuk semua kebutuhan dicukupi atau dibelikan oleh suaminya yang sehari-hari bekerja sebagai sopir serabutan. Saat kejadian itu, sang suami juga sedang bekerja. “Dulu saya pernah memberi makanan atau jajanan ke anaknya. Tapi oleh ibunya tidak diperbolehkan. Setelah itu saya tidak pernah beri apapun,” ujarnya. (wid/bun)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia