Rabu, 11 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features
Cerita Para Korban Investasi Bodong

Ikut 27 Paket, Kontraktor Tertipu Hampir Rp 700 Juta

17 Juli 2019, 13: 40: 52 WIB | editor : Perdana

KONTRAKTOR: Wahyudi, korban investasi bodong di Mapolres Klaten.

KONTRAKTOR: Wahyudi, korban investasi bodong di Mapolres Klaten. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Korban investasi bodong berkedok bisnis jamu herbal yang dijalankan Direktur PT Krishna Alam Sejahtera Al Farizi datang dari berbagai kalangan. Seorang diantaranya Wahyudi, 50, warga Desa Juwiran, Kecamatan Juwiring. Kontraktor ini mengaku dirugikan hampir Rp 700 juta.

ANGGA PURENDA, Klaten

WAHYUDI cukup vokal menyuarakan agar jajaran Polres Klaten segera menangkap dalam investasi bodong berkedok bisnis jamu herbal, Al Farizi. Saat menggeruduk Mapolres Klaten, Senin (15/7), dia mengenakan jaket cokelat. Di pundaknya terkalung tas selempang warna hitam.

Bisa dimaklumi jika sikap kontraktor yang tinggal di Desa Juwiran, Kecamatan Juwiring ini cukup berapi-api. Karena dia merupakan mitra investasi bodong yang mengalami kerugian paling banyak. Uang yang sudah dinvestasikan mencapai Rp 648 juta. 

Awalnya, dia mendapat saran dari sejumlah orang terdekatnya yang sudah menginvestasikan modal di PT Krishna Alam Sejahtera. Tergiur iming-iming pembagian keuntungan dalam jumlah besar, Wahyudi akhirnya tertarik. Hingga akhirnya dia bisa berkenalan langsung dengan Al Farizi.

Dari perkenalan itu, Wahyudi digoda Al Farizi untuk menyetorkan modal awal. Berbagai cara dilakoninya untuk mendapatkan uang. Termasuk meminjam uang dari bank.

”Saya ingin uang kembali. Biar tidak direpotkan lagi membayar hutang di bank. Saya ingin kembali ke kehidupan seperti sebelumnya, meskipun tidak enak. Tapi saya lebih memilih itu,” keluh Wahyudi saat ditemui Jawa Pos Radar Solo di Mapolres Klaten.

Dari investasi sebesar Rp 648 juta, Wahyudi mendapat 27 paket. Oleh PT Krishna Alam Sejahtera, dia diberi imbalan 27 buah oven dan sejumlah bahan rempah-rempah. Konon, oven-oven tersebut digunakan untuk membuat jamu herbal. Tak tahu harus diapakan, oven-oven tersebut dibiarkan mangkrak di rumahnya.

”Sekarang ini saya sedang kesulitan ekonomi. Masih ada persediaan jamu di masing-masing mitra. Kalau ada pembelim, tolong diwartakan ya. Soalnya, buat apa punya oven sebanyak itu? Buat mengoven sapi saja tidak muat,” coleteh Wahyudi.

Dia meminta Al Farizi beserta para pengurus perusahaan jamu herbal itu dihukum seberat-beratnya. Dia menilai, ada niatan melakukan penipuan secara sistematis kepadanya ribuan mitra. Dia juga berharap aparat kepolisian segera menangkap pelaku.

”Saya harap bupati yang mengetahui kerugian seperti ini jangan diam-diam saja. Syukur-syukur bisa membantu untuk mencarikan ganti kerugian yang dialami para mitra,” bebernya.

Sementara itu, mitra lain yang mengalami kerugian dalam jumlah besar, yakni Abdulah, 29, warga Desa Krajan, Kecamatan Kalikotes. Dia mengalami kerugian setara dengan Wahyudi. Bahkan, oven yang dimilikinya dari hasil investasi itu tidak hanya di Klaten saja. Tetapi juga ada di Tulungagung, Jawa Timur.

”Ada sekitar 31 mesin oven yang di Tulungagung. Sedangkan di Klaten ada 19 oven. Saya ikut paket bervariasi. Mulai dari Rp 16-24 juta,” ucapnya.

Abdulah sudah dua bulan lebih berinvestasi. Bahkan yang di Tulungagung, baru sehari beroperasi, PT Krishna Alam Sejahtera sudah tutup. “Marai wong gawe susah wong akeh wae,” ketusnya. (*/bun)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia