Senin, 27 Jan 2020
radarsolo
icon featured
Solo

Pemkot Masih Kaji Buka Lintasan Rel Manahan

29 Juli 2019, 12: 28: 58 WIB | editor : Perdana

WACANA: Penutupan perlintasan sebidang di bawah Overpass Manahan bakal dikaji lagi.

WACANA: Penutupan perlintasan sebidang di bawah Overpass Manahan bakal dikaji lagi. (DAMIANUS BRAM/RADAR SOLO)

Share this      

SOLO - Hilangnya fasilitas bagi pejalan kaki dan kendaraan tidak bermotor pasca dibangunnya Overpass Manahan menjadi perhatian pemkot. Ada wacana perlintasan ini kembali dibuka. 

Kepala Dinas Perhubungan Kota Surakarta Hari Prihatno mengatakan, wacana pembukaan kembali perlintasan sebidang itu untuk memfasilitasi pejalan kaki dan kendaraan tidak bermotor. Sebab, pasca dibangunnya Overpass Manahan, mereka tidak boleh melintas dengan alasan keamanan dan keselamatan berlalulintas. 

“Kondisi jalannya memiliki tanjakan dan turunan curam dengan prosentase lalu lalang kendaraan yang padat. Maka pejalan kaki, pesepeda, becak, delman, dan jenis kendaraan tidak bermotor lainnya sangat tidak disarankan melintas di atas overpass. Nah, masalah muncul saat lokasi memutar itu dirasa terlalu jauh,” jelas dia, Minggu (28/7).

Sesuai usulan Wali Kota Surakarta F.X. Hadi Rudyatmo sebelumnya, simpang sebidang itu diwacanakan menggunakan desain palang geser otomatis, lengkap dengan sirine dan lampu peringatan. 

“Saat ini masih ditimbang bagaimana pengaturannya. Kami juga masih terus koordinasi dengan PT KAI dan DPUPR apakah memungkinkan simpang itu dibuka kembali,” jelas Hari. 

Lantas bagaimana cara memastikan simpang sebidang itu hanya dimanfaatkan para pejalan kaki dan pengguna kendaraan tidak bermotor? Hari belum bisa memberi jawaban yang pasti mengingat hal itu dipengaruhi oleh faktor kesadaran masyarakat. 

“Ya ini masih terus dikomunikasikan bagaimana pengawasannya. Apakah nanti perlu dijaga petugas atau tidak,” papar Hari.

Kepala DPUPR Kota Surakarta Endah Sitaresmi menambahkan, pihaknya sedang menimbang upaya itu apakah akan diwujudkan secara permanen atau hanya sementara. Alasannya, penghilangan persimpangan sebidang itu untuk memberikan kepastian keamanan baik pengguna jalan maupun pengguna moda transportasi kereta api. 

Enam bulan pasca peresmian, Overpass Manahan telah menuai berbagai kritik dan masukan atas operasionalnya hingga hari ini. Di satu sisi kepastian akan keamanan dan kenyamanan pengguna kendaraan bermotor makin terjamin, di sisi lain, fasilitas pejalan kaki dan kendaraan tidak bermotor ikut terputus pasca berdirinya jembatan layang tersebut. 

“Nah, salah satu solusinya ya membuka kembali. Tapi akan dikaji dulu apakah nanti sifatnya permanen atau sementara. Yang pasti hanya untuk pejalan kaki, sepeda, becak, dan delman, bukan yang lainnya,” tutur Sita. (ves/bun)

(rs/ves/per/JPR)

 TOP
Artikel Lainya
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia