Kamis, 22 Aug 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Kali Woro Diduga Tercemar Limbah

17 Juli 2019, 18: 17: 27 WIB | editor : Perdana

HITAM PEKAT: Kondisi Kali Woro yang diduga tercemar limbah, kemarin (16/7). Foto bawah, warga menutup saluran pembuangan limbah pabrik penyepuhan perhiasan.

HITAM PEKAT: Kondisi Kali Woro yang diduga tercemar limbah, kemarin (16/7). Foto bawah, warga menutup saluran pembuangan limbah pabrik penyepuhan perhiasan. (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Kali Woro yang melintasi perbatasan Desa Somopuro, Kecamatan Jogonalan dengan Desa Geneng, Kecamatan Prambanan diduga tercemar. Akibatnya, air sungai berwarna biru kehitam-hitaman. Dugaan menguat setelah banyak ikan yang ada di sungai tersebut mati.

Warga menduga, Kali Woro tercemar limbah dari peternakan babi di sekitar lokasi. Serta pabrik penyempuhan emas yang tepat berada di samping peternakan babi. Pantauan Jawa Pos Radar Solo, kemarin (16/7), secara fisik limbah ternak babi dan pabrik berupa cairan jernih. Sulit dibedakan jika dilihat dengan mata telanjang.

Menindaklanjuti laporan warga, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) Klaten melakukan uji sampel air, kemarin. Sampel diambil di tiga titik. Tepatnya di bagian hulu sungai yang belum tercemar, lalu bagian tengah di sekitar saluran pembuangan limbah, serta di bagian hilir. Sampel tersebut kemudian dilakukan pengujuan di laboratorium.

”Laporan warga terkait kegiatan peternakan babi yang membuang limbahnya langsung ke sungai. Sehingga ada dugaan pencemaran. Ada laporan sebagian ikan mati. Sudah kami cek dengan mengambil sampel air. Saat ini sedang proses di lab,” jelas Kabid Pengendalian Dapak Lingkungan Hidup DLHK Klaten Dwi Maryono.

Nantinya, DLHK bakal mengecek perizinan peternakan babi dan pabrik tersebut. Termasuk izin pembuangan limbah. Dwi menyebut membuah limbah ternak ke sungai tidak dibenarkan. Selain itu, izin pendirian bangunan juga dipersoalkan. Karena berdiri di bantaran sungai milik pemerintah. Selanjutnya, akan dilakukan upaya pembinaan bagi pemilik ternak dan pabrik.

”Kalau melanggar, akan ada sanksi administrasinya. Tapi akan kami cek dulu, apakah pembuangan limbah ini sudah mengantongi izin. Apakah sebelumnya sudah dilakukan pengolahan sesuai aturan berlaku,” jelasnya.

Pemilik ternak babi Sutarno mengaku awalnya beternak sapi pada 2006. Baru dua tahun ini dia beralih beternak babi. Dia berkilah limbah tidak dibuang semua ke sungai. Tetapi pada saluran yang telah disiapkannya. Karena saluran itu sudah tidak bisa menampung limbah, maka dibuang ke sungai.

Dia juga mengakui bau limbah ternak babinya cukup menyengat. ”Saya apresiasi upaya penyelematan sungai. Apalagi untuk kepentingan orang banyak. Tetapi saya tidak mau yang disalahkan hanya saya saja. Perlu dicarikan jalan keluarnya,” bebernya.

Ketua RW 06 Pandan, Desa Somopuro, Kecamatan Jogonalan Suhadi menyebut warganya sangat terdampak pencemaran sungai. “Warga jadi takut jika ada bahan kimia di sungai. Kami minta sungai dapat dibersihkan. Sementara ini kami bersama pihak terkait sudah menutup saluran pembuangan limbah dari pabrik dan ternak babi di empat titik dengan dicor,” ujarnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia