Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Klaten
Cerita Para Korban Investasi Bodong

Pinjam Modal dari Bank, Kini Bingung Mengembalikan 

18 Juli 2019, 08: 00: 59 WIB | editor : Perdana

BERHARAP DIGANTI: Korban penipuan investasi bodong menunjukkan surat perjanjian dengan perusahaan. 

BERHARAP DIGANTI: Korban penipuan investasi bodong menunjukkan surat perjanjian dengan perusahaan.  (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

Kerugian yang dialami ribuan korban investasi bodong ternyata memiliki pola sama. Berawal dari sekadar mencoba menanamkan modal awal hingga memperoleh keuntungan. Hingga akhirnya terus menambah modal berkat bujuk rayuan sang bos Al Farizi. Lantas seperti apa sosok Al Farizi di mata para korbannya?

ANGGA PURENDA, Klaten

KEGELISAHAN menyelimuti hati SRI, 42, warga Cawas, Klaten ini setelah tahu jika bos perusahaan tempat dia menanamkan modal kabur. Mengingat baru lima kali dia mendapatkan hasil dari investasi. Dia sebelumnya investasi paket B sebesar Rp 16 juta dengan iming-iming pendapatan Rp 2 juta per minggu. Total dia menanam modal awal Rp 32 juta di PT Krishna Alam Sejahtera. 

“Saya baru dapat penghasilan Rp 10 juta. Jadi belum sepenuhnya balik modal. Padahal, uang itu saya pinjam dari bank. Sekarang saya bingung bagaimana membayar utang saya ke bank,” ujarnya. 

SRI kini tidak tahu harus mencari uang dari mana untuk mengembalikan utang di bank. Sehari-hari dia hanya ibu rumah tangga, tanpa penghasilan. Sebelumnya dia mengaku terkena bujuk rayu Al Farizi yang pandai memikat orang agar bersedia berinvestasi.  

“Setiap kali bertemu dengan dia sorotan matanya tajam. Saya merasa terhipnotis sehingga apa yang diminta cuma nurut saja. Termasuk terus-menerus investasi di perusahaan dia,” jelas dia.

Dia menggambarkan, sosok Al Farizi sebagai pribadi yang tidak bisa dipisahkan dari hal klenik. Sering kali dia melihat Al Farizi menggelar ritual yang dilengkapi dengan sesaji berupa tumpeng serta kembang. Dia juga membuka jasa pengobatan secara tradisional dengan kemampuan mengobati segala penyakit.

Memang SRI seperti merasakan hal yang berbeda setiap kali bertemu dan bersalaman dengan Al Farizi. Terlebih lagi lewat gaya berbicaranya membuat dia ingin terus-menerus menambah modal investasi. Tetapi anehnya ketika sampai rumah, dia bersikap seperti biasa.

“Kan setiap tiga bulan sekali ada pertemuan dengan mitra. Menghadirkan sejumlah door prize yang menarik, mulai dari oven, TV hingga sepeda motor. Sosok yang mampu menyejahterakan para mitranya memang tergambar pada Al Farizi ini,” ujarnya.

Kini dia menyadari apa yang semua dilakukan Al Farizi hanya akal-akalan untuk menipu para korbannya. Dia begitu menyesal terjebak pada investasi bodong itu. Dia hanya berharap modal yang ditanamkan bisa kembali.

Korban lain yang merasa terhipnotis dari sosok Al Farizi adalah Indah, 52, asal Kecamatan Karangdowo, Klaten. Bahkan dia mengungkapkan setiap bertemu serta bersalaman dengan sang direktur ini pasti hanya bisa mengikuti kehendaknya. Hanya jawaban iya dan siap yang muncul dari mulutnya ketika diminta Al Farizi.

“Memang beberapa kali bertemu dengan Al Farizi secara langsung. Kalau sudah bertemu dengan dia seakan kita sudah terhipnotis. Rayuannya terus menambah modal investasi tidak bisa ditolak,” ujarnya.

Indah sendiri ikut dua paket B. Total modal yang disetorkan kepada PT Krishna Alam Sejahtera sebesar Rp 32 juta. Baru menikmati beberapa kali penghasilan yang didapat dari investasi itu, dia justru merasakan pahitnya ditipu. Hal ini membuat dia langsung down sehingga berharap Al Farizi dan pengurus perusahaan lainnya bisa mempertanggungjawabkan perbuatannya.

Dari informasi yang dihimpun Jawa Pos Radar Solo ke sejumlah mitra jika sosok Al Farizi sendiri mencitrakan diri sebagai pribadi yang baik untuk kesejahteraan umat. Mulai dari mendirikan yayasan yang saat ini dalam tahap pembangunan secara gotong-royong untuk kegiatan bakti sosial hingga pengobatan gratis. Bahkan direncanakan akan berkorban 40 ekor sapi yang dana berasal dari pemotongan pendapatan para mitra. (*/bun)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia