Sabtu, 21 Sep 2019
radarsolo
icon featured
Jateng

Kenang Masa KKN Ganjar dan Atik di Temanggung, Mbah Siti Histeris

21 Juli 2019, 20: 53: 20 WIB | editor : Perdana

Mbah Siti terharu saat dikunjungi Gubernur Jateng Ganjar Pranowo

Mbah Siti terharu saat dikunjungi Gubernur Jateng Ganjar Pranowo

Share this      

TEMANGGUNG - Seorang nenek tiba-tiba berteriak dan langsung menubruk Ganjar Pranowo ketika Gubernur Jawa Tengah itu memarkir motor di depan rumah tua di Bantir, Candiroto Temanggung Sabtu (20/7). Kedatangan Ganjar yang tidak direncanakan itu sontak membuka memori-memori yang telah tersimpan selama 25 tahun. 

Ya, Ganjar yang tengah melakukan kunjungan ke Temanggung naik motor tiba-tiba berbelok ke arah desa Bantir. Tidak berselang lama, Ganjar berhenti di depan rumah tua dan langsung memarkir motornya. Begitu melepas helm, tiba-tiba seorang nenek dari seberang rumah lari tergopoh-gopoh sambil teriak histeris.

"Ya Allah, aku ngimpi apa mau bengi. Iki aku ora nglindur to? Iki Mas Ganjar?" teriak nenek-nenek itu dan langsung memeluk dan menciumi Ganjar. 

"Nggih leres niki Ganjar," jawab Ganjar sambil tersenyum.

"Lha kok rene ora kondo-kondo. Ya Allah ngimpi apa aku?" katanya yang masih tidak percaya dengan kehadiran orang nomor satu di Jawa Tengah itu. 

Nenek itu adalah pemilik rumah yang ditempati Ganjar semasa kuliah kerja nyata (KKN) pada 1994. Namanya Siti Riyati, suami almarhum Soekarno, kepala urusan pemerintahan Desa Bantir. Wajar saja Mbah Siti histeris, karena begitu KKN selesai, baru kali ini Ganjar mengunjungi rumahnya. 

Sejurus kemudian Mbah Siti membukakan pintu rumah dan mempersilakan Ganjar. "Ini rumahnya Pak Karno, sekarang ditempati anaknya, Mas Timbul. Kalau ini istri Pak Karno, Mbah Siti. Owalah, ana fotoku to," kata Ganjar yang langsung masuk rumah sampai belakang. 

Beberapa kamar dibuka pintunya. Lagi-lagi Ganjar nampak tersenyum sendiri seolah menyaksikan tingkah polahnya semasa KKN bersama kawan-kawannya.Termasuk Siti Atikoh yang akhirnya dia pinang sebagai istri. 

"Dulu KKN di sini bareng Bu Atik. Walah malah dadi bojone. Tahu-tahu kok malah dadi gubernur," kata Mbah Siti.

Kenangan Ganjar semakin terbayang lengkap ketika Siti mengulik masakan-masakan yang biasa dimakan Ganjar dan kawan-kawan. "Kalau adanya tempe, ya tak masakin tempe. Kalau adanya sawi, ya sawi. Semuanya makan apa adanya. Adanya sambal sama tahu juga dimakan," ucap Mbah Siti. 

Cerita masakan itu seperti jadi umpan bagi Ganjar untuk masuk lebih dalam ke masa lalu. Sambil tertawa, Ganjar mengisahkan hanya satu masakan yang ditolak oleh kawan-kawannya dan Siti Atikoh. 

Setiap sepekan sekali, kata Ganjar, Mbah Siti menyuguhkan masakan istimewa, lele goreng. Tapi tidak satu pun temannya, termasuk Siti Atikoh bersedia makan. 

"Itu kan ibu ngambilnya lele dari kolam depan rumah. Nah di kolam itu setiap pagi saya BAB," kata Ganjar yang langsung membuat seisi ruangan tertawa. 

Selain memorabilia, kisah-kisah itu seperti jadi obat lelah Ganjar setelah seharian mengendarai sepeda motor keliling Semarang dan Temanggung. Namun, Ganjar merasa ada yang sedikit kurang. Sebab, anak almarhum Soekarno tidak di rumah. Dia tengah ziarah ke Jawa Timur bersama rekan kerjanya. 

"Mas Timbul itu teman tidurku dulu. Lha adiknya Timbul mana? Owalah ini to, Atik. Dulu masih kecil dia," kata Ganjar. 

Setelah mengenang beberapa pertemuan dengan keluarga Soekarno itu, Ganjar lantas minta undur diri dan berjanji bakal kembali lagi. "Tidak bisa nginap. Ini tadi saya cuma mampir, mau ke wisata Jumprit. Yo wes aku lungo sek," kata Ganjar yang langsung dikerubungi warga untuk foto bersama. (bay/ria)

(rs/bay/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia