Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Ekonomi & Bisnis

Inflow Eks Karesidenan Surakarta Pada Juni Tercatat Rp 13 Triliun

23 Juli 2019, 13: 05: 59 WIB | editor : Perdana

INVESTASI TUMBUH: Penukaran uang baru di Benteng Vastenburg Solo, beberapa waktu lalu.

INVESTASI TUMBUH: Penukaran uang baru di Benteng Vastenburg Solo, beberapa waktu lalu. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO – Bank Indonesia (BI) mencatat peredaran uang rupiah hingga Juni 2019 mengalami net inflow. Direktur Departemen Pengembangan UMKM dan Perlindungan Konsumen Bank Indonesia Bandoe Widiarto menyampaian, sampai Juni 2019, uang yang masuk (inflow) di Kota Solo dan sekitarnya mencapai Rp 13 triliun. Sedangkan outflow-nya sekitar Rp 7,5 triliun. 

“Ini bukti hasil penjualan dari produk maupun jasa perusahaan meningkat. Di sisi lain, kegiatan perbankan juga positif. Bukan berarti ekonomi di Solo geliatnya menurun. Inflow sendiri juga membuktikan hasil penerimaan investasi dari pemilik mapun saham,” jelas Bandoe kepada Jawa Pos Radar Solo, kemarin (22/7).

Ditambahkan Bandoe, inflow di 2018 sebesar Rp 23,9 triliun. Sedangkan outflow di 2018 Rp 13,8 triliun. Seiring tumbuhnya investor di Kota Solo dan sekitarnya, diimbangi munculnya beberapa sekuritas. 

Ditinjau dari kualitas uang layak edar (soil level) di Solo dan sekitarnya, dinilai cukup baik. Uang pecahan besar (UPB) Rp 50 ribu dan Rp 100 ribu pada level 10 dari 1-16. Sedangkan uang pecahan kecil (UPK) Rp 1.000 hingga Rp 20 ribu ada di level 7.

Kepala Bursa Efek Indonesia (BEI) Kantor Perwakilan Solo M. Wira Adibrata menambahkan, sejumlah perusahaan sekuritas membidik Kota Solo untuk perluasan bisnis. Karena dianggap pangsa pasarnya cukup potensial.

Ada tiga perusahaan sekuritas baru yang membidik pasar di Solo. Dua di antaranya masih dalam proses perizinan. Sedangkan satu perusahaan sudah beroperasi sejak Mei. Hingga saat ini, jumlah perusahaan sekuritas di Solo sebanyak 22 unit. 

“Untuk perkembangan investor di Solo dan sekitarnya mengalami pertumbuhan signifikan. Setiap bulan tercatat mengalami peningkatan antara 500-550 orang. Selain itu, banyaknya perusahaan atau pabrik yang pindah ke daerah Boyolali atau Sragen juga menjadi influence masyarakat. Soalnya cukup banyak perusahaan besar yang join di BEI. Lokasinya di Solo dan sekitarnya,” tandasnya. (gis/fer)

(rs/gis/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia