Kamis, 22 Aug 2019
radarsolo
icon featured
Wonogiri

Pengawasan Pom Mini Lemah, Hak Konsumen Terancam

20 Juli 2019, 18: 12: 07 WIB | editor : Perdana

DILEMATIS: Warga membeli BBM di pom mini. Bisnis ini belum memiliki regulasi yang jelas untuk melindungi hak konsumen.

DILEMATIS: Warga membeli BBM di pom mini. Bisnis ini belum memiliki regulasi yang jelas untuk melindungi hak konsumen. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

WONOGIRI – Pemkab diminta tegas menyikapi keberadaan pom mini yang menjual bahan bakar minyak (BBM) di pelosok desa. Meskipun secara ekonomi aktivitas mereka ikut menguntungkan pengusaha SPBU, tapi di sisi lain berpotensi merugikan masyarakat.

Salah seorang pemilik SPBU di Wonogiri Mulyadi menjelaskan, pemilik pom mini juga membeli BBM di SPBU. "Sebagai pengusaha ya senang-senang saja bahan bakar kita dibeli," jelasnya ditemui di kompleks perkantoran Pemkab Wonogiri, Jumat (19/7).

Namun, imbuh Mulyadi, pom mini yang belum memiliki regulasi memiliki potensi merugikan masyarakat. Di antaranya, takaran BBM yang tidak bisa di tera dan tera ulang.

"Kita beli Pertamax misalnya, tapi diisi Pertalite. Siapa yang tahu? Wong warnanya hampir sama. Kalau (BBM eceran) botolan kan jelas, warnanya terlihat. Ukurannya juga bisa diperkirakan. Kalau hampir penuh, ya satu liter. Kalau pom mini kan tidak bisa? Langsung masuk ke tangki kendaraan,” tutur dia. Sebab itu, Mulyadi meminta pemerintah tegas mengatur pom mini demi melindungi konsumen BBM.

Kepala Dinas Koperasi UMKM Perindustrian dan Perdagangan Wonogiri Wahyu Widayati mengatakan, hingga kini, pihaknya belum melakukan pendataan pom mini. Itu karena belum ada regulasi yang mengaturnya.

"Kita masih menunggu regulasi dari pemerintah pusat. Sampai saat ini memang belum ada regulasinya. Bagaimana ukurannya, keamanannya belum diatur," bebernya.

Terkait tera ulang, Wahyu mengaku telah memiliki alatnya. Tapi, takaran BBM pom mini tidak bisa diukur dan tidak bisa melakukan pengukuran. "Untuk perlindungan konsumen, sebenarnya harus diukur. Tapi karena mesinnya itu digital, tidak bisa diukur. Bahkan tidak bisa melakukan pengukuran, kalau kita mengukur malah salah," ujar dia.

Selama ini, imbuh Wahyu, pom mini masih dibutuhkan guna memermudah masyarakat mendapatkan BBM mengingat kondisi geografis Wonogiri berupa pegunungan.

"Idealnya memang beli BBM ya di SPBU. Tapi di Wonogiri hanya ada 13 SPBU. Itu hanya tersebar di 12 kecamatan. Di pusat kota kecamatannya. Kalau dari gunung harus ke kota beli Pertalite dua liter kan sayang juga (biaya transportasi). Itulah kenapa masyarakat terbantu dengan keberadaan pom mini,” urainya. (kwl/wa)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia