Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Pendidikan
Hari Anak Nasional

Seniman Ajak Anak Cintai Budaya hingga Ajarkan Cinta Lingkungan

24 Juli 2019, 08: 05: 59 WIB | editor : Perdana

Seniman Mudjiono mengajari anak-anak memainkan wayang di sangar seninya Sarotama di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar,.

Seniman Mudjiono mengajari anak-anak memainkan wayang di sangar seninya Sarotama di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar,. (ARIEF BUDIMAN/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Regenerasi pelaku seni budaya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Salah satu seniman yang konsentrasi dalam urusan ini adalah Mudjiono. Pemilik Sanggar Seni Sarotama tak lelah terus berupaya melakukan regenerasi agar budaya warisan leluhur terus lestari.

Salah satunya dengan mengajarkan anak-anak memainkan wayang di sanggar seninya di Desa Ngringo, Kecamatan Jaten, Karanganyar. “Kita perlu mewariskan budaya kepada generasi muda agar tetap terjaga,” ujar Mudjiono.

Sementara itu, beragam cara dilakukan dalam merayakan Hari Anak Nasional (HAN) yang diperingati tiap 23 Juli. SDN Bromantakan 56 Solo memilih mengajak siswanya menanam pohon cinta. Pohon cinta yang dimaksud adalah para siswa tak hanya sekadar menanam pohon saja. Lebih dari itu, mereka juga berkewajiban merawat pohon tersebut sebagai wujud cinta kasih terhadap lingkungan. 

“Sekaligus mengajarkan sikap tanggung jawab sejak dini kepada anak-anak,” kata seorang guru kelas 5 SDN Bromantakan 56, Wartinah kemarin.

Wartinah menyebut pohon sebagai tanaman adalah sumber kehidupan. Maka para siswanya perlu mendapatkan pengajaran sejak dini tentang cara merawat dan memelihara kelestarian pohon. Untuk itu, puluhan siswa kelas 1 dan 2 sekolah setempat diajak menanam pohon nangka di lingkungan sekolah.

Sementara siswa kelas 5 dan 6, merayakan HAN dengan belajar mencuci tangan yang benar, mengindentifikasi ciri-ciri influenza, dan etika saat batuk. Mereka dipandu oleh dokter d dan diajak praktik langsung enam langkah mencuci tangan.

“Aku jadi tahu kalau cuci tangan itu dimulai dari menggosok telapak tangan terlebih dahulu. Baru kemudian dibilas dengan air,” ujar seorang siswa kelas 5, Axel.

Terpisah, SD Pangudi Luhur Timotius Surakarta merayakan HAN dengan mengadakan kegiatan sharing bersama 15 siswa difabel dari SLBN Karanganyar. Di hadapan seluruh siswa mulai dari kelas 1-6, mereka memotivasi untuk tetap berprestasi meski memiliki keterbatasan.

Dian Rahmawati, salah seorang siswa difabel down syndrome ini berhasil menyabet gelar juara dalam olimpiade olahraga siswa nasional cabang olahraga (vabor) Bochia. Siswa difabel lainnya, Lena Karmilasari penyandang tuna netra dan Leni Karmilasari penyandang tuna grahita akan berangkat ke Dubai untuk mewakili Indonesia di cabor renang dan bulu tangkis.

“Kami sebagai guru terus berjuang memperjuangkan hak dan kewajiban seluruh anak, terlebih mereka yang mempunyai keterbatasan. Agar mereka tetap bisa gembira dan memiliki derajat y sama dengan anak-anak lainnya,” terang Guru Mata Pelajaran SLBN Karanganyar, Daniasih. (aya/mg1/mg3/bun)

(rs/aya/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia