Sabtu, 21 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Features

Kisah Bagus Firman Pradana, Jatuh Bangun Bangun Bisnis Distro

20 Juli 2019, 08: 05: 59 WIB | editor : Perdana

TAK MENYERAH: Bagus Firman Pradana tidak kapok meski pernah rugi puluhan juta dalam bisnis.

TAK MENYERAH: Bagus Firman Pradana tidak kapok meski pernah rugi puluhan juta dalam bisnis. (IRAWAN WIBISONO/RADAR SOLO)

Share this      

Ditipu jutaan sudah sering. Rugi puluhan juta pun pernah dialami. Tapi semua itu tak membuat Bagus Firman Pradana pantang mundur dalam menjalankan bisnis distronya. Bagaimana kisahnya?

IRAWAN WIBISONO, Solo

RIBUAN inspirasi keluar dari seorang Bagus Firman Pradana saat koran ini mendatangi ruang usahanya di kawasan Kerten, Laweyan belum lama ini. Pria kelahiran Tangerang 22 tahun ini tengah mengembangkan outlet kedua bisnis distronya di Kota Solo. Outlet pertama sudah dibuka tiga tahun silam di tanah kelahirannya.  

Bagus, begitu dia disapa, telah menikmati kerja kerasnya membangun bisnis distro di usia relatif muda. Dia juga menjadi mahasiswa akhir Jurusan Desain Tekstil Fakultas Seni Rupa dan Desain  Universitas Sebelas Maret Surakarta yang mandiri. Tak lagi mengandalkan biaya dari orang tua. Anak pertama dari tiga bersaudara ini bahkan memegang omzet Rp 70 juta setiap bulan. 

Rangkaian prestasi yang dia torehkan ini bukanlah kisah singkat tanpa konflik. Kisah bisnisnya dimulai sejak 2013, saat Bagus duduk di SMA kelas XIII. “Saya suka belanja pakaian distro dan koleksi merchandise band-band. Dari situ saya berpikir kenapa saya nggak bikin sendiri? Merek sendiri?,” katanya.

Dari pemikiran sederhana itu, Bagus mulai membuat konsep bisnis distro. Sangat sederhana. Membeli kaos, mencari tukang sablon, membungkus lalu menjualnya. Soal desain, dia sudah memiliki hobi menggambar sejak kecil. Bahkan pencinta masakan ibu ini pernah menjadi juara dalam berbagai ajang lomba lukis dan mewarnai.

“Uang jajan saya Rp 5 ribu sehari, saya tabung semua selama sebulan untuk modal membuat kaus distro. Jadinya 24 pcs,” kisahnya.

Dua lusin kaus yang diproduksi langsung dipasarkan lewat sosial media. Saat itu sedang ramai blacberry messenger dan facebook. Promosi setiap hari melalui kedua saluran itu untuk menjaring pelanggan. Hasilnya? Hingga tiga bulan setelah produksi, seluruh kausnya tidak laku.

Ya, tidak laku. Meski sepi peminat, Bagus tetap setia menawarkan 24 pcs hasil karya perdananya tersebut sembari kembali menabung. Rp 5 ribu per hari. Dari hasil tabungan tahap ke dua, dia memproduksi topi dengan mereknya sendiri. Kali ini dewi fortuna berpihak kepadanya. Topi yang diproduksi diincar oleh pasar.

“Saat itu yang lagi trend topi, saya buat topi sambil jualan kaus juga. Akhirnya laku, terus untungnya saya puter lagi buat bikin kemeja, sweater, dan lainnya,” jelas dia.

Dari situlah semangat bisnisnya mulai tumbuh. Dengan izin orang tua, dia menggunakan satu ruang kosong di samping rumahnya untuk membuka stand distro karyanya. Sembari menempuh studi di Solo, pria yang mengidolakan Jack Ma ini tetap berkreasi. Desain baru dia garap di Kota Bengawan, produksi dibuat di Bandung, dipasarkan di outlet-nya. Kontrol jarak jauh seperti itu tampaknya tak selalu lancar. 

Suatu ketika desain sudah dimasukkan untuk diproduksi, uang muka ditransfer namun barang pesanan tak kunjung dikirim. Sampai pada titik harus mengikhlaskan. Bagus kena tipu. “Mulai dua hingga empat juta pernah semua,” akunya. 

Setelah itu dia memutuskan untuk memindah produksinya di Solo. Nilai kerugian yang barusan disebut ternyata belum seberapa. Bagus kembali menceritakan kejadian yang lebih tragis. Saat itu dia meneken kontrak dengan dua event yang bersedia memberi modal Rp 80 juta. Dia pun siap memproduksi dengan angka yang disebutkan. Tiba saatnya, dua event tersebut batal digelar. Bagus rugi Rp 50 juta. “Karena Rp 30 juta sudah dibayar, kurang Rp 50 juta. Itu risikonya,” paparnya.

Untuk menutup kerugian tersebut, Bagus aktif membuat karya desain dan dijual secara online. Hasilnya relatif besar. Bahkan banyak desainnya digunakan oleh perusahaan distro besar di Indonesia. “Dari pengalaman-pengalaman itu saya terus belajar. Tidak menyerah, tidak kapok,” ujarnya. (*/bun)

(rs/irw/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia