Rabu, 11 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Kristo Agung, Peternak Sapi Milenial Lulusan SMK

Pakai Racikan Pribadi, Kandang Tak Bau

21 Juli 2019, 10: 10: 59 WIB | editor : Perdana

UKURAN JUMBO: Sapi hasil penggemukan di kandang ternak milik Kristo.

UKURAN JUMBO: Sapi hasil penggemukan di kandang ternak milik Kristo. (IWAN KAWUL/RADAR SOLO)

Share this      

Masih jarang pemuda yang konsentrasi menggeluti bidang pertanian maupun peternakan. Padahal dua sektor tersebut sangat menjanjikan secara ekonomi. Tidak kalah keren dengan usaha kafe.

IWAN KAWUL, Wonogiri, Radar Solo  

PAGI itu, Jawa Pos Radar Solo menyambangi sebuah peternakan sapi seluas 2.500 meter persegi di Dusun Pagersari, Desa Waleng, Kecamatan Girimarto. Lokasinya di tengah perkampungan yang teduh. Beberapa pekerja tampak membersihkan kandang sapi.

Biasanya, yang namanya kandang sapi pasti berbau menyengat. Bersumber dari feses maupun kencing hewan ternak. Masker pun telah disiapkan untuk mengurangi bau.

Namun, di luar prediksi. Tidak ada bau menyengat. Padahal di kandang ternak tersebut terdapat puluhan ekor sapi. Masker yang dibeli di apotek sebelum liputan, kembali masuk ke dalam tas.

Seorang pemuda berpenampilan rapi dan bersih menyambut Jawa Pos Radar Solo. Di adalah Kristo Agung Suryanto, 32, pemilik peternakan sapi. "Saat ini ada 42 ekor yang dalam proses penggemukan," ungkapnya memulai obrolan. 

Tamatan SMK negeri di Wonogiri itu merintis usahanya sejak 2016. Sebelumnya, Kristo gonta-ganti pekerjaan sejak lulus SMK. Bekerja pada perusahaan komputer jaringan hingga menjadi suplier bahan baku pakan ternak.

Bosan menjadi karyawan, dia memanfaatkan lahan kosong di belakang rumahnya menjadi peternakan sapi. “Modalnya dulu enam ekor sapi. Terus (tambah) 12 ekor. Cari pinjaman bank jadi 24 ekor. Bangun kandang lagi jadi 32 ekor. Sekarang 42 ekor,” terangnya. 

Sembari wawancara, Jawa Pos Radar Solo diajak berkeliling kandang. Sapi-sapi berukuran jumbo lahap menyantap makanannya. Bukan rumput maupun jerami. Tapi serbuk dan remah-remah.

Rupanya itulah yang menjadi rahasia kenapa kandang ternak tidak berbau menyengat. Kristo menerapkan sistem peternakan modern. Tidak hanya mengandalkan pakan rumput maupun jerami dan komboran basah. 

"Pakai pakan kering racikan sendiri. Bahan bakunya, pollard, bungkil kopra, bungkil sawit, kulit cokelat, kulit kopi, molases, onggok , mineral dan vitamin," ungkap dia. 

Rata-rata berat sapi yang dipeliharan Kristo tujuh kuintal hingga lebih satu ton. Ada sapi simental, limosin, brahman atau brenggolo dengan ciri khas berwarna putih dengan punggung yang menonjol ke atas.

"Untuk sapi jenis brenggolo dilepas sekitar Rp 50 juta. Kalau yang bobotnya sekitar satu ton, dijual Rp 80 juta-an,” katanya. 

Selain dari Wonogiri, bibit sapi kualitas premium tersebut dibeli Kristo dari Klaten, dan wilayah lainnya. Dia memilih sapi dengan bobot awal sekitar lima kuintal untuk digemukkan.

Porsi makan disesuaikan dengan bobot sapi. Rata-rata per hari satu ekor sapi habis sepuluh kilogram pakan racikan. “Kita selalu menjaga kenaikan bobot harian sekitar 1,4 kilogram. Dari bibit yang dibeli sekitar lima kuintal, nanti akan dilepas (jual) dibobot enam sampai tujuh kuintal,” urai dia. 

Memenuhi perminataan pasar untuk Hari Raya Idul Adha, Kristo juga sudah menyiapkan sapi berbobot lebih dari satu ton. Sapi tersebut sudah digemukkan sejak awal tahun lalu. Mulai dibeli dengan bobot lima kuintal, pada Rabu (8/7), berat sapi simental ini sudah 1,019 ton. 

"Kalau dihitung, jelang Idul Adha beratnya bisa mencapai 1,050 ton. Kita berusaha memberi kualitas pakan terbaik supaya daging juga baik," ucapnya. (*/wa)

(rs/kwl/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia