Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Jadi Tuan Rumah, Solo Matangkan Persiapan World Children’s Day

20 Juli 2019, 12: 05: 59 WIB | editor : Perdana

KOORDINASI: Sekda Surakarta Ahyani (tiga dari kiri) pimpin rapat persiapan peringatan 30 tahun Konvensi Hak Anak.

KOORDINASI: Sekda Surakarta Ahyani (tiga dari kiri) pimpin rapat persiapan peringatan 30 tahun Konvensi Hak Anak. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Kota Bengawan kembali terpilih menjadi tuan rumah event berskala internasional. Yakni World Children’s Day dalam rangka peringatan 30 tahun Konvensi Hak Anak.

Persiapan agenda akbar pada 19-20 November mendatang itu terus dimatangkan. Kemarin (19/7), perwakilan Unicef Indonesia, Pemprov Jateng, aktivis pemerhati anak, dan pihak terkait lainnya menggelar rapat koordinasi di balai kota dipimpin Sekretaris Daerah (Sekda) Surakarta Ahyani.

Dalam rapat itu, dilakukan sinkronisasi jadwal rangkaian kegiatan. Di antaranya lomba cerdas cermat, lomba paduan suara dan lain sebagainya. Ahyani meminta seluruh persiapan dilakukan secara matang. 

“Kegiatan ini kan tidak hanya dihadiri pejabat tanah air, tapi juga dari Unicef. Jadi segala sesuatunya harus dipersiapkan secara detail,” jelasnya.

Sekadar informasi, negara-negara peserta/penandatangan Konvensi Hak Anak PBB pada 20 November 1989 mendeklarasikan menghormati dan menjamin hak-hak setiap anak tanpa diskriminasi dalam bentuk apapun. 

Tanpa dipandang ras, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama, keyakinan politik dan pendapat-pendapat lain, kebangsaan, asal etnik atau sosial, kekayaan, ketidakmampuan, kelahiran atau kedudukan lain dari anak atau orang tua anak atau pengasuhnya yang sah.

Anak berarti setiap manusia yang berusia di bawah delapan belas tahun kecuali, berdasarkan undang-undang yang berlaku untuk anak-anak, kedewasaan telah dicapai lebih cepat.

Berdasarkan konvensi tersebut, ada sepuluh hak yang wajib diberikan orang tua kepada anak, yakni hak bermain, mendapatkan pendidikan, perlindungan, mendapatkan nama (identitas), mendapatkan status kebangsaan, mendapatkan makanan, mendapatkan akses kesehatan.

Selanjutnya, hak mendapatkan rekreasi, mendapatkan kesamaan, berperan dalam pembangunan. Ketika hak-hak anak ini telah terpenuhi, anak juga perlu diajarkan kewajibannya antara lain menghormati orang tua, guru, orang lain, dan juga bangsa dan negara.

Di zaman yang serbamodern seperti sekarang ini, banyak tantangan dihadapi dalam mendidik anak. Mulai dari pengaruh narkoba, pergaulan bebas, dampak negatif akses internet, dan sebagainya.

Sebab itu, orang tua dituntut aktif memberikan pengawasan. Salah satu caranya, menjalin komunikasi secara intensif dengan anak. (wa)

(rs/it/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia