Jumat, 06 Dec 2019
radarsolo
icon featured
Klaten

Sidak Bappeda di Pasar Tradisional Temukan Garam Yodium Rendah

02 Agustus 2019, 18: 27: 22 WIB | editor : Perdana

RUTIN: Pengujian garam yodium di Pasar Srago Klaten, Rabu (31/8).

RUTIN: Pengujian garam yodium di Pasar Srago Klaten, Rabu (31/8). (ANGGA PURENDA/RADAR SOLO)

Share this      

KLATEN – Badan Perencanaan Penelitian dan Pengembangan Daerah (Bappeda) Klaten intensifkan pengawasan peredaran garam beryodium di sejumlah pasar tradisional. Menggandeng Tim Pelaksana Penanggulangan Masalah Gizi (PMG) Klaten. Paling gres, digelar inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Srago, Kelurahan Mojayan, Kecamatan Klaten Tengah, Rabu (31/8).

Sebelumnya, sidak menyasar Pasar Babad di Kecamatan Trucuk, Pasar Sidoarjo di Bayat, dan Pasar Tempursari. Termasuk Pasar Induk Klaten dan Pasar Srago. Pengawasan ini bertujuan untuk mencegah peredaran garam yang kadar yodiumnya rendah. Mengingat garam dengan kadar yodium rendah memicu munculnya sejumlah penyakit.

“Konsumen harus berhati-hati dan teliti saat membeli garam. Saat sidak sebelumnya di Pasar Babad, Desa Puluhan, Kecamatan Trucuk ditemukan garam yang kadar yodiumnya rendah. Bila tubuh kekurangan zat yodium, mengakibatkan penyakat kelenjar thyroid atau lebih dikenal gondok,” papar Analis Gizi Dinas Kesehatan (Dinkes) Klaten Anis Sih Retno, kemarin (1/8).

Selain itu, bahaya lainnya yakni tidak sempurnanya perkembangan kecerdasan anak. Serta pertumbuhan tubuh yang tidak normal. “Maka pengawasan yang dilakukan Bappeda dan Tim Pelaksana PMG Klaten ini kami apresiasi. Apalagi dengan melakukan pemantauan dan pengawasan peredaran garam di pasar tradisional. Agar pedagang dan masyarakat selaku konsumen mengetahui pentingnya garam beryodium bagi kesehatan,” jelas Anis.

Sidak juga melibatkan Asosiasi Produsen Garam Konsumsi Beryodium (Aprogakob) Kabupaten Pati. Diberi kewenangan melakukan pengujian garam. Perwakilan Aprogakob Kabupaten Pati Fembri Armoko mengaku ada satu merek garam yang kadar yodiumnya rendah.

“Kandungan yodium garam tidak sesuai Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 69 Tahun 1994 tentang Garam Beryodium. Tidak sesuai dengan Peraturan Menteri Perindustrian dan Perdaganagan No. 77/M/SK/5/1995 tentang Persyaratan Teknis Pengolahan, Pengawasan dan Pelabelan Garam Beryodium,” terang Fembri.

Ditambahkan Fembri, garam layak konsumsi harus mengandung komponen-komponen utama. Seperti zat natrium clorida (NaCl) minimal 94,7 persen. Kadar air laut maksimal 5 persen dan mengandung yodium antara 30-80 part per million (ppm). Atau mengandung 30-80 miligram yodium dalam 1 kg, serta senyawa-senyawa lainnya. (ren/fer)

(rs/ren/per/JPR)

 TOP
©2017 PT Jawa Pos Group Multimedia