Selasa, 12 Nov 2019
radarsolo
icon featured
Solo

Pengguna Motor Tembus 73.000 Orang, Butuh Solusi Atasi Kemacetan

28 Juli 2019, 10: 15: 59 WIB | editor : Perdana

Pengguna Motor Tembus 73.000 Orang, Butuh Solusi Atasi Kemacetan

SOLO – Potensi kemacetan kendaraan di Kota Solo di depan mata. Itu ditandai terus bertambahnya pengguna unit kendaraan pribadi. Sedangkan pengguna angkutan publik dari tahun ke tahun terus merosot.

Hal tersebut dikupas dalam diskusi bertema Masa Depan Transportasi Solo yang digelar Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Surakarta di Monumen Pers Nasional di Jalan Gajah Mada No. 76, Timuran, Banjarsari, Sabtu (27/7). 

Hadir perwakilan Kemkominfo, Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Surakarta Hari Prihatno dan peniliti dari Transpologi Lingkar Studi Transportasi Titis Efrindu.

Berdasarkan data Transpologi Lingkar Studi Transportasi, jumlah pengguna roda dua di Kota Solo meningkat tajam, dari 50 ribu orang di 2012 menjadi 73 ribu orang di 2017.

Jumlah tersebut berbanding terbalik dengan pengguna transportasi publik. "Pengguna bus turun dari 55 ribu di 2013 menjadi 45 ribu di 2017. Sementara angkot (angkutan kota) turun dari 6.000 ribu di 2013, menjadi 2.000 di tahun 2017," jelas Titis.

Menurut dia, kondisi tersebut disebabkan banyak faktor. Mulai dari naiknya daya beli masyarakat, hingga pertimbangan jenis transportasi yang paling efisien. 

Mengacu data Mode Share Transportasi Solo, mayoritas moda transportasi yang dipilih masyarakat adalah sepeda motor. Jumlahnya mencapai 74 persen. Disusul roda empat 17 persen, bus atau truk tiga persen, sepeda dan becak lima persen, dan satu persen angkutan umum. 

Dipilah dari jenis kendaraan, 91 persen warga Kota Solo menggunakan kendaraan pribadi dan hanya sembilan persen memilih angkutan umum seperti bus, truk, becak, dan lainnya.

Melihat dominasi pengguna kendaraan pribadi, lanjut Titis, kemacetan merupakan keniscayaan. Sebab itu, dibutuhkan solusi cepat dan tepat. Di antaranya menciptakan moda transportasi yang murah, efisien, serta memiliki jangkauan rotasi lebih luas.

"Optimalisasi moda transportasi masal jadi solusi terbaik mengurangi kepadatan kendaraan,” tandas Titis.

Kepala Dishub Surakarta Hari Prihatno memastikan siap menjawab tantangan transportasi. Sejak 2009, angkutan umum mulai ditata ulang. Sistem transportasi yang sudah ada disederhanakan dalam nama Batik Solo Trans (BST). "BST ini konsepnya Bus Rapid Trans (BRT)," jelasnya. 

Masuk 2014, BST Koridor II lahir dengan 21 bus medium tambahan dan terus berkembang hingga saat ini. Koridor I (Palur- Bandara Adi Soemarmo) sebanyak 15 armada siap operasi. Tujuh unit di antaranya beroperasi.

Koridor II (Palur-Kartasura via Stasiun Solo Balapan) sebanyak 16 armada, 14 unit di antaranya sudah beroperasi. Koridor III (Palur Kartasura via Pasar Klewer) didukung 25 armada, 20 unit beroperasi. Dan Koridor IV (Terminal Palur-Terminal Kartasura-Bandara Internasional Adi Semarmo PP) sebanyak 12 armada siap beroperasi.

Inovasi juga menyasar angkutan kota. Dari dulunya yang berwarna kuning terang, diremajakan dengan penggantian warna biru. "Kalau angkot diganti feeder (angkutan pengumpan BST). Target peremajaan 139 armada. Saat ini sudah ada 121 armada baru," jelas Hari. 

Operasional BST juga akan menerapkan sistem buy the service alias pembelian pelayanan oleh pemerintah kepada operator armada. “Skema buy the service transportasi masal di Kota Solo akan dimatangkan tahun ini. Sejumlah komponen pendukung skema tersebut seperti gaji pengemudi di atas upah minimum kota maupun bus yang memenuhi standar, masuk dalam kajian," bebernya.

Buy the service, imbuh Hari, bakal diimbangi transportasi terintegrasi mencakup seluruh wilayah di eks Karesidenan Surakarta atau lebih dikenal dengan sistem aglomerasi. “Feeder juga kita maksimalkan dengan penerapan layanan aplikasi. Pesan feeder bisa via aplikasi. Dengan demikian, kepadatan di dalam kota bisa diatasi seiring perpindahan mobilitas warga dari kendaraan pribadi ke trasportasi publik,” beber Hari. (ves/wa)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia