Selasa, 10 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Boyolali

Kisah Desalana Surya Pitaloka, Bidan yang Selamat dari Kecelakaan Maut

27 Juli 2019, 08: 30: 59 WIB | editor : Perdana

MASIH TRAUMA: Desalana Surya Pitaloka mengaku bersyukur masih selamat dari maut.

MASIH TRAUMA: Desalana Surya Pitaloka mengaku bersyukur masih selamat dari maut. (TRI WIDODO/RADAR SOLO)

Share this      

Kecelakaan maut yang merenggut satu korban jiwa di Puskesmas Mojosongo tak akan dilupakan seumur hidup bagi Desalana Surya Pitaloka. Bidan di puskesmas itu mengaku bersyukur masih selamat dari musibah tragis tersebut. Bagaimana ceritanya ?

TRI WIDODO, Boyolali

TIDAK ada sesuatu yang kebetulan di dunia ini. Semua  sudah digariskan Yang Maha Kuasa. Namun Termasuk kisah Deslana Surya Pitaloka ini. Dia berhasil lolos dari maut saat truk trailer bermuatan kapas  menerjang bangunan puskesmas. Padahal saat kejadian, dia sedang salat Duha di musala yang temboknya roboh setelah digasak truk berat itu. 

“Saat kejadian saya benar-benar baru rukuk pertama. Saya kira gempa. Saya langsung lari ke luar musala,” ujar Pitaloka ditemui di Puskesmas Mojosongo, Boyolali, kemarin (26/7).

Tak ada firasat apapun yang dirasakan sebelum kejadian. Begitu pula dengan seluruh pegawai puskesmas lainnya. Aktivitas pagi di puskesmas itu berjalan seperti biasanya.  Di mana, sebelum melayani masyarakat yang akan berobat, seluruh pegawai mengikuti apel pagi dan briefing.  Hal itu sebagai bentuk kedisiplinan pegawai dan untuk evaluasi apa yang dikerjakan sebelumnya. 

Dia yang telah paham dengan tugas-tugasnya di hari itu, seperti biasa tak langsung masuk ke dalam ruang pelayanannya yang berada di gedung belakang  timur lorong bangunan utama puskesmas. 

Musala yang berada di depan samping kanan menjadi tempat yang dituju setiap pagi sebelum memberikan pelayanan.  

Usai berwudu di sebelah selatan teras musala, dia langsung mengenakan mukena dan salat Duha. Tapi baru mulai rukuk pertama, hatinya mulai terguncang. Pikirannya yang semula tenang, seketika berubah tak tenang.  Benar saja, suara gemuruh tiba-tiba truk datang dari pojok utara musala. 

 “Benar-benar seperti gempa. Saya sedang rukuk sampai terjatuh ke depan,” katanya dengan raut wajah yang mulai berkaca-kaca.

Beruntung saat jatuh itu Pitaloka langsung sadar dan sekuat tenaga ke luar musaha dengan caraq merangkak. Saat itu dia melihat bagian dalam musala telah roboh dihantam truk.  Dia yang masih di bangunan musala  semakin berketar-ketir tak karuan. Dia membayangkan bila musala roboh total atau truk meledak, bisa saja dia tak selamat.

“Saya sempat mendengar Dwi Yani memanggil-manggil puterinya (Irza Laila Nur Trisna Winandi). Dalam pikiran saya, dia  di bawah situ (bawah truk),” ujarnya yang mulai meneteskan air mata mengenang saat kejadian itu.

Meski sudah dalam kondisi aman, Pitaloka mengaku masih trauma bila mengingat kejadian itu. Apalagi saat akan tidur, bayangan musibah itu masih menyelimutinya, terutama saat rekan kerjanya Dwi Yani memanggil-manggil puteri tercintanya yang meninggal dalam kejadian itu. 

“Ada perasaan sangat berdosa saya tidak bisa membantu Bu Dwi di saat detik-detik akhir kehilangan anak sulungnya yang sebentar lagi menjadi sarjana,” ujarnya.  (*/bun)

(rs/wid/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia