Selasa, 10 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Features

Komunitas Kembang Gula Solo, Kampanyekan Keberagaman Lewat Jalur Film

21 Juli 2019, 15: 10: 59 WIB | editor : Perdana

Komunitas Kembang Gula Solo, Kampanyekan Keberagaman Lewat Jalur Film

Menyampaikan kritik sosial dapat dilakukan dengan berbagai cara. Seperti halnya Komunitas Kembang Gula yang memanfaatkan film sebagai media penyampai pesan. Berikut kiprahnya.

BERAWAL dari keprihatinan akan sikap intoleransi di kalangan masyarakat, Komunitas Kembang Gula tergerak untuk mengampanyekan kritik sosial itu lewat film. Mereka lantas berinisiatif membuat beragam program. Termasuk pemutaran film layar tancap di kampung-kampung.

Apalagi tak banyak masyarakat, khususnya dari kalangan menengah ke bawah bisa menikmati film di bioskop. Namun Kembang Gula hadir memberi kemudahan dalam menonton film layaknya di layar lebar.

”Pada 2017 silam, festival film jarang digelar. Kami rindu mempertemukan film dengan penontonnya. Karena kami melihat banyak film Indonesia bagus yang belum banyak diputar, terutama bagi masyarakat kelas menengah ke bawah,” beber Direktur Kembang Gula, Fanny Chotimah kepada Jawa Pos Radar Solo.

Kala itu, Fanny dan beberapa rekan berinisiatif membuat beragam program yang berkaitan dengan kerja-kerja perfilman. Tujuan lainnya, melawan perilaku intoleran yang tumbuh di tengah-tengah masyarakat.

”Selama dua tahun ini kami telah melakukan beberapa program yang berkaitan dengan film. Mulai dari membuat festival film tahunan, workshop pengembangan kapasitas pembuatan film, ekstrakurikuler film, sampai produksi,” ungkapnya.

Festival Film Merdeka (FFM) adalah salah satu program unggulan Kembang Gula. Konsepnya, pemutaran film keliling di setiap kampung di Kota Bengawan. Film yang dikenalkan merupakan film yang menghibur. Namun juga film mendidik yang mengacu pada nilai-nilai luhur bangsa Indonesia yang terkandung dalam Pancasila. FFM mempromosikan keberagaman, perdamaian, dan pengetahuan.

”Terutama film-film yang merekam persoalan keseharian kita, sehingga kami berharap warga memiliki imajinasi untuk bisa lebih toleran dan menghargai keberagaman di masyarakat,” jelasnya.

Dia melihat saat ini semakin banyak tumbuh komunitas-komunitas film baru. Baik di dalam maupun di luar kampus. Sementara pembuat film yang berasal dari Kota Bengawan sudah mulai dikenal di kancah nasional dan internasional.

”Sambutan warga di setiap acara pemutaran reguler atau saat Festival Film Merdeka selalu memberikan apresiasi yang baik. Kami berharap ekosistem perfilman di Kota Solo ke depan bisa berkembang lebih baik lagi,” tandasnya. (aya/adi)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia