Senin, 09 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Sragen

Cegah Diskriminasi ODHA, KPA Sosialisasi ke Semua Elemen

23 Juli 2019, 15: 50: 38 WIB | editor : Perdana

BERI PEMAHAMAN: Sosialisasi penanganan jenazah ODHA.

BERI PEMAHAMAN: Sosialisasi penanganan jenazah ODHA. (AHMAD KHAIRUDIN/RADAR SOLO)

Share this      

SRAGEN – Komisi Penanggulangan Aids (KPA) Sragen mencatat kasus HIV/AIDS di Sragen per Januari hingga Juni mencapai 1.118 kasus. Dari jumlah tersebut, total orang dengan HIV/Aids (ODHA) yang meninggal sebanyak 116 orang.

KPA Sragen terus berupaya memberikan sosialisasi perihal penanganan jenazah atau pemulasaraan ODHA kepada masyarakat. Sebab, ODHA sering mendapat diskriminasi.

Menggandeng RSUD dr Suhadi Prijonegoro Sragen, KPA mengajak ODHA dan Orang yang Hidup bersama ODHA (OHIDA) memberikan bimbingan terkait pemulasaraan jenazah di Pemkab Sragen kemarin. Selain untuk sosialisasi HIV/AIDS pada ODHA dan OHIDA, juga mengikis stigma dan diskriminasi kepada jenasah ODHA.

Sekretaris KPA Sragen Suharyoto menjelaskan, pihaknya memberi teori dan praktek pemulasaraan jenazah ODHA. Secara teori, pada ODHA tidak sama seperti jenazah biasa.

”Dalam praktiknya perlu menggunakan pelindung tubuh, menggunakan cholrine, dan cara membungkusnya berbeda,” terangnya kepada Jawa Pos Radar Solo.

Dijelaskan, pelindung tubuh tersebut bukan karena khawatir tertular HIV/AIDS. Namun justru penyakit turunannya.

”Kalau virusnya juga ikut mati setelah 4 jam ODHA meninggal dunia. Namun yang perlu diwaspadai justru penyakit yang mengikuti, misalnya TBC atau yang lain,” tuturnya.

Diakuinya saat ini memang belum tersosialisasi 100 persen soal ODHA pada masyarakat. Oleh sebab itu butuh pihak lain termasuk tokoh agama yang bisa menyampaikan ke warga.

Dalam sosialisas tersebut juga menghadirkan ODHA dan OHIDA. Tujuannya agar mereka mengerti dan tidak merasa terdiskriminasi.

”Kalau masyarakat sudah, kita sudah semua modin di Sragen, puskemas sudah, tokoh agama juga. Lha ini OHIDA juga perlu. Jadi dijelaskan bukan diskriminasi, namun tata caranya memang begitu,” bebernya.

Koordinator Program KPA Sragen Wahyudi menambahkan, butuh dukungan semua pihak untuk menyosialisasikan pemulasaraan ODHA. Sebab, tidak mungkin KPA sampai masuk ke tingkat RT untuk sosialisasi. Ini juga tugas semua sampai desa dan RT.

”Juknis penggunaan dana desa sebenarnya sudah ada plot untuk sosialisasi soal HIV/Aids,” terangnya. (din/adi)

(rs/din/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia